Pagi itu udara masih sejuk. Sinar matahari menerobos dari sela-sela tirai tipis di ruang tamu. Di dapur, aroma tumisan bumbu bawang sudah menyebar. Lastri kini berdiri di depan pagar rumah, ponsel di tangannya baru saja memberi notifikasi: Pesanan Belanjaan Telah Tiba.
Belakangan ini Lastri lebih memilih belanja lewat aplikasi. Bukan karena malas atau sok modern, melainkan karena ia enggan bertemu tukang sayur keliling. Atau lebih tepatnya, enggan bertemu tetangga-tetangga cerewet yang suka nimbrung di depan gerobak sambil menanyakan isi rahim orang lain.
Lastri adalah anak pertama dari tiga bersaudara, menjalani hari-harinya sebagai ibu rumah tangga. Sudah lima tahun ia menikah dengan Damar Prakoso, pria yang kini mengelola toko material miliknya sendiri, hanya berjarak lima kilometer dari rumah mereka. Meski belum dikaruniai anak, Lastri berusaha tetap tenang menjalani hidup dengan rutinitas sederhana.
Namun di balik ketenangan itu, Lastri hidup dalam lingkaran lingkungan yang tak sepenuhnya ramah. Ia tinggal di perumahan semi-klaster di pinggiran kota, hanya dua rumah dari kediaman besar keluarga suaminya. Hubungan mereka cukup akrab, tapi juga penuh campur tangan terutama bibi iparnya, yang kerap datang tanpa diundang dan selalu punya komentar soal Lastri yang belum juga mengandung.
Untungnya, ibu mertuanya berhati baik dan sering membela Lastri saat gunjingan kecil menyelip di ruang tamu.
Kini Lastri berusia empat puluh satu tahun. Postur tubuhnya sedang, wajahnya oval dan lembut. Kulitnya sawo matang, ia selalu tampak rapi dan terawat. Rambutnya sebahu, selalu digelung saat di rumah.
Baru saja Lastri membuka pagar dan menyapa kurir yang membawa dua kantong belanjaan, suara yang paling ia hindari terdengar—nyaring, sok akrab, dan seketika membuat bulu kuduknya berdiri.
“Eh, Lastri! Lagi belanja, ya? Kok enggak di tukang sayur depan?” Bibi iparnya muncul dari gang kecil, membawa plastik berisi tisu gulung dan sebungkus sabun. Langkahnya cepat, ekspresinya antusias seperti wartawan infotainment yang baru mencium berita segar.
Lastri buru-buru menyambar kantong belanjaan dari tangan kurir. “Iya, Bi. Saya emang biasa pesan online. Di rumah lagi banyak kerjaan.” Suaranya dibuat ringan, senyum secukupnya.
Tapi bibi iparnya tak berhenti di situ. “Ih, sayang banget, loh. Tukang sayur tuh bisa jadi tempat ngumpul ibu-ibu. Biar kamu nggak kesepian.” Ia tertawa.
Lastri pun ikut tertawa kecil, meski senyum itu lebih menyerupai lipatan tekanan.
Lalu kalimat yang paling ia takuti pun meluncur dengan entengnya. “Eh, Las… udah lima tahun, nih. Kamu emang beneran belum isi juga?” Bibi iparnya menatapnya dengan sorot penuh penasaran yang dibungkus kepedulian palsu. “Jangan-jangan karena kurang jalan pagi, ya? Atau Damar kecepekan kerja terus?”
Lastri ingin tertawa keras, tapi yang keluar hanya senyum tipis dan satu kalimat singkat. “Doain aja, Bi.”
Tapi bibi iparnya justru makin bersemangat. “Bibi lihat-lihat kamu sering banget belanja online,” ujarnya sambil melipat tangan di dada. “Bukannya lebih mahal?”
“Iya sih, Bi. Emang lebih mahal sedikit. Tapi lebih praktis. Nggak perlu keluar rumah, bahannya juga bagus-bagus.”
Bibi iparnya mencibir pelan, seperti tidak puas. “Tapi tetap saja, Las… rumah kamu sepi banget kalau belum ada suara anak kecil. Masa udah lima tahun menikah belum isi juga?”