Puluhan anak mengrumun didepan papan pengumuman sekolah alias mading. Pagi ini ada satu tulisan yang di tempel di mading dan menggemparkan satu sekolah. Setiap anak yang sudah membacanya, mereka akan segera mengabari teman yang lain untuk segera melihat. Pokoknya gak boleh ada yang sampai ketinggalan hot news pagi ini
Seperti biasa, Alara turun dari vespa Dilan dan melepas helm yang dipakai nya pelan. Pokoknya rambut badainya gak boleh sampai lepek.
Alara menatap sekeliling heran, hidungnya mengerut dan tatapan nya tajam mengecil. Tapi Dilan langsung menyambar tangannya, menggandeng Alara melewati kerumunan anak-anak di halaman sekolah
"Ini cewek yang bikin puisi menggelikan itu!" Beberapa siswi yang lagi berdiri disekitar koridor sekolah, tatapan nya sinis, menilai Alara dari ujung kepala sampai ujung kaki
Alara celingukan memastikan, dia juga meraba rok seragamnya takutnya ada yang aneh hingga membuatnya diperhatikan seintens itu
"Ngeri banget yah, padahal kelihatan nya cewek baik baik lhoh.."
"Mukanya sih polos ya tapi ternyata isi otaknya mesum!"
Alara mengerti sekarang. Ternyata yang bermasalah bukan penampilannya, tapi gosip soal puisinya yang sudah menyebar dengan cepat ke satu sekolah
"Masih punya muka dia ketemu Rafael? Kalau gue jadi Rafa sih udah ilfeel ya."
"Jijik gak seeh ketempelan cewek modelan kek gitu, Ngeri!"
Malas menanggapi, Alara memilih menutup telinganya dengan earphone. Dia berjalan lurus tanpa memperdulikan tatapan sinis dan cibiran dari anak-anak disekitarnya. Dilan mengepal tangan tak terima, giginya menggeretak dan bibirnya mengatup rapat, wajah dinginnya semakin terlihat garang. Tatapannya menyapu siapa saja yang melirik Alara dengan tatapan merendahkan
"Eh diem ya lu semua!" Dilan yang sudah sejak tadi menahan sabar, langsung menghardik bocah-bocah mulut lemes dengan garang. Dilan akan selalu menjadi garda terdepan setiap Alara dalam masalah
"Lu semua itu cuman orang-orang yang suka nelen berita mentah-mentah! Kalian gak tau kenyataan sebenarnya seperti apa tapi udah main ngehina orang lain seenak jidat! Kalian pikir kalian gak punya aib juga?!"
"Tapi kita cewek'cewek punya harga diri ya! Mana mau kita menghayalin cowok sambil mikir ngeres! Ciiihhh.." sahut salah satu cewek yang paling judes dan mulut pedas
"Ngehayalin apa! Lu semua kena makan firnah!" Tegas Dilan meluruskan
"Fitnah? Jadi tulisan Alara di mading itu fitnah? Siapa yang mau ngefitnah dia kalau bukan dia sendiri yang sengaja ngasih tau ke semua orang gimana cara dia memandang Rafael!"
Mading!
Dilan dan Alara langsung berlari kearah mading. Disana kertas kumal berisi tulisan puisi Alara terpampang dengan sangat jelas, menjadi icon menarik yang sudah dibaca banyak anak pagi ini
Alara langsung mengambil paksa, merobeknya hingga tak berbentuk lagi, langsung di buangnya ke tempat sampah dengan marah. Dia marah karena tulisan itu sudah membuat semua orang memgecap buruk tentang dan perasaan tulus yang dia punya untuk Rafael
Alara mengusap air matanya, dadanya bergemuruh marah. Entah siapa lagi yang masih mau mempermalukannya seperti ini. Bahkan sekarang dia gak bisa lagi mencegah teman-temannya yang mungkin akan terus mencibirnya karena hal ini