MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #17

G2

 

G2 | Cindy

 

2016

Suara gesekan dedaunan kering yang tersapu angin beradu dengan gemeretak seng tua di atas atap warung kayu yang lengang. Di balik meja kayu yang kusam, dua cangkir teh yang mulai mendingin menyisakan asap tipis yang meliuk kencang dihantam pendar angin. Cindy memutar-mutar lingkar cangkirnya.

"Kemarin aku ketemu Bude Ila," ujar Cindy, suaranya terkikis oleh deru angin. Edwin yang sedang mengamati deretan paku di permukaan meja mengangkat pandangannya singkat, menyisa lipatan tipis di dahinya.

"Siapa?" tanya Edwin datar.

"Orang yang dulu pernah merawatku... sebelum aku dititipin sama Ibu yang sekarang," lanjut Cindy, jemarinya merapat kaku mengusap permukaan keramik cangkir.

Edwin melipat kedua lengannya di atas meja lalu mengangguk pelan. "Ooh."

Senyum tipis terukir di bibir Cindy. Ia mendongak, menyapu raut tenang pria di hadapannya. "Sudah kesebar ya cerita itu?"

"Hm? Enggak, kok," sahut Edwin tegas, matanya mengunci tatapan Cindy tanpa kedip sedikit pun.

Cindy menghembuskan napas pendek, mengarahkan pandangannya kembali ke luar warung.

"Aku bakal dipindahin ke Surabaya," sela Edwin, suaranya rendah namun memutus bentangan cerita Cindy dengan telak.

Cindy tersentak tipis. Alisnya bertaut. "Tumben Bapak mindahin orang? Biasanya... main pecat."

Edwin menggeleng pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi bambu. "Bukan Bapakmu. Pak Eko." Cindy menganggukkan kepala lambat-lambat, raut heran di wajahnya luntur berganti paham. "Benar katamu waktu itu," tambah Edwin, menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. "Surabaya punya peluang lebih besar... buat orang yang megang mesin kayak aku."

“Iya.” Cindy mempererat pegangannya pada cangkir teh yang kini tak lagi beruap. "Berarti... enggak bakal ketemuan lagi? Enggak bakal balik ke sini?"

"Kemungkinan balik ya ada," jawab Edwin terus terang, menatap lurus ke dalam manik mata Cindy. "Cuma... enggak bakal menginap lagi kayak kemarin-kemarin."

"Siapa saja yang ikut?"

"Beberapa anak buahku sama Pak Anton. Ada sepuluh orang, kira-kira."

Keheningan tebal mendadak membungkus mereka berdua. Di luar warung, langit sore telah meredup total, berganti dengan selimut abu-abu gelap yang pekat. Hembusan angin badai meraung makin liar, menggoyangkan ranting-ranting pohon dan menerbangkan dedaunan. Keduanya membisu, membiarkan gemuruh rendah dari arah laut menjadi satu-satunya latar yang merajai atmosfer di antara mereka.

Cindy tiba-tiba meluruskan posisi duduknya. "Oh, iya..." Cindy mencondongkan badannya sedikit, menatap wajah Edwin. "Dulu Mas pernah bilang... datang ke sini karena ada urusan. Berarti... urusan Mas di sini sudah selesai?"

Edwin mematung. Jemarinya yang menempel di atas meja berhenti bergerak. Pria itu membisu cukup lama. Setelah menelan ludahnya, ia menjawab pelan, "Belum.”

Cindy mengerutkan keningnya, menatap bingung. "Kenapa mau pindah kalau belum?"

"Aku masih ragu," balas Edwin singkat.

Pandangan Edwin tidak beralih. Pria itu mengunci tatapannya rapat-rapat ke wajah Cindy. Hening yang merayap di antara mereka berubah menjadi tatapan mata yang kikuk. Cindy menggeser duduknya, menurunkan pandangannya ke atas meja dengan gerakan canggung, mencoba menghindari tatapan yang menghujamnya tersebut.

Lihat selengkapnya