Angin sore menyusuri bantaran sungai yang sunyi. Gemericik air bersahutan dengan desir daun pisang yang menari pelan di tiupan angin. Ayu melangkah hati-hati di antara ilalang dan tanah becek bekas hujan tadi siang. Ia sedang mencari jalan pintas pulang dari pasar ketika matanya menangkap sebuah gubuk tua di dekat sungai.
Dindingnya terbuat dari papan bekas yang sudah menghitam dan lapuk dimakan usia. Atap sengnya berlubang di beberapa bagian. Ayu memperlambat langkah. Jemarinya mengencang pada tas belanja yang dibawanya. Meski sempat ragu, ia tetap mendekat dan mengintip dari celah pintu yang setengah terbuka.
Seorang pria tua terbaring di atas dipan kayu. Tubuhnya hanya berselimut sarung yang warnanya telah pudar. Di sampingnya tergeletak piring berisi sisa nasi yang mulai mengeras. Sebuah botol air mineral setengah kosong rebah miring, sementara di sudut ruangan tampak plastik berisi lauk yang hampir basi.
“Permisi, Pak…,” panggil Ayu pelan.
Pria itu menggeliat. Matanya terbuka perlahan dan menatap Ayu dengan pandangan kosong. Garis-garis kelelahan tampak jelas di wajahnya.
“Saya tadi lewat, terus lihat gubuk ini,” ucap Ayu. “Bapak lagi sakit?”
Pria tua itu menggeleng pelan.
Ayu mengembuskan napas lega. “Bapak tinggal sendiri di sini?”
Pria itu mengangguk.
“Namanya siapa, Pak?”
“Raka.”
“Pak Raka… salam kenal, ya. Saya Ayu.” Ayu melirik sekeliling ruangan yang sempit dan lusuh itu. “Bapak nggak ada keluarga yang tinggal sama Bapak?”
Sudut bibir pria tua itu bergerak tipis. “Nggak ada.”
Ayu terdiam, menunggu.
Pak Raka memalingkan wajah ke langit-langit gubuk yang kusam. “Karena sudah lama juga, nggak ada yang nyariin saya.”
Ayu mematung sejenak. Pandangannya kembali menyapu isi gubuk yang sempit itu. Piring dengan sisa nasi yang mengeras. Botol air mineral yang hampir kosong. “Kalau makan biasanya gimana, Pak?” tanyanya pelan.
Pak Raka melirik piring di samping dipan. “Kadang dikasih orang lewat. Kadang nyari sendiri. Kalau lagi ada rezeki, ya makan. Kalau nggak ada…,” Ia mengangkat bahu tipis. “Ya nggak makan.”
Ayu terdiam, kepalanya menunduk sesaat. Sulit membayangkan pria seusia itu menjalani hari-harinya seorang diri di tempat seperti ini. “Bapak masih kerja?” tanyanya kemudian.
Pak Raka terkekeh pelan. “Kerja apa, Mbak? Jalan aja kadang udah sempoyongan.”