Suasana kelas yang gaduh tiba tiba hening begitu Alara masuk. Pandangan mereka tertuju ke Alara dan Dilan yang berjalan pelan menuju tempat duduk mereka. Jelas kerasa sikap teman teman dikelas yang berubah, mereka mengucilkan dan menjauhi Alara
" Kenapa kalian ngliatin segitunya?Juling!" Bentak Dilan melindungi Alara
" Di udah.." Alara meminta Dilan untuk tidak menggubris apapun, dia langsung menarik tangan Dilan untuk duduk di kursinya
" Sumpah ya kalian tuh jadi temen gak ada yang asik! Bisa bisanya hal sepele kek gitu dijadikan bahan buat pembulian!" Tuding Dilan memaki teman teman nya. Menurutnya sikap mereka ke Alara berlebihan
" Emang kalian gak pernah naksir seseorang? Hal lumrah bukan kalau Alara nulis puisi sebagai curhatan perasaan sukanya ke seseorang yang dia suka! Toh gak ada juga tulisan yang menyebut nama Rafael, kalian aja yang ngira ngira seenaknya"
Rafael yang semula diam dengan wajah masam sedikit melunak, ada rasa tak enak jika benar puisi itu bukan untuknya tapi dia sudah berlebihan menyikapi
Tania bangun dari kursi dan berjalan kearah Dilan sambil bersedekap dada angkuh
" Iya emang gak ada tulisan nama Rafael, tapi selama ini kita semua tau kalau Alara crushin si Rafael!"
" Darimana lu tau?!"
" Dari voice note Alara di group kelas! Lu gak pura pura amnesia kan pas Alara ngigo terus ngirim voice note ke group!" Balas Lulu membuat semua anak kembali teringat kejadian memalukan sebulan yang lalu
Dilan meneguk saliva nya. Kejadian itu emang gak bisa ditampik dan sapu begitu aja dari ingatan teman sekelas. Dimana Alara dengan konyol mengirim voice note ke group kelas sambil nangis nangis dan manggil nama Rafael. Alara memang gak mengatakan kalau dia jatuh cinta, atau suka ke Rafael. Dia hanya nangis sesenggukan sambil manggil nama Rafael, setelahnya diam dan kembali mendengkur. Makanya semua anak yakin kalau Alara lagi ngigo
Alara menatap Tania tajam, guncangan demi guncangan yang diterimanya baik dirumah maupun disekolah membuat Alara menjadi anak yang cenderung mengalah dan sering gemeteran tiap berhadapan dengan Tania dan csnya. Dia tak punya keberanian untuk membalas sarkas atau mendebat gadis itu seperti teman yang lain nya
" A..aku minta maaf kalau aku udah bikin malu kalian semua! Aku.. aku cuman suka nulis puisi, aku cuman kadang ngomong sendiri sampai kebawa tidur! Aku.. aku.." Alara gak sanggup melanjutkan kata katanya
Rafael makin risih, rasa kesal dan ilfeel nya makin bertambah melihat sikap pengecut Alara yang tak bisa membela dirinya
" Hffhhh payah!" Umpat Rafael lirih