MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #14

F2

 

F2 | Dewi

 

1998

Sinar sore yang temaram menyusup melalui sela-sela tirai lusuh, membiaskan bintik-bintik debu yang mengambang statis di udara. Aroma yang menyengat dingin di ruang bangsal RSUD mengendapkan suara. Di atas ranjang besi yang catnya mulai mengelupas, Herman terbaring ringkih. Napasnya terdengar patah-patah, sangat tipis, menyatu dengan bunyi desis samar dari selang oksigen yang melekat kusam di hidungnya.

Dewi melangkah pelan mendekati sisi ranjang, memecah keheningan yang serasa membeku. Tanpa bersuara, ia mengulurkan tangan dan meletakkan seplastik buah jeruk dan apel di atas meja. Matanya menyapu sosok pria yang makin mengering di balik selimut tipis tersebut. Merasa ada yang datang, Herman membuka kelopak matanya dan melirik ke arah Dewi.

"Mbak Lina di mana, Mas?" bisik Dewi pelan.

Bibir Herman yang pecah-pecah bergerak sangat lambat. Mata cekungnya perlahan melirik ke arah plafon bangsal, butuh waktu beberapa detik hanya untuk mengumpulkan sisa tenaga di tenggorokannya. "Tiga hari ini..." suara Herman amat lirih, parau. "...belum ke sini."

Dewi membatu. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan hawa dingin ruangan itu menyusup menusuk paru-parunya. Dewi melangkah satu tapak lebih rapat ke sisi tempat tidur, menundukkan tubuhnya sedikit hingga wajahnya berada di jangkauan pandang Herman.

"Mas..." panggil Dewi, suaranya memelan namun sarat tekan intonasi yang dingin. "Lina sering banget enggak jenguk ya?”

Herman diam, mengedipkan mata dengan sangat perlahan.

“Mbak Lina jualan di kampung... jumlahnya enggak seberapa, tapi selalu laris. Kebanyakan pembelinya dari Surabaya." Dewi menatap lekat-lekat garis-garis keriput di wajah Herman yang kian pucat. "Kalau memang pasarnya di sana..." lanjut Dewi. "...kenapa kalian enggak pindah dan tinggal di Surabaya sekalian? Kenapa repot-repot pindah ke sini?"

Pertanyaan itu mengendap di udara.

Dada Herman naik-turun sangat lambat. Secara perlahan, kepala Herman yang terkulai di atas bantal kusam menggeser posisinya. Bola matanya yang kusam dan mengeruh mengarah tepat ke wajah Dewi. Tak ada kedipan, tak ada riak emosi yang tersisa, hanya sepasang manik mata yang kosong. Herman menatap Dewi lurus-lurus.

Dewi memiringkan kepalanya sedikit, menunggu jawaban.

 

---

 

Asap rokok melayang-layang tipis di gubuk kayu. Di atas meja rendah, sebuah papan catur kusam menjadi pusat kegaduhan. Bagas mencongkel benteng kayu dengan jari jempolnya seraya tertawa ledekan, sementara Yon mengumpat gemas sambil menepuk pahanya kencang.

"Maju pionmu itu, Yon! Biar mampus sekalian kuda si Tri!" seru Bagas bersemangat.

"Enggak usah ngatur! Ini aku geser menteri, mampus!" balas Yon tak mau kalah, memindahkan bidaknya dengan benturan kencang ke papan.

Pak Tri kekeh lebar, tangannya yang memegang kuda kayu terangkat santai ke udara. "Halah, kelamaan mikir kalian berdua. Kuda melompat... skakmat!"

Gelak tawa meledak liar menembus keheningan sore, diselingi umpatan Yon yang kesal karena kalah telak. Di tengah keriuhan yang pecah itu, Dewi berdiri beberapa langkah dari samping meja, menatap ketiga pria itu dengan raut wajah yang membatu. "Mas Tri... sini bentar," panggil Dewi.

Pak Tri sama sekali tidak memalingkan kepala, jarinya sibuk menata kembali bidak-bidak kayu yang berserakan. "Nanti dulu, Wi! Entaran kok pulangnya."

"Sebentar aja!" ulang Dewi, ia geram.

Bagas dan Yon masih saja terkekeh-kekeh, memprovokasi Pak Tri untuk menyusun ulang papan tanpa memedulikan panggilannya.

"Mas!" untuk ketiga kalinya suara Dewi memanggil, namun tetap saja diabaikan oleh Pak Tri yang sibuk memegangi raja kayunya. Tanpa mengumbar kata lagi, langkah Dewi menyambar rapat ke tepi meja. Jemarinya mencengkeram sudut papan kayu kusam itu, lalu dengan satu sentakan kencang.

BRAK!

Ia menjungkirbalikkan papan catur tersebut ke udara. Bidak-bidak kayu terlempar berhamburan, menghantam lantai semen dan menggelinding liar ke segala arah.

Keributan tawa langsung mati seketika. Bagas dan Yon melompat mundur terkejut, sementara Pak Tri menyentak badannya berdiri. Matanya melotot tajam dihantam amarah yang mendadak meledak. "Apa sih, Wi?! Ganggu aja orang lagi asyik!" bentak Pak Tri dengan wajah merah padam.

 

---

 

Herman menghela napas berat, napasnya yang patah-patah tersedat di tenggorokan. "Aku minta maaf ya, Wi... Aku cuma mikir pengobatan di RSUD yang dibayari Tri bakal buat aku cepat sembuhnya. Yang ada... malah begini."

Dewi mengerutkan dahinya, matanya melotot kaget. "Hah...? Sejak kapan Tri ngebayarin biaya rumah sakitmu?”

Herman melirik, matanya yang redup menatap Dewi bingung. "Lho... Kamu... Kamu enggak tahu, Wi?"

Dewi menggeleng cepat, dadanya mendadak berdebar kencang.

“Begitulah pokoknya.”

“Apanya yang begitu, Mas?”

Herman memejamkan matanya.

“Lina berselingkuh dari Mas. Mas tahu?”

Herman membuka matanya.

“Mas enggak tahu?”

"Tahu,” jawab Herman tegas dengan pelan.

Lihat selengkapnya