MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #19

H1

 

H1 | Andre

 

2016

Cahaya mentari siang menembus celah-celah ventilasi kayu, membiaskan garis-garis emas yang hangat di atas permukaan kasur kapuk tanpa alas. Udara di dalam kamar Andre terasa hangat dan lengket, dibalut hening yang hanya disinggahi oleh desis kipas angin tua di sudut ruangan. Mia menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang dingin, menatap Andre yang berlutut di hadapannya. Tanpa riak ragu, Andre memajukan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam sebentuk ciuman hangat yang lambat namun kian memburu. Jemari Mia merayap ke tengkuk Andre, meremas pelan helai-helai rambutnya saat tautan itu kian dalam.

Satu peratu helai kain baju terlepas dari tubuh, terhempas ke atas lantai. Sentuhan kulit beradu kulit mengalirkan sensasi panas yang kian cepat memangkas jarak di antara mereka. Di bawah temaram siang yang mengintip dari celah tirai, desah napas yang beradu kian memburu, menyatu dalam ketukan ritmis napas dan pergerakan tubuh yang saling mengunci di atas pembaringan.

Waktu seolah melambat saat guncangan panas itu perlahan mereda. Keduanya akhirnya terkulai lemas, rebahan berdampingan tanpa selembar benang pun yang melekat di kulit. Dada Andre kembang-kempis menata deru napasnya, sementara peluh tipis membasahi pelipis dan celah leher Mia yang bersandar di lengan kirinya.

Andre memiringkan kepala, menatap wajah Mia yang memerah disiram hangat siang. "Mau minum?" bisiknya parau. Mia mengangguk tipis dengan kelopak mata yang setengah terpejam.

Andre menggeser tubuhnya lambat-lambat, mengayunkan kedua kakinya turun menapak ubin dingin di samping tempat tidur.

Siluet Cindy berdiri tegak di ambang pintu, pandangan matanya membelalak, memaku lurus pada pemandangan di dalam ruangan.

Panik merenggut seluruh kesadaran keduanya. Mia menyambar sarung melilit di ujung kasur, menariknya kencang-kencang untuk menutupi bagian dadanya yang terbuka. Sementara itu, Andre yang mendadak melompat dari tepi ranjang secara refleks merapatkan kedua telapak tangannya kaku di depan pangkal paha.

 

 

---

 

2016 – Sebelum ke Surabaya

Angka digital di layar ponsel menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh menit dini hari, memancarkan sinar redup di sudut kamar yang gelap. Andre duduk membungkuk di atas kasur, memeluk rapat kedua lututnya ke dada. Jemarinya mencengkeram selembar kertas kusam bertuliskan bait-bait puisi yang kian memudar. Saat dering telepon memecah sepi, Andre tidak begitu berselera untuk mengangkat.

Namun pengabaiannya memunculkan dering telepon kedua. Andre menggeser layar dan menempelkan ponselnya ke telinga tanpa mengubah posisi. Dari seberang sambungan hanya terjadi jeda panjang yang dibiarkan mengalir begitu saja oleh Andre. Dia tidak ada niatan memulai obrolan. Andre meluruskan pandangannya ke baris-baris puisi di atas kertas, membiarkan detik demi detik mengalir.

"Di mana?" suara parau Mia akhirnya memecah keheningan.

"Rumah," sahut Andre singkat.

Kembali, jeda panjang merayap kaku di antara saluran telepon. Andre menyandarkan dagunya di atas tempurung lutut, mendengarkan deru angin malam yang bergesekan dengan kawat kasa jendela.

"Aku... aku siap, Ndre," bisik Mia dari seberang sana.

Jemari Andre yang memegang kertas terhenti.

"Siap apa?"

"Aku baca salah satu puisimu," lanjut Mia. "Aku setuju sama baitmu."

Andre mematung kaku. Bibirnya terkatup rapat, pandangannya terpaku pada tulisan tinta hitam di pangkuannya.

"A-aku ternyata... ternyata siap jatuh bersamamu." Kalimat itu menghantam dada Andre. Ia tidak melempar jawaban. Ia membiarkan napasnya bersatu dengan desis saluran seluler di telinganya. Sentakan napas Mia terdengar tipis di balik speaker. "Mbakmu tadi datang ke tempat kerja."

"Jadi itu alasanmu enggak angkat telepon tadi?" potong Andre, alisnya bertaut.

"Dengerin dulu," sela Mia pelan. "Mbakmu ngasih aku test pack."

“A-a.” Dada Andre kembang-kempis memburu kencang, “apa?” Rahangnya mengetat keras.

"Aku disuruh mencobanya. Tapi pas aku masuk ke kamar mandi... enggak lama aku keluar lagi." Andre menegakkan punggungnya lambat-lambat, memindahkan ponsel rapat-rapat ke daun telinganya. "Aku bilang ke Mbakmu... aku kepikiran soal hal yang lebih serius," lontar suara Mia, bernapas pendek-pendek di balik sekat telepon. "Dan itu bukan karena hubungan seks kita kemarin."

"Tapi, kenapa kamu kok mau diajak —"

"Test pack itu aku balikin lagi, Ndre," potong Mia cepat, tak memberi celah bagi Andre untuk melanjutkan tegurannya.

"Apa sih? Sekalipun begitu. Ah! Aku udah bilang kan, jangan sampai kamu ketemu Mbakku —"

"Dia dukung," tekan Mia. "Mbakmu dukung kita, Ndre! Dia enggak mau kita dibenci sama orang tuamu... makanya dia berusaha ngelindungi. Tapi kamu malah ngeblokir nomornya."

"Kalian enggak ke puskesmas?"

"Enggak," jawab Mia. "Kita cuma ngobrol."

"Kalian bahas puisiku?"

Lihat selengkapnya