F1 | Dewi, Edwin & Andre
1998
Bau gurih rempah ketumbar dan lengkuas sangrai membumbung halus di ruang tamu Bu Ila yang tenang. Sebuah piring seng berisi tiga potong bebek goreng bertekstur empuk terhidang di atas meja kayu yang beralas taplak rajut kusam. Dewi duduk membungkuk, menautkan jemarinya di atas paha dengan senyum canggung.
"Maaf ya, Bude..." suara Dewi mengalun pelan, matanya menatap taplak meja seraya mengelap jemarinya canggung. "Aku masih enggak enak... Cindy kemarin cuma sebentar di sini."
Bu Ila terkekeh halus. Perempuan paruh baya itu mengibaskan tangannya pelan di udara. "Alah, Wi, Wi... kok ya masih kepikiran gitu," potong Bu Ila lembut, matanya berbinar hangat. "Enggak usah diungkit-ungkit lagi. Kamu datang ke sini aja... Bude sudah senengnya bukan main."
Dewi melemaskan bahu-bahunya seraya tersenyum
"Ngomong-ngomong, Wi..." Bu Ila memajukan badannya sedikit, menatap Dewi. "Lina orangnya gimana? Sama enggak kayak yang diomongin orang-orang di pasar?"
Dewi menggeleng pelan, mengukir senyum tipis yang tulus. "Ehm, Mbak Lina itu baik banget, sih Bude. Rasanya aman... mirip Bude Ila kalau lagi ngerawat orang. Gosip orang-orang di luar sana itu benar-benar salah besar.” Ia berkata lahi, "Tapi jujur kaget, sih Bude... kayak, kok Mas Tri bisa mau tetanggaan beda desa. Oh! Belakangan ini kami sering banget pergi ke RSUD buat jenguk suaminya Lina, Mas... Mas Herman kalau enggak salah."
Bu Ila mengangguk-angguk kecil mendengarkan penuturan itu. Jemarinya mempermainkan ujung cangkir teh hangat di meja. Hening menyusup sejenak sebelum Bu Ila mengalihkan pandangannya, menatap mata Dewi lebih dalam. "Kalau rumah tanggamu sendiri gimana, Wi?”
Senyum di bibir Dewi mendadak membeku. Sejenak ia tanpa reaksi, menatap uap teh yang membumbung tipis.
"Kamu bebas bercerita apa pun di sini, Wi. Jangan dipendam sendiri."
Dewi menyentakkan sedikit bahunya, mencoba memoles kembali senyum yang sempat meluruh. "Enggak apa-apa kok, Bude. Rumah tangga bi-asa. Ya... aman-aman gitu."
Bu Ila tidak memalingkan wajah. Tangannya yang hangat mengulur, meremas lembut punggung tangan Dewi yang terasa dingin di atas meja. "Kamu enggak mungkin datang jauh-jauh ke sini cuma buat ngantar sepotong daging bebek, Wi." Napas Dewi memburu. “Sebelum Cindy kamu pindahin ke Lina juga sudah ngasih Ibu banyak banget. Kamu sungkan banget mau mindahin anakmu itu. Setelah beberapa bulan lamanya enggak ada kabar, bude kaget kamu ke sini lagi.”
Dewi menatap jemari Bu Ila yang mengunci tangannya. Dadanya berdesir aneh, namun ia mencoba tertawa kecil menutupi getar di tenggorokannya. "Memang, apa yang bikin Bude sampai kepikiran kayak gitu?"
Raut wajah Bu Ila berubah keruh. Ia menatap Dewi dengan pandangan sarat kasihan dan kecemasan yang dalam. "Waktu Cindy masih di sini..." suara Bu Ila berupa bisikan yang tertahan di tenggorokan. "...dia pernah cerita ke Bude. Waktu main ke rumah Lina dulu, dia enggak di bolehin masuk ke kamar. Tahu kenapa? Tri sama Lina lagi nangkep tikus di dalam kamar."
Dewi tidak berkedip.
Bu Ila segera melanjutkan, “Ya... tapi namanya anak. Eum, sekitar sini kayaknya memang lagi banyak hama, kan Wi? Rumahku —”
Suara detik jam dinding dan desir angin sore di luar jendela mendadak lesap tanpa sisa. Lidahnya kelat, tenggorokannya mendadak mengering rapat. Ia menelan ludahnya yang terasa berat, seraya berjuang keras menahan air hangat yang perlahan membendung dan menggenang di pelupuk matanya.
=---=
2014
Sebelum menyentuh tumpukan perkakas, Edwin dan Atha selalu melakoni ritme rutinitas konyol, berebut gayung untuk membasuh lengan yang lengket oleh air laut, dilanjut aksi saling sikut merebut tang kombinasi favorit yang gagangnya sudah terkelupas. Keduanya seperti dua roda gigi yang saling mengunci dan berputar dalam ritme yang sama.
Keheningan kerja mendadak pecah saat Edwin membungkuk dalam-dalam, meneliti jalur kabel selang di dekat karburator. Atha yang berjongkok di sisinya pelan-pelan mencelupkan ibu jarinya ke dalam wadah pelumas bekas, lalu dengan satu sentakan kilat mencolekkan oli hitam itu tepat di pipi kanan Edwin.
“Eh.” Edwin terkejut.
Atha antisipasi dari kejaran Ayahnya yang masih memegang obeng dengan selama beberapa detik. Edwin tergelitik menatap ekspresi Atha yang berusaha keras menahan tawa sampai pundaknya berguncang. Begitu sadar wajahnya dijadikan kanvas, Edwin terkekeh geli, menyambar lap kusam yang pekat oli lalu mengusapkannya tanpa ampun ke dahi Atha hingga melukis coretan hitam yang lebih lebar.
Gelian tawa mereka bergema menembus dinding-dinding gudang. Tak puas hanya perang oli, Edwin yang sedang memegang kabel busi mendadak menjerit, meragakan tubuhnya yang berguncang hebat seolah-olah "kesetrum" arus listrik rakitan. Wajah Atha seketika pucat pasi, matanya membelalak panik hendak menyambar kayu untuk memukul tangan Ayahnya. Namun belum sempat kayu terangkat, Edwin meledak dalam tawa lepas, meninggalkan Atha yang bersedekah tangan seraya menyumpah-nyumpah.
“Lah, bohong ternyata,” ujar Atha. Edwin gemas melihat gurauan jahil yang berhasil memancing paniknya.
Progres komponen-komponen besi itu bahkan punya julukan konyol mereka sendiri, regulator gas LPG yang terpasang di atas kerangka dijuluki "Si Bulet", sementara membran selektor rakitan mereka dipanggil "Si Gepeng".
Sambil mengencangkan klem selang, Atha menepuk bodi mesin seraya menantang Edwin taruhan dua bungkus es lilin untuk siapa yang paling cepat membuat "Si Bulet" mengalirkan gas tanpa bocor.
“Siapa takut,” ucap Edwin, “Ingat, ya... Ayah lebih lama beginian.”
“Ih, sombong. Liat saja.”
Hari demi hari berlalu, dan tanpa terasa, bentuk fisik motor rakitan bertenaga gas itu makin utuh, kian dekat menuju hari uji coba utama.
"Eh-eh enggak meledak itu?"
“Kalau meledak ya... yaudah,” jawab Edwin disambung tawa.
Pak Anton melangkah mendekat, memicingkan mata menatap tumpukan tabung LPG hijau dan bentangan selang yang rumit dengan raut skeptis yang memancing tawa. "Eh, Win.”
Edwin menengadah menatap Pk Anton yang berdiri.
“Mending selangnya dikencangkan pakai karet gelang sepuluh lapis.”
Edwin menatap ke arah selang, “kenapa, Pak?”