Meraki (Bakar Memori, Habis Jati Diri)

Ceceaie
Chapter #1

01. Pilu Membiru

“Jakarta keras, Bro!”

Begitu kata orang. Jakarta memang bukan untuk yang belum siap. Rasanya seperti kota ini tidak pernah meliburkan diri dari perannya sebagai Ibu Kota dari negara besar. Jika hanya untuk sekadar hidup, baiknya mencari tanah yang lebih subur saja.

Hidup itu pilihan. Maka, pilihlah tempat di mana kamu bisa bertumbuh.

Di kota ini, segalanya seolah bergerak begitu cepat. Pagi ke pagi bisa terasa sama pendeknya seperti gorengan risol milik ayah. Kalau bisa, tekad menjalani sisa-sisa umur di sini harus lebih menumpuk dari cucian anak kos yang harus Ibu kerjakan sampai disetrika. Memang benar, siapa yang tidak mau difasilitasi oleh semua hal yang serba mudah. Namun, balik lagi pada kenyataan bahwa tidak semua hal baik beriringan dengan yang baik lainnya. Gedung-gedung pencakar langit memanglah terlihat gagah dari luar. Padahal, di dalamnya bisa jadi didominasi oleh wajah-wajah lelah dan frustrasi.

Fakta bahwa tidak semua bagian dari kota ini indah juga bukan sesuatu yang mudah diterima. Toh gedung megah di sana-sini menjelma menjadi tirai besar, menutupi kenyataan bahwa masih banyak gang-gang kumuh yang menyimpan banyak duka penghuninya.

Andai dulu Ayah tidak punya nyali untuk datang ke tempat ini. Mungkin Dwipa tidak akan berlanjut merenungi bagaimana nasibnya nanti. Bukan satu-dua bulan raganya bergerak mengikuti arus metropolitan. Sumpek. Memang begini adanya.

“Wasit pe’a!” Suara Pak Yanih tidak lebih keras dari suara lalu-lalang pengendara lelah yang ingin segera sampai rumah. Mengundang banyak pasang mata—para pencari kesenangan usai berperang dengan kerasnya alur hidup masing-masing. Perihal tanggung jawab, beban hidup dan kewajiban, kita semua tidak perlu berkali-kali diingatkan bawah setiap orang punya tuntutan yang berbeda-beda.

Gorengan tempe dan bakwan jadi yang paling laris malam ini, pun dengan gelasan kopi hitam yang hampir menghabiskan satu termos air panas. Ayah hanya berdiri dengan kacamatanya yang miring, tangan terampil Ayah menuntaskan sisa adonan terigu terakhir di malam ini. “Itu penalty?”

Harusnya Ayah fokus pada gorengannya saja jika ujung-ujungnya tetap tidak mengerti. “Tendangan bebas.”

“Di bayar itu, yakin banget gua!” Wajah Pak Yanih makin masam, benar-benar tidak senang dengan keunggulan tim lawan.

Dwipa sebenarnya tidak terlalu peduli soal apa yang mereka perdebatkan, toh sepak bola juga bagian dari politik. Ini bukan rahasia umum. Dwipa rasanya ingin memindahkan kursi-kursi plastik hijau lapuk ini ke toko perabotan yang tak jauh dari warung Ayah. Terus-terusan berada di lingkaran orang-orang fanatik sepak bola bukanlah menyenangkan—menurut Dwipa si pecinta musik.

Pak Yanih salah satu dari belasan bapak-bapak yang sekarang memenuhi kawasan sempit dan becek untuk sekadar menonton pertandingan El Clásico lewat TV tabung milik Ayah. Ada tukang ojek yang ikut menyaksikan siaran sambil sesekali menawari tumpangan, pengamen jalanan turut andil meramaikan suasana, bahkan pekerja pasar yang lelah mengais rezeki sejak subuh sudah nongkrong bersama kepulan asap rokok kretek.

Dwipa jadi bertanya-tanya dalam hati, apa mereka tidak ingin menghabiskan waktu di rumah saja bersama istri dan anak-anaknya? Banyak dari orang-orang di sekitarnya itu langganan menghabiskan waktu di sini, di tempat yang tidak lebih nyaman dari rumah. Ya meski Dwipa juga tidak tahu apa yang tersaji di rumah mereka masing-masing sampai pulang menjadi tujuan paling akhir atau mungkin menjadi destinasi tidak menyenangkan. Lagi pula, Ayah juga sama, selalu menghabiskan waktunya di luar rumah, menggoreng dan menyeduh gelasan kopi, bertahun-tahun pula.

“Mau pulang bareng Ayah?”

Dwipa menengok saat bahu kirinya ditepuk cukup keras. “Dari mana aja? Dari tadi Ayah nanyain!”

Jagat memamerkan rentetan giginya sembari duduk di kursi yang penghuni sebelumnya mencari tempat lain. “Bantu Ibu jemput cucian.”

Jagat itu adik Dwipa, sekarang umurnya hampir menginjak kepala orang. Perihal rajin, teladan dan sayang Ibu, mustahil Jagat kalah. Duduk di bangku kelas dua belas—waktunya serius sebelum lulus—tidak Jagat pakai untuk menyentuh lembaran-lembaran buku paket yang dia bawa ke rumah atau membaca ulang catatan yang dia tulis. Jagat terbiasa membantu Ibu menjemput cucian, menemani tiga adiknya di rumah atau pagi-pagi buta sudah menemani Ayah belanja kebutuhan warung.

“Handika bantu Ibu?”

Jagat melirik sekilas sebelum ikut fokus pada pertandingan. “Enggak. Dia nemenin bontot di rumah. Ibu habis gosok baju di tempat bude Ayu.”

“Belajar yang bener. Biar jam segini Ibu udah istirahat di rumah.” Jangan kira Dwipa adalah anak sialan yang tenang orang tuanya masih mencari pundi-pundi uang di saat orang lain sudah mengistirahatkan raga. Jauh dari lubuk hatinya yang berdebu, Dwipa berharap masa depannya cemerlang. Seperti mengkilapnya kaca-kaca di gedung besar yang sekarang menjamur.

Dwipa benci miskin. Orang miskin yang tinggal di kota serba mahal dan penuh gengsi. Melihat peluh yang jatuh berkali-kali dari dahi Ayah membuat Dwipa ingin merenggut kehidupan mewah orang lain kalau bisa, agar malam ini dan malam-malam berikutnya Ayah tidak sibuk mengurusi gorengan-gorengan yang untungnya tidak seberapa itu.

Terhitung lebih dari belasan tahun Ayah mengandalkan profesinya sebagai penjual gorengan pagi-siang-malam untuk hidup dan menghidupi, untuk ongkos sekolah Jagat dan empat adik Jagat di rumah kecil Ayah, di pojok gang.

Jika bukan karena paksaan dari kakaknya, Aksara, Dwipa enggan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Kata orang, Dwipa seharusnya tahu diri. Kuliah adalah seni membuang-buang waktu dan penghambat rezeki bagi orang miskin seperti keluarganya. Namun apa boleh buat, Dwipa menuruti permintaan Aksara untuk melawan apa dikata orang sebab Aksara yang menanggung semua biayanya.

Mahasiswa Fakultas Hukum menjadi panggilan baru yang Dwipa suka, tapi menjadi sesuatu yang memberatkannya juga.

“Gimana kalau kalah?” tanya Jagat tanpa melirik.

Terlepas dari topiknya tentang sepak bola, Dwipa jadi ingin mempertanyakan hal yang sama. Bagaimana kalau dia kalah? Bagaimana dengan rumah mewah dengan halaman luas yang dia janjikan kepada Ibu setahun lalu?



 

Meraki


Lihat selengkapnya