MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #16

G1

 

G1 | Tri

 

Aroma tembakau yang mengendap di kemeja Tri mendadak menguap, tergilas oleh uap aroma parfum menyengat pada pakaian Eko—yang sedang membolak-balikkan lembaran kertas laporan keuangan di atas meja kayu. Tri bergeming di kursi kayunya, menautkan jemarinya di atas meja seraya menatap lurus ke arah kancing kemeja Eko yang terbuka separuh.

Eko melempar tumpukan kertas itu tepat ke hadapan Tri. Lembaran-lembaran putih itu berhamburan, beberapa di antaranya tersapu angin hingga mendarat di atas lantai.

"Lihat ini," kata Eko, suaranya mengalun rendah, sarat akan tekanan dingin yang merayap. "Ikan-ikan dari perahu Edwin mutunya bersih, enggak ada yang busuk di es kayak setoranmu. Permintaan pasar di Surabaya membludak cuma gara-gara tangkapan budak yang kamu pecat itu."

Tri tidak menyentuh kertas-kertas di mejanya. Rahangnya mengetat halus, hanya matanya yang bergulir mengikuti gerakan Eko yang kini berjalan melangkah mengitarinya.

"Gini kamu bilang bangga jadi tengkulak?" lanjut Eko, memiringkan kepalanya seraya mengetuk-ngetukkan telunjuknya ke sandaran kursi Tri dari belakang. "Aku terpaksa mindahin anak buahku sendiri cuma buat ikut melaut bareng Edwin. Tuh bocah tahu cara kerja. Mesin LPG rakitannya sudah kupasang di semua perahu cadangan nelayan yang kupegang di sini. Dan mulai besok, Edwin kubawa ke Surabaya. Dia bakal kupegang penuh buat proyek kapal."

Tri mengepal jemarinya di bawah meja. Tatapannya membeku pada retakan semen di lantai, sementara dada pria itu naik-turun sangat lambat. Eko tertawa—sebuah dengus napas pendek yang hampa dari rasa geli. Ia melangkah kembali ke depan meja, menundukkan badannya hingga jarak wajah mereka hanya tersisa sekilan.

"Dulu si Dewi juga sama, kan?" bisik Eko, matanya memicing menatap mata Tri. "Dewi dulu memprotes hal yang sama. Dia bahas soal suku bunga, soal potongan setoranmu yang enggak masuk akal. Demi apa? Demi cinta yang katanya beda itu.” Tri menatap tajam Eko. “Kenapa? Benar, kan? Cewek yang morotin duit, sampai sekarang juga masih.”

“Mas, tapi —“

“Dulu,” potong Eko, “kamu berhasil membungkam mulut istrimu sampai angkat kaki. Tapi pas Edwin... cara murahanmu nyatanya enggak mempan."

Eko menyentak lengan kanannya ke udara, mengepalkan tinjunya kencang-kencang seraya mengayunkannya cepat, berhenti tepat beberapa milimeter di depan batang hidung Tri. Hembusan angin keras dari ayunan tangan itu menyapu dahi Tri.

Tri tidak bergeming, hanya kelopak matanya berkedip, bersiap diri.

Eko menurunkan tangannya perlahan.

"Aku enggak bakal kayak dulu," suara Tri meluncur tenang, sangat datar. "Aku bakal nyelesain ini. Apa pun yang terjadi."

Eko mengamati raut di hadapannya seraya menggeleng tipis. "Aku ragu," sahut Eko singkat. Ia berkata lagi, "Dari dulu, kamu belum pintar buat menyembunyikan kesalahan, dan masih aj kayak bocah ingusan. Ingat umur, dong."

Eko berbalik, melangkah mendekati rak kayu berisi tumpukan berkas kusam, lalu menyandarkan pinggulnya di sana. Ia merogoh saku kemejanya, menarik keluar sebatang rokok, lalu menyulutnya dengan pemantik gas. Asap putih membumbung, membiaskan bayangan wajahnya yang samar di bawah remangnya lampu.

"Ngomong-ngomong..." Eko menghentikan gerakan apinya, memiringkan kepala menatap Tri dari balik gumpalan asap. "...si Edwin itu... suka sama Cindy?"

Keheningan mendadak merayap di dalam ruangan itu. Detik jam dinding tua di sudut tembok terdengar makin keras, mengetuk-ngetuk keheningan yang kian pekat. Tri membisu, menahan detik demi detik yang mengalir berat. "Itu ndak benar," sahut Tri akhirnya.

Eko menyemburkan asap rokoknya ke udara, meledakkan tawa kecil yang terdengar sangat lepas di tengah kesunyian malam. "Malah bagus kalau benar," kata Eko, mengibaskan abu rokoknya sembarangan ke atas lantai. "Lumayan... buat ngurus tambak di Sidoarjo."

Paru-paru Tri terasa menyempit, kedua tangannya meremas kain di atas lutut hingga membentuk lipatan kusut.

 

Lihat selengkapnya