MERANTAU

hendri putra
Chapter #37

Episode 37 : Petarung Dari Luar Negeri

Kalit tampak begitu kesal setelah mendengar kabar bahwa Tongki sudah tewas di tangan Jon dari anak buah Tongki yang berhasil melarikan diri dari markas Rustam Kabir.

Dia bersama dua orang kepercayaannya yang bernama Gian dan Pulung, sedang duduk-duduk sambil memikirkan cara untuk membalas dendam kepada Jon.

Saat itu dia juga sudah menghubungi Daniel dan menunggu kedatangan Daniel ke tempat itu.

Daniel datang dengan seseorang pengawalnya yang bernama Sombat, dia adalah orang Thailand. Sombat sendiri adalah salah satu anak buah dari sahabat Daniel yang berada di Thailand. Daniel sempat menceritakan berbagai kesulitan yang dia hadapi kepada sahabatnya itu, lalu sahabatnya itu memberi bantuan kepada Daniel dengan mengirim salah satu jagoannya untuk menolong Daniel.

"Perkenalkan dia adalah Sombat, anak buahku yang baru," ujar Daniel memperkenalkan Sombat kepada Kalit dan kawan-kawan.

Sombat yang tidak mengerti bahasa Indonesia, terpaksa hanya diam saja dan berdiri di belakang Daniel yang sedang duduk.

"Tongki yang malang," ucap Daniel sambil geleng-geleng kepala.

"Kita harus menuntut balas atas kematian Tongki, tidak boleh tidak!" seru Kalit sambil menggebrak meja.

Braaakk!

"Tentu__ tentu saja kita akan balas dendam!. Tongki adalah salah satu anak buah andalanku, bagaimana pun itu, kita tidak boleh membiarkan pembunuhnya berkeliaran," kata Daniel sambil membakar rokoknya.

"Tapi___ sebelum itu, kita harus habisi orang yang telah menjebak Tongki terlebih dahulu. Baru kita habisi si Jon itu atau bila perlu, sekalian sama si Madan itu kita bereskan semua, hahaha...." sambung Daniel dengan suara tawa jahatnya.

"Kami siap untuk menghabisi Preman Terminal yang bernama Rustam Kabir itu!" seru Kalit dengan penuh semangat.

"Kalian tidak perlu repot-repot mengotori tangan kalian untuk menghabisi sampah seperti Rustam Kabir itu," ujar Daniel.

"Apa maksudmu?" tanya Kalit tidak mengerti.

"Kita suruh saja di Sombat ini, sekalian mencoba kehebatan dia. Apakah betul dia sehebat apa yang dikatakan oleh Bosnya kepadaku," jawab Daniel sambil berdiri dan menepuk pundak Sombat.

Sombat yang tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan hanya bisa tersenyum dan cengar-cengir saja.

Daniel kemudian memesankan perempuan untuk melayani Sombat siang itu. 

Tentu saja tempat pertemuan mereka adalah di tempat Nyonya Menor, tempat favorit mereka semua.

*****

Cuaca yang sangat cerah sore hari itu membuat Madan tergelitik untuk pergi berjalan-jalan ke taman kota yang jaraknya tidak jauh dari Paradise.

"Heh, mau kemana kau?" tanya Jek ketika melihat Madan berpakaian olah raga lengkap.

"Mau lari sore. Apakah Senior Jek ingin ikut?" tanya Madan.

Lihat selengkapnya