Dengan wajah berseri-seri, Rustam Kabir berjalan keluar untuk menyambut tamu yang datang. Dia berpikir bahwa yang datang itu adalah Madan, karena Rustam Kabir memang mengundang Madan ke markasnya. Bos preman terminal itu mengadakan acara selamatan kecil-kecilan atas wajah markasnya yang baru karena telah di perbaiki oleh Madan.
(Preman bikin acara syukuran?. Preman juga manusia ✌️).
Namun lain yang di tunggu, lain pula yang datang. Raut wajah Rustam Kabir berubah dan merasa heran, sebab tamu yang datang sama sekali tidak dia kenal dan dia juga tidak mengundang orang tersebut datang ke tempat itu.
"Lu ingat gua?" tanya salah satu tamunya itu seperti jagoan.
"Gagah bener lu, ngomong kayak gitu sama gua, siapa lu tong," jawab Rustam Kabir sambil bertanya.
"Gua anak buahnya Tongki yang lu jebak dengan cara licik tempo hari, sekarang gua datang bawa jagoan gua, buat ngabisin lu semua disini!" seru anak buah Tongki semakin sombong.
"Buset dah! Mulut lu gede omong juga tong, gua kepret jadi peyek lu!" seru Rustam Kabir kesal dengan kesombongan tamunya itu.
Anak buah Tongki itu lalu menepuk pundak Sombat, jagoan dari Thailand, anak buah Daniel itu.
Sombat melirik ke arah anak buah Tongki, mereka hanya berbicara dengan bahasa isyarat saja karena tidak saling memahami bahasa masing-masing. Sombat bisa berbahasa Inggris sebetulnya, namun anak buah Tongki tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi perbincangan antara mereka hanya memakai bahasa isyarat saja.
Anak buah Tongki itu menunjuk ke arah Rustam Kabir, lalu mengacungkan ibu jari terbalik ke arah Rustam Kabir.
Sombat mengerti isyarat yang di berikan, orang yang di depan sana tidak ada apa-apanya, sangat mudah untuk di kalahkan, begitulah kira-kira Sombat mengartikan bahasa isyarat dari anak buah Tongki tadi.
"Apa jagoan lu itu bisu?" tanya Rustam Kabir penasaran.
"Jagoan gua ini namanya Sombat, dia berasal dari Thailand, gua gak ngerti bahasa dia dan dia juga gak ngerti bahasa gua," balas anak buah Tongki yang waktu kematian Tongki, dia berhasil kabur dari markas Rustam Kabir.
"Kocak," ejek Rustam Kabir.
Tanpa ba bi bu dan basa-basi, Sombat yang sudah tak sabaran lantas melompat ke depan sambil sorongkan satu tendangan.
Wuusshh...
Rustam Kabir yang sudah bersikap waspada sejak tadi, dengan mudah menghindari serangan yang dilakukan secara mendadak tadi.
Pecahlah pertarungan antara Rustam Kabir dan Sombat di halaman depan markasnya itu.
Anak-anak buah Rustam Kabir yang tadi sedang bersiap-siap untuk acara mereka nanti malam, langsung berhamburan keluar dan melihat apa yang sedang terjadi.
Sombat bukanlah lawan sembarangan bagi Rustam Kabir, dia adalah seorang ahli Thai Boxing, seni bela diri tradisional Thailand dan pernah menjadi juara nasional di negaranya beberapa tahun yang lalu.
Sombat mengankat kaki kanannya dan ditekuk seperti burung Bangau yang sedang berdiri. Kedua tangannya juga di tekuk dengan mengepal di depan wajah.
Rustam Kabir lepaskan satu pukulan tangan kanan, Sombat menepis dengan tangan kirinya.
Pertahanan Rustam Kabir terbuka lebar, Sombat sorongakan kaki kanannya.
Buukk!
Tendangan dari Sombat itu mendarat mulus di perut Rustam Kabir sehingga membuat dirinya tersurut mundur kebelakang beberapa langkah.