Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami

A. F. Ferdians
Chapter #2

Galang, Anak Ketiga

Panas siang Yogyakarta menggantung malas di udara. Di sebuah warung makan modern dekat Malioboro, Bernard dan dua orang krunya duduk mengelilingi meja sambil memeriksa hasil rekaman. Sesekali mereka menunjuk layar kamera lalu berdiskusi pelan.

Di meja yang sama, Galang duduk seorang diri. Tidak ada kru, tidak ada pula asisten. Hanya sebuah ponsel, segelas es jeruk, dan tumpukan pekerjaan yang biasa ia kerjakan sendiri. Meski begitu, kehadirannya tetap sulit diabaikan. Rambut cokelat terangnya dikuncir setengah, sementara riasan tipis di wajahnya membuat penampilannya selalu tampak siap tampil di depan kamera.

Jarinya bergerak cepat di layar ponsel. “Bernard,” panggil Galang tiba-tiba. “Menurut lo kenapa di video ini gue kelihatan capek gitu, ya?”

Bernard menoleh. “Capek gimana?”

Galang menyodorkan ponselnya. “Nih. Lihat, deh.”

Bernard memperhatikan beberapa detik. “Kayaknya under-eye lu kelihatan.”

“Nah, kan!” seru Galang. “Padahal gue udah pakai concealer dua layer. Dua layer, Bernard.”

Bernard tertawa kecil. “Ya udah. Tambahin filter dikit aja.”

“Boleh sih, tapi gue nggak mau sampai muka gue hilang. Orang-orang harus tetap tahu ini muka mahal,” ucap Galang.

Salah satu kru Bernard langsung menahan tawa.

Galang kembali sibuk menggeser transisi dan menyesuaikan warna video. “Nah. Ini baru cakep.”

Bernard melirik layar ponselnya. “Mau lu posting kapan?”

“Besok mungkin,” jawab Galang sambil menyesap es jeruknya sebelum kembali bersandar. “Eh, by the way…,”

“Hm?”

“Gue dari dulu ngefans sama lo, tahu.”

Bernard langsung mendongak. “Serius?”

“Iya, lah.” Galang menopang dagu. “Gue ngikutin konten lo dari lama banget. Waktu follower lo belum sebanyak sekarang.”

Bernard tertawa. “Masa, sih?”

“Lo tuh beda,” lanjut Galang. “Lo tuh bisa bikin orang kepengen dateng ke tempat yang lo kontenin.”

Untuk sesaat Bernard tampak kehilangan jawaban. Ia hanya tersenyum kecil. “Jarang ada yang ngomong begitu.” Bibirnya tersenyum meledek. “Nih lu tulus atau lagi mau nyari kolaborasi?”

Lihat selengkapnya