MERANTAU

hendri putra
Chapter #13

Episode 13 : Sebuah Permintaan

Madan masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri serta berganti pakaian,dia baru menyadari bahwasanya ponselnya tidak ada bersamanya sejak tadi malam.

Madan keluar dangan berpakaian rapi dan terlihat seperti sedang mencari sesuatu.

"Apa yang sedang kau cari?" tanya Jek penasaran.

"Ponselku!" jawab pemuda itu singkat sambil terus mencari dan memeriksa laci mejanya satu per satu.

"Ponselmu sama gadis galak itu!" seru Jek memberitahukan.

Madan menepuk keningnya seraya berkata,

"Ya ampun! Aku sampai lupa!"

Setelah mengetahui keberadaan ponselnya lantas Madan pun duduk di sofa dekat Jek berada.

"Aku mau bicara sesuatu." kata Madan sambil mengambil rokok yang terletak di atas meja.

"Kau bosnya, kau bebas membicarakan apa saja dan aku akan mendengarkan mu." ujar Jek.

"Semalam aku diserang oleh sekelompok orang." kata Madan sambil menatap Jek.

Jek terperanjat kaget mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Madan tadi.

"Kau diserang oleh sekelompok orang?" tanya Jek mengulang ucapan Madan tadi.

"Iya." jawab Madan sambil mengangguk.

"Siapa yang berani berbuat seperti itu kepadamu?" 

"Aku juga tidak tahu dan tidak ingin menuduh siapa pun."

"Apa ini ada hubungannya dengan Johan Mawar itu?"

"Entahlah..." balas Madan sambil mengangkat bahu.

"Keterlaluan sekali si Johan itu!" seru Jek kesal.

"Sudah aku katakan, aku tidak ingin menuduh siapa pun!" Madan menekankan.

"Kalau bukan dia, lantas siapa lagi? Toh yang selama ini mengganggu kita hanya dia itu saja!" sambung Jek sedikit kesal.

"Aku tidak yakin soal itu, tapi aku akan menyelidiki ini baru akan mengambil kesimpulan dan keputusan yang tepat."

"Terserah kau saja, kau bosnya di sini,aku hanya mengikutimu saja." Jek merasa sedikit kesal karena Madan seolah-olah membela Johan Mawar.

Ketika kedua orang itu asik berbincang dan berdebat, Anandita masuk disertai oleh seseorang.

Madan menoleh sesaat, wajahnya tampak begitu senang melihat siapa yang datang bersama gadis itu. Jek juga begitu tampak senang dengan kehadiran orang itu. Keduanya bergegas berdiri dan menyambut orang tersebut.

"Dokter Toriq!" seru Madan.

Mereka saling berpelukan dan bersalaman seperti orang yang sudah lama sekali tidak berjumpa.

"Hebat! Kerja bagus! Kau berhasil merubah wajah Hells menjadi tempat yang sangat layak dan membuat tempat ini tidak jadi bangkrut!" puji Doter Toriq.

"Ini berkat kerja keras nona Anandita dan bimbingan dari senior Jek." ujar Madan sambil menatap gadis itu dan tersenyum.

"Kalau nona Anandita, aku bisa mempercayai itu tapi kalau soal Jek yang membimbing, itu sedikit meragukan. Hahaha..." balas Dokter Toriq sambil tertawa dan menepuk pundak Jek.

"Mari...mari...! Silahkan duduk!" ajak Madan mempersilahkan Dokter muda itu untuk duduk di sofa yang berada di kantor itu.

Lihat selengkapnya