MEPET DINDING

ALDEVOUT
Chapter #20

H2

 

H2 | Edwin

 

2016

Kabin mobil pick-up bergetar hebat saat roda-rodanya menghantam celah-celah jalanan yang tak rata. Bau tajam bensin yang menyengat beradu kental dengan amis darah yang mengering di pelipis. Kesadaran Edwin merayap keluar dari kegelapan—sangat tipis. Kelopak matanya yang bengkak dan berat terangkat segaris, membiaskan pandangan jalan secara samar dan kabur. Pandangannya bergoyang liar.

Edwin menggerakkan rahangnya yang retak kaku, sebuah erangan parau dan putus-putus lolos begitu saja dari tenggorokannya.

"Eh-eh! Dengar?!" jerit suara pria dari samping Edwin.

"Bentar-bentar-bentar, kurang dikit lagi sampai!" sahut pengemudi, tangannya cengkeram setang kemudi semakin kencang seraya menghantam pedal gas lebih dalam.

Sentakan mendadak mobil yang melaju kencang membuat kepala Edwin terlempar pasrah menghantam dinding kabin. Retakan kilau cahaya di mata Edwin bergetar. Bayangan wajah-wajah panik itu meliuk-liuk bagai cairan yang tumpah. Suara bentakan, deru mesin, dan guncangan keras kendaraan perlahan menyusut, meredup menjadi dengung panjang yang berdenging di dalam telinganya.

Kelopak matanya yang tak bertenaga kembali rapat ke dalam hamparan hitam yang pekat.

 

---

 

Ketika Termenung di Sore Hari

 

---

 

2000

Garis-garis bayangan gerbang besi sekolah terpampang di atas tanah. Edwin merapikan seragam putih-birunya. Dewi mengulas senyum tipis seraya menyangga pinggangnya. Kaos longgar yang dikenakannya terdorong maju oleh bentuk perut yang membulat besar.

Edwin memutar badan, meraih jemari wanita itu lalu menyentuhkan punggung tangannya ke dahi. Usai salim, ia menundukkan kepala sejajar dengan lingkar perut di hadapannya, menepuknya pelan dua kali.

"Berangkat dulu ya, Adek. Jangan nakal di dalam," bisik Edwin tipis. Ia mengibaskan telapak tangannya ke arah perut itu sebelum berbalik berlari menembus kerumunan siswa.

Hari berganti bulan, meniti waktu yang kian menyita tenaga. Kalender tua di dinding terus berganti lembaran, seiring langkah Dewi yang mulai melambat dan napasnya yang makin kerap tertahan oleh beban di perutnya.

Dewi memegang keningnya, memejamkan mata rapat-rapat di tengah kepulan uap sayur yang belum selesai diracik. Napasnya terengah pendek-pendek, menyisakan jemarinya yang gemetaran saat mencengkeram tepi pintu dapur untuk menahan bobot tubuhnya yang kian cepat lelah.

Perut yang kian membuncit sarat itu tak hanya menampung kehidupan baru, tetapi juga perlahan menguras habis sisa daya di tubuh Dewi, menyisakan keletihan yang memucat.

Pada suatu sore, ubin semen di lorong rumah Emak terasa dingin membeku di bawah telapak kaki Edwin yang tak bertali. Pria muda itu memeluk lututnya di atas lantai, memaku tatapannya pada lembaran kain sarung yang tergantung menutup pintu kamar. Dari balik kain, erangan beradu dengan desakan napas berat yang saling bertubrukan. Suara lengkingan panjang tiba-tiba membelah keheningan rumah, disusul jeritan payah yang surut seketika. Hening merayap sejenak—sebelum akhirnya lengkingan tangis bayi pecah.

Punggung Edwin menegak. Senyum tipis yang baru saja menyungging di sudut bibirnya mendadak membeku.

"Ibu? Ibu... dengar suara saya?" Suara Bidan dari balik kain penutup terdengar meninggi, diiringi ketukan tepukan telapak tangan yang memburu pada permukaan kulit. "Ibu, buka matanya. Dikit lagi, Bu. Ibu! Bu!"

Tak ada sahutan. Hanya suara gesekan kain yang tergesat-gesat dan dengung napas panjang Bidan yang makin tidak beraturan. Tangisan bayi di dalam ruangan terus mengalun nyaring, bergema di antara panggilan demi panggilan yang melempai tanpa pernah mendapatkan jawaban.

 

---

 

Demam tidak pandang cuaca

Selimut tebal gerah tanpanya merana

 

---

 

2001

Edwin menyorongkan mobil-mobilan kayu kusam ke arah Atha. Bocah kecil itu merangkak riang, menepuk-nepuk lantai seraya meraih mainan tersebut. Tangannya yang mungil menggenggam ujung kayu, lalu kepalanya terangkat menatap Edwin lurus-lurus.

"A-a-a-ah..." oceh Atha pelan, suaranya mengalun bening. “Aa-a-ah” Jemari Edwin yang masih menempel di atas tikar mendadak membeku. Tenggorokannya naik-turun, namun tak ada patahan kata yang sanggup lolos dari bibirnya.

Langkah kaki Emak yang terseret melintasi ambang pintu menyertai derit engsel kayu. Wanita tua itu meletakkan kaleng susu di atas meja, lalu menyapu pelipisnya yang basah oleh peluh. "Duh, cuacanya panas betul. Untung tokonya masih buka," keluh Emak seraya melangkah ke sudut ruangan untuk menyambar termos.

Edwin sama sekali tak berpaling. Matanya menancap pada wajah polos Atha yang kini sibuk memutar roda mobil-mobilan. Genangan air hangat perlahan membendung di pelupuk matanya, membuat bayangan anak di hadapannya mengabur dan meliuk kusam.

Emak mencabut sumbat gabus termos, menuangkan air panas ke dalam botol plastik, lalu mengocok bubuk putih di dalamnya hingga larut. Saat ia berbalik dan mendapati bahu Edwin yang bergetar tanpa suara, gerakannya terhenti. Wanita tua itu meletakkan botol susu ke meja, lalu melangkah mendekat.

"Win?"

"Aku enggak mau ngelihat Atha kayak gini, Mak..." bisik Edwin parau. Isakan kecil lolos dari dadanya.

Bibir mungil Atha terikut melengkung ke bawah, dan detik berikutnya, lengkingan tangis bayi pecah memenuhi ruangan. Emak bergegas berlutut, meraih tubuh Atha ke dalam gendongannya seraya menimang-nimang pelan. Matanya melirik tajam ke arah Edwin. "Jangan nangis di depan Atha, Win," tegurnya, seraya mengangsurkan dot ke mulut Atha hingga tangisan itu berangsur surut menjadi sedu-sedan tipis.

"Mak, dulu aku juga sendirian, Mak... enggak punya siapa-siapa, enggak ada orang tua," tutur Edwin putus-putus di balik celah jemarinya. "Kenapa harus Mbak Dewi yang diambil? Dia enggak salah apa-apa?"

Emak membisu. Ia mendudukkan Atha di sampingnya, lalu menggeser tubuhnya mendekati Edwin. Tangannya yang terulur, mengusap lembut punggung lebar Edwin yang kini tergugu kaku itu. Emak merengkuh kepala Edwin, menariknya kencang ke dalam dekapan hangat dadanya—membiarkan tangis kepedihan itu tumpah sepenuhnya di balik kain jarik yang ia kenakan.

 

---

 

Sehat melanglang buana

Sakit membuang rencana

 

---

 

2004

Bau ragi dan hangat mentega yang baru matang menguar memenuhi area toko roti saat Edwin menggeser pintu kayu. Ia melangkah masuk menyipitkan pandangan menatap sosok wanita tua yang sibuk menyusun loyang-loyang kusam di balik etalase kaca.

"Mak," panggil Edwin di antara denting nampan besi. "Atha lolos administrasi PAUD-nya."

Jemari Emak yang memegang jepitan roti langsung memutari meja kasir, melangkah bergegas mendatangi Edwin, lalu merengkuh dada pria muda itu rapat-rapat dalam sebuah pelukan kencang. Tangannya mengusap-usap punggung lebar Edwin seraya menguraikan desah napas panjang penuh rasa syukur.

Lihat selengkapnya