Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami

A. F. Ferdians
Chapter #3

Rina, Anak Kedua

Pagi baru saja merekah ketika sebuah SUV putih berhenti di depan gedung Voltura Auto. Rina turun sambil merapikan tas kerjanya. Sebelum pintu mobil tertutup, ia membungkuk sedikit ke arah jendela pengemudi. “Makasih ya, udah anterin.”

Jovan tersenyum dari balik kemudi. “Sekalian berangkat kerja juga, kan searah. Daripada kamu naik ojek sambil baca email.”

Rina terkekeh pelan. “Minggu ini lagi kacau banget.”

“Masalah kantor?”

“Banyak anak magang masuk, yang resign juga belum beres. Belum lagi ada kasus pencurian itu,” ucap Rina.

Jovan tersenyum simpul. “SPV HRD life.”

“Jangan ngeledek kamu, ya!” balas Rina sambil memukul pelan bahu pria itu.

Jovan tertawa. “Siap, Bu Calon Pengantin.”

Rina menggeleng sambil tersenyum. “Minggu depan kita survei venue lagi, jangan lupa.”

“Siap.”

“Hati-hati di jalan,” kata Rina.

Jovan mengangguk. “Love you.”

“Love you too.”

Mobil itu melaju perlahan meninggalkan halaman kantor.

Rina berdiri beberapa detik sebelum berbalik menuju pintu masuk. Di usianya yang tiga puluh satu tahun, hidupnya terlihat cukup baik. Pekerjaan stabil, pernikahan tinggal menghitung bulan, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, masa lalu terasa cukup jauh untuk dilupakan. Setidaknya sampai pagi itu.

Di balik pintu kaca otomatis yang menyambut setiap karyawan masuk, interior kantor Voltura Auto langsung memberi kesan futuristik. Di belakang meja resepsionis, logo perusahaan terpampang besar dengan semburat biru elektrik di bawahnya—sebuah simbol dari perusahaan mobil listrik lokal yang sedang naik daun.

Rina berjalan masuk melewati pintu akses khusus karyawan. ID card-nya otomatis membuka pintu dengan bunyi bip, dan ia segera disapa oleh beberapa rekan kerjanya.

Langkahnya terus melangkah mantap menuju ruang kerjanya di lantai tiga. Meja kerjanya rapi, berkas tersusun dalam laci kecil sesuai kategori: promosi, rekrutmen, pelanggaran, resign. Rina meletakkan tas, membuka laptop, lalu menyambar cangkir hitam kesayangannya bertuliskan: Coffee first, conflict later.

Lihat selengkapnya