G3 | Tri
Bulir-bulir air hujan yang jatuh menghantam kulit terasa tajam dan menyengat perih dan gemuruh yang memekakkan telinga. Raungan mesin sepeda motor Tri mendadak terhenti saat siluet tubuh Edwin melompat keluar dan menghantamkan badannya tepat ke arah roda depan kendaraan tersebut.
BRAK!
Logam beradu dengan semen, disusul suara gesekan keras yang memercikkan air ke segala arah. Motor Tri terpelanting miring, terseret beberapa meter di atas permukaan jalan yang licin. Tri melompat dari pijakan, kakinya mendarat kasar di atas genangan air seraya menahan keseimbangan. Matanya membelalak menyalang.
Di atas paving yang basah, Edwin tersengal kaku. Kain celananya robek di bagian lutut hingga betis, memperlihatkan baret panjang yang terlukis darah segar dan terasa membakar—terbilas cepat oleh guyuran air hujan.
Tri melangkah lebar, menghampiri Edwin yang berusaha menegakkan dadanya dengan tumpuan siku yang gemetar.
"Bocah tengik!" bentak Tri, suaranya membelah gemuruh hujan yang makin brutal. Hantaman tinju itu mendarat telak di rahang Edwin, menyentakkan wajah pemuda itu hingga tersungkur kaku. "Goblok-goblok-GOBLOK!"
Edwin tak bersuara. Napasnya kembang-kempis memburu, jemarinya mengepal kencang di atas celah-celah semen yang dingin seraya menahan ngilu yang menjalar dari kakinya yang berdarah.
Tri memiringkan kepalanya, menunduk hingga jarak wajahnya amat dekat dengan Edwin. Matanya mengunci rapat raut pemuda itu dengan kebencian kental. "Ngancurin hidup aku enggak kurang, hah?! Sekarang nambah hamilin anakku, hah?!" jerit Tri, rahangnya mengetat hebat hingga urat-urat di lehernya menegang menembus guyuran air.
Bibir Edwin bergerak, hendak merangkai patahan kata. "Pak, bukan—"
Belum sempat ujaran itu terlempar tuntas, kepalan tangan Tri menyambar kasar.
Bibir Edwin bergerak, merangkai patahan kata di tengah desis napasnya yang memburu. Tatapannya menajam, mengunci mata Tri tanpa ada surut keberanian sedikit pun.
" Apanya hamil?!" tembak Edwin, suaranya tersendat.
BUP!
Belum sempat tuduhan itu tuntas meluncur, kepalan tangan Tri menyambar kasar, menghantam telak pelipis kanan Edwin. Edwin mencoba menangkis, mengangkat kedua tangannya kaku untuk melindungi area kepala.
BUP!