Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Langit di luar gelap sempurna, tapi rumah Lastri justru terang benderang. Lampu teras menyala, begitu pula ruang tamu dan dapur. Suasana rumah dipenuhi ketegangan yang menggantung.
Di meja ruang depan, Lastri duduk berdampingan dengan suaminya, Mas Damar. Ia adalah pria berusia empat puluh lima tahun dengan postur tubuh tegap dan kulit sawo matang. Ia mengenakan kaus polos dan celana kain longgar, sederhana tapi tetap terlihat berwibawa.
Mas Damar duduk dengan tangan memegang pelan bahu istrinya, memberi ketenangan tanpa banyak kata. Sosoknya memang kalem dan suportif, pria yang tahu kapan harus bicara dan kapan untuk diam.
Dari balik tirai jendela ruang tamu, samar-samar terlihat kerumunan di luar pagar rumah. Beberapa wartawan lokal berdiri dengan mikrofon dan kamera ponsel. Warga sekitar pun ikut berkumpul, saling berbisik sambil merekam video. Ada yang bahkan sedang live di media sosial dengan caption bombastis: “Kita tunggu klarifikasi dari anak-anak yang menelantarkan bapaknya di gubuk!”
Lastri memandangi ponselnya. Wajahnya lelah, tapi masih berusaha terlihat tenang.
Sementara Rina menatap ke arah jendela, lalu menoleh ke kakaknya. “Galang masih lama, Kak?”
“Sebentar lagi, katanya dia udah di depan,” jawab Lastri pelan.
Suara gaduh dari luar kian riuh, teriakan wartawan bercampur dengan gumaman warga yang tak sabar menunggu. Beberapa orang bahkan mengetuk-ngetuk pagar, sementara ada pula yang iseng menyorotkan senter ponsel ke arah jendela rumah.