MERANTAU

hendri putra
Chapter #40

Episode 40 : Pertarungan Yang Tidak Seimbang

Rustam Kabir bisa bernafas lega saat nyawanya diselamatkan oleh Madan.

Namun lain halnya dengan Sombat, pria gagah dari Thailand itu sangat marah dengan perbuatan yang di lakukan oleh Madan tadi terhadapnya.

"Siapa dia?" bisik Madan bertanya kepada Rustam Kabir.

"Aku tidak tahu pasti, namun yang pasti hanyalah dia ingin balas dendam atas kematian si Tongki itu," jawab Rustam Kabir sambil meringis menahan rasa sakit pada tubuhnya.

Sombat tidak menunggu lebih lama lagi, dia segera melompat dan menyerang Madan.

Madan yang terlalu rapat dengan Rustam Kabir, terpaksa mendorong tubuh preman terminal itu agar tidak terkena sasaran pukulan dan tendangan yang dilancarkan oleh Sombat secara bertubi-tubi.

Madan menghindar sambil sesekali berikan serangan balasan.

Madan tak menyangka musuhnya kali ini sangat gesit dan tangguh.

Sombat lepaskan pukulan dan tendangan secara bergantian, Madan hanya bisa menghindar dan sesekali menangkis setiap serangan yang dilepaskan oleh lawan. Setiap serangan lawan yang di tangkisnya dengan lengan, setiap itu pulalah Madan meringis kesakitan.

"Gila! Keras sekali lengan orang ini!" seru Madan dalam hati.

Anak buah Tongki yang mengantarkan Sombat ke tempat itu sama sekali tidak menyangka bahwa Madan akan berada di sana. Namun dari pengamatan yang dia saksikan, tampak jelas bahwa keduanya bertarung dengan seimbang.

"Luar biasa!" serunya sambil berdecak kagum.

Madan terpaksa membuat jarak dan menghindari kontak fisik langsung dan terus menerus dengan Sombat. Madan menyadari kekuatan dan kemampuan lawan, dan hal itu sudah dibuktikan dengan kekalahan yang di alami oleh Rustam Kabir tadi.

"Hati-hatilah! Bagian lengan dan kakinya sangat keras!" seru Rustam Kabir mengingatkan Madan.

Madan melirik dan mengangguk paham ke arah Rustam Kabir yang tadi mengingatkan dia.

Melihat lawan terus-terusan menjaga jarak, Sombat menjadi kesal dan mulai lagi menyerang dan mengikuti ke mana pun pergerakan lawannya itu.

Setiap kali Sombat mencoba menyerang dan mendekat, Madan selalu sorong kan kaki dan lepaskan tendangan agar selalu ada jarak.

Hal yang sama dilakukan berulang-ulang membuat Sombat cepat membaca pergerakan lawan.

Seperti tadi, Sombat membuat gerakan untuk menyerang, Madan sorong kan kaki dan tendangan. Sombat yang biasanya melompat kebelakang untuk menghindar, namun kali ini dia bertindak dan membuat gerakan lain.

Sombat geser tubuhnya ke samping, dari samping dia lepaskan pukulan dengan tangan kirinya.

Wuuusshh...

"Celaka!" Seru Madan.

Madan silangkan kedua tangannya di depan dada sebagai perlindungan.

Bukk!

Tinjuan Sombat itu dapat ditangkis oleh kedua lengan Madan yang menyilang tadi. Namun kerasnya tenaga dari tinju yang di lepaskan oleh Sombat tadi membuat Madan tersurut beberapa langkah ke belakang.

Lihat selengkapnya