Mobil itu melaju memasuki kawasan elite yang mana banyak gedung-gedung menjulang tinggi seakan menyundul langit. Madan hanya memperhatikan jalan dan selalu melihat ke arah luar jendela mobil. Walau pun dia dari kampung, namun dia berusaha untuk tak terlihat kampungan saat menyaksikan banyaknya gedung-gedung pencakar langit.
Anandita lalu membawa mobil itu memasuki basement atau lantai dasar di mana dia biasa memarkir mobilnya. Setelah mobil itu berhenti dan terparkir,lantas Anandita keluar dari mobil dan mengajak Madan untuk mampir masuk ke dalam Apartemen miliknya.
"Ayo!" ajak gadis berambut pendek itu.
Anandita berjalan terlebih dahulu dan di ikuti oleh Madan dari belakang.
Mereka menaiki lift dan tampak gadis itu memencet tombol angka 7 yang artinya lift itu akan membawa mereka menuju lantai 7. Tak banyak yang mereka bicarakan di dalam lift itu malah cenderung menjadi canggung di antara keduanya.
Ting...!
Lift itu berhenti di lantai 7 dan mereka segera keluar lalu berjalan menyusuri lorong apartemen itu menuju di mana kamar atau tempat tinggal gadis itu berada. Sebuah kartu di keluarkan dari tas kecilnya dan di gesekan di tempat yang tersedia di dekat pintu itu.
Klik...
Pintu kamar itu terbuka dan Anandita mempersilahkan Madan untuk masuk.
"Nah, ini adalah tempat tinggal ku." kata Anandita saat keduanya sudah masuk ke dalam.
Madan takjub dan berdecak kagum melihat bagusnya tempat tinggal si gadis. Di dalam ruangan itu ada sebuah ruang tamu yang tidak cukup besar, hanya ada empat sofa kecil dan sebuah meja dan di dinding ruangan itu terpasang sebuah tv layar datar yang tidak terlalu besar juga sesuai dengan ruang tamu itu. Di balik ruang tamu ada sebuah pintu lagi. Ya, itu adalah pintu kamar si gadis.
"Kau duduklah dulu,aku akan buatkan minum untuk mu," kata Anandita lagi.
"Kau mau minum apa? Wine atau bir?" tanya gadis itu menawarkan.
"Ah, tidak usah repot-repot seperti itu." jawab Madan.
Pemuda itu memperhatikan jam tangannya, lalu bertanya kepada si gadis,
"Apa boleh aku ke kamar mandi sebentar?"
"Oh, silahkan!" kata gadis itu.
Dia lalu membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Madan untuk masuk ke dalam.
"Aku mau ke kamar mandi, bukan kamar tidur!" seru Madan.
"Iya! Kamar mandinya ada di dalam sana!" jawab Anandita ketus.
"Bilang kek dari tadi!" balas Madan.
"Aku belum selesai memberi tahu, kau sudah menyela saja!" balas Anandita tak mau kalah.
Sempat terjadi perdebatan sebentar diantara mereka hanya karena masalah kamar mandi.
Madan yang tak ingin berdebat lagi,lantas bergegas pergi dan masuk ke dalam kamar dan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tidur itu.
Kondisi kamar itu sangat rapi sebagaimana mestinya kamar seorang gadis. Wangi dan tentu saja banyak boneka tersusun rapi juga di atas tempat tidur itu.
"Dasar wanita! Tak jauh dari boneka." gumamnya sambil terus berjalan.