Sampai didepan gerbang rumah Alara, Alara dan Dilan mendengar suara ribut dari dalam rumah. Akhir akhir ini memang Mama dan Papa sambung Alara suka bertengkar semenjak usaha Papa Andre mengalami kegagalan dan kondisi keuangan mereka mulai tak stabil
Alara berdiri kaku sambil mengepal tangan, dia sedang berusaha siap menghadapi pertikaian yang membuat isi kepalanya bising dan tak nyaman. Dilan turun dari vespa antik miliknya, menghampiri Alara penuh perhatian
"Kalau lu masih ngerasa gak nyaman jangan masuk dulu, gue ajak lu muter-muter sekali lagi gimana?" Tawar Dilan perhatian. Sebenarnya mereka udah muter keliling jalanan random tiga kali sejak Dilan mengantar Alara pulang tadi. Dia sengaja membawa Alara keliling gak jelas karena suara teriakan pertengkaran di dalam rumah Alara yang membuat gadis itu tak nyaman
Alara mengangguk setuju. Dilan kembali menekan gas vespanya berkeliling sekitaran kompleks dekat rumah Alara. Mengobrol hal-hal gak penting sampai habis topik pembahasan. Tak ada pilihan lain, mereka harus tetap kembali kerumah
Tapi ternyata setelah berkeliling tiga kali, pertengkaran itu belum juga selesai. Malah terdengar makin keras dan saling teriak. Ada suara gaduh seperti barang-barang rumah yang dilempar dan dibanting ke sembarang arah
"Mungkin keliling sekali lagi?" Tawar Dilan mencoba menjaga suasana hati Alara. Tapi kali ini gadis itu menggeleng
"Gak perlu! Mau keliling kemana lagi kita? udah tiga kali juga muter, pertengkaran Mama sama Om Andre gak bakalan kelar secepet itu, entah sampai kapan nanti mereka selesai saling memaki dan mengumpat," balas Alara pesimis. Karena memang akan selalu seperti itu, bahkan pernah sampai malam dan berlanjut pagi nya lagi. Mereka mengulang pertengkaran didepan Alara dan Keynan adik Alara
Dilan mengatupkan dua bibirnya dengan wajah datar, matanya bergerak cepat mencari cara lain agar Alara tidak terus mendengar pertengkaran itu. Menutup telinga pun percumah sebab suaranya terlalu lantang dan pecah sampai ke luar
"Gausah khawatir Di, lu balik aja! Gue bisa tutup telinga gue pakai earphone biar gak denger suara mereka lagi. Nanti gue puter playlist lagu lagu baru deh." Alara meyakinkan Dilan dengan senyum yang di paksakan
Dilan tak ingin membuat Alara kelihatan makin menyedihkan, dia memilih mengikuti perintah Alara untuk segera pulang
"Oke gue balik, kalau lu butuh apa apa gue standby ya."
"Iya, kek biasanya kan? Gue emang selalu butuh lu."
"Dengan senang hati kok. Yaudah bye..." Dilan menstater kembali vespa antiknya lalu segera pergi dari depan rumah Alara. Alara langsung pasang earphone dan masuk kedalam rumah melewati kedua orang tuanya yang masih terus berdebat
Alara masuk ke kamar, mengunci pintu dan meringkuk kecil. Menutupi tubuhnya dengan selimut sambil mendengarkan lagu lagu sendu sampai dia terlelap dan tertidur pulas
*
*
*
"Kalau kamu selalu gagal dan gagal, gimana nasib masa depan Keynan Andre! Dia masih kecil, dia masih butuh banyak kebutuhan untuk masa depannya!"
Suara Anita, Mama Alara terdengar melengking
Praaaaangggg
Suara piring pecah membangunkan Alara yang sempat terlelap tenang sebentar
"Kamu pikir aku mau seperti ini Anita! Aku juga mau aku sukses! Aku jadi pengusaya kaya raya! Tapi roda kehidupan itu berputar, ada kalanya aku jatuh dan seharusnya kamu paham itu!"