Pasangan itu tampak betul-betul pas dan serasi. Anandita berjalan di sebelah kiri Madan sambil menggandeng tangan pemuda itu. Madan masih tampak sedikit risih dengan berpakain seperti itu, terlebih jika dia mengingat ada dasi kupu-kupu yang menempel di lehernya. Ingin rasanya dia membuka dan membuang dasi itu, namun ketika membayangkan wajah galak gadis yang menggandengnya, dia pun mengurungkan niatnya dan tetap memakai dasi walau pun terpaksa.
"Kau lihatlah mereka lalu tersenyumlah, tersenyumlah." bisik gadis itu sambil terus berjalan menuruni anak tangga.
"Ini juga aku sudah tersenyum," balas Madan.
"Senyum yang lebar, yang ikhlas... Yang ikhlas!" Kembali gadis itu menekankan agar Madan bisa tersenyum lebih lebar lagi.
"Dasar wanita tidak punya perasaan, dia menyuruhku untuk tersenyum yang ikhlas, yang ikhlas katanya. Sedangkan di sana, di pelaminan, wanita yang masih ku cintai duduk bersanding dengan orang lain." hati Madan berkata-kata seperti itu.
Mereka berdua terus berjalan dan tersenyum serta menyapa orang-orang yang mereka lewati.
Sedangkan di atas pelaminan tampak Rizal dan Nadia tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Betulkah itu adalah Madan yang mereka kenal?. Bagaimana bisa dia menjadi orang kaya di perantauan?.
Begitulah pertanyaan yang berputar-putar di benak mereka saat itu.
Bukan hanya kedua mempelai saja yang terkejut, namun keluarga besar kedua belah pihak juga ikut tak percaya dengan pengelihatan mereka sendiri, termasuk juga dengan angku Muchtar, orang yang dulu sawahnya digarap dan diupahkan kepada Madan. Dan mungkin juga ada rasa sesal dalam diri angku Muchtar karena kemarin dia telah menghina Madan di tempat parkir. Namun jika hati orang sudah busuk dan rusak, mereka tidak akan mengakui kesalahan, malah akan mencari-cari kesalahan orang lain agar mereka selalu tampak benar.
Madan dan Anandita sampai di atas pelaminan dan menyalami kedua mempelai.
"Ini adalah bos sekaligus pemilik tempat ini, namanya Ramadhan," ujar Dokter Toriq memperkenalkan Madan kepada Rizal dan Nadia.
Rizal menyalami Madan dengan raut wajah yang tidak senang.
"Kami sudah saling kenal," balas Madan kepada dokter Toriq.
"Sudah saling kenal?" tanya dokter Toriq heran.
"Iya, cuma saja aku tidak tahu kalau mereka yang mengadakan pesta di tempat ku ini. Jika aku tahu dari awal, pasti aku akan kasih gratis semuanya untuk mereka," jawab Madan sambil tersenyum.