Kau adalah pendar kehidupan yang selalu menerangi hidupku. Meskipun kau tak menyadari keberadaan ku tapi aku selalu merasa memiliki arti hidup setiap melihat senyum manismu. Setiap malam aku selalu terlelap sambil mendekap sisa bayangan wajahmu yang manis dan menenangkan, dan akan terbangun hanya untuk melihat senyum mu kembali. Sinar ku bisakah kau lihat aku disini? Ada aku yang selalu menginginkan peluk hangat mu
"Uuuuuuggghhh romantis banget sih ini puisi, puisi orang yang lagi kasmaran sedikit liar gak seeh.." Tania mengejek kertas yang baru saja dibacanya sambil tertawa puas. Kelas yang tadinya hening seketika menjadi heboh setelah Tania membaca puisi itu didepan kelas
"Cintanya ngeri! Ada liar-liarnya," Tambah Vanya membuat anak anak yang lain ikutan mengejek
Alara berdiri gemeteran dengan perasaan parau. Air matanya tertahan di ujung kelopak mata karena takut terlihat menyedihkan. Tanpa mikir panjang lagi, dia langsung berlari menyerobot kertas yang ada di tangan Tania. Tapi gadis itu lebih gercep melemparnya ke arah Lulu membuat Alara harus berlari mengejar Lulu
"Balikin kertas gue!" Pinta Alara sambil berlarian berusaha mengejar kertas miliknya. Sebenarnya dia sudah tak punya muka lagi didepan semua teman-temannya, tulisan puisi yang tadinya hanya iseng dia tulis untuk sekedar curhat tiba-tiba dibaca didepan kelas dan menjadi bual bualan semua orang
Cukup lama Alara memendam rasa untuk teman sekelasnya Rafael. Cowok manis yang berhasil mencuri perhatiannya sejak pertama kali mereka bertemu. Selama ini dia simpan rapi perasaan itu, meskipun kadang sikap gugup dan salah tingkah nya terlalu mencolok didepan teman-teman yang mulai notice keanehan itu.
Terlebih, akhir-akhir ini mereka sedang dekat dan cukup intens. Alara terkenal cukup cerdas di semua mata pelajaran, yang membuat Rafael banyak memintanya bantuan soal pelajaran, bahkan kadang Alara mengerjakan PR Rafael dengan sukarela. Semua dia lakukan agar Rafael tetap mau dekat dan sering bersamanya
"Al lu ngeri banget sih! Pikiran lu kek bocah udah kebelet kawen!" Ejek Marko sambil menatap sinis Alara
"Balikin! Kenapa sih kalian gak sopan banget ngambil milik gue!" Alara tak memperdulikan olokan teman-teman di kelasnya. Dia lebih memilih menyelamatkan puisi itu karena itu adalah bagian dari harga dirinya. Lebih takutnya lagi gegara puisi itu, bisa membuat kedekatan dia dengan Rafael hilang
"Diiiihh ngambil! Orang Tania nemu di bawah meja!" Balas Lulu sambil terus berlari dan Alara mengejarnya
"Tapi gak seharusnya kalian baca di depan kelas gitu!" Protes Alara sambil berusaha merebut kertas ditangan Lulu
Namun sayang, Rafael yang sudah muak dan ilfeel langsung berdiri dan mengambil kertas itu, di remasnya sampai kumal lalu di buang begitu saja ke luar jendela kelas
Langlah Alara terhenti. Dia diam menatap Rafael dengan sedikit senyuman di bibirnya. Alara merasa sikap Rafael barusan adalah sikap gantelnya yang sigap menolong Alara. Lulu juga diam, nyalinya sedikit ciut takut Rafael membela Alara dan memarahinya
Tapi sikap Rafael di luar dugaan! Setelah melempar kertas itu ke sembarang arah,Rafael berbalik arah menatap Alara dengan tatapan lekat tajam. Bibirnya mengatup rapat menggambar satu garis lurus dengan rahang yang keras. Wajahnya datar tanpa ekspresi, alisnya menurun ditarik kedalam, membentuk kerutan tajam diantara kedua netranya
Tatapan marah, muak dan hilang respek ini membuat Alara seketika menarik bibirnya, wajahnya pucat dan tatapan matanya sayu. Tubuhnya seketika mematung seakan mati ditempat
"Lu bikin gue ilfeel!!"
Satu ucapan! Tapi seperti belati tajam yang menyayat hati Alara. Gadis itu terdiam, tubuhnya beku mematung, jari-jarinya meremas kuat ujung roknya hingga gemeteran. Matanya berkedip cepat tanpa jeda. Dia sedang berusaha menahan air matanya agar tak jatuh.Tapi kali ini dengan perasaan sakit campur aduk
Kelas yang hening sekejap langsung balik riuh lagi dengan tawa lepas anak-anak yang mendengar makian Rafael kepada Alara. Semua anak menertawakan nasib Alara, puisi cintanya ternyata ditolak mentah-mentah oleh sang sinarnya
"Hahaha kalau gue malu sih!"