F3 | Cindy
2016
Langkah kaki Cindy memelan saat rombongan kecilnya tiba di sudut pelataran rumput. Di sekeliling mereka, halaman luas kampus dipenuhi riuh tawa keluarga lain yang tampak sibuk berpelukan, merapikan toga anak-anak mereka, serta bertukar senyum hangat di bawah paparan terik matahari. Cindy berdiri di tengah halaman, lalu pelan-pelan melemparkan pandangannya menyapu satu per satu sosok yang berdiri menunggunya.
Atmosfer di sekitarnya mendadak terasa begitu hampa, tak ada binar yang hangat. Bapak berdiri beberapa langkah di sampingnya, memegang telepon genggam rapat-rapat di telinga seraya berbicara mengenai urusan kerjaan. Di sebelah, Lina sibuk menunduk, jemarinya mengetik pesan di layar ponsel dengan hati-hati, tanpa memedulikan sekelilingnya sedikit pun. Suasana wisuda yang seharusnya menjadi puncak selebrasi keluarga meluruh begitu saja.
Pandangan Cindy akhirnya bergulir dan terkunci rapat pada Andre.
Adiknya itu berdiri mengenakan kemeja yang rapi. Matanya menatap hampa ke arah rumput basah, berdiri dengan bahu merosot. Cindy menghela napas pelan. Ia melangkah satu tapak lebih dekat mendekati adiknya.
"Ndre..." anggil Cindy, suaranya mengalun canggung di tengah bising suara fotografer di kejauhan. "Pnas banget kan, ya?"
Andre tersentak tipis. "ya." Jawabnya, lalu menarik keluar ponsel dalam sakunya, lalu menundukkan kepala karena layar itu tak terlihat di bawah terik matahari.
Cindy terpaku.
=---=
2014
Cindy berdiri tegak dengan mata membelalak dingin. "Bu... nilai Andre kok bisa turun begini?"
Ibu yang sedang melipat pakaian hanya melirik sekilas, lalu kembali menggerakkan tangannya.
“Ini lebih parah dari —“