Sore itu cahaya matahari menyorot lembut dari jendela, menyelimuti rumah sederhana berdinding putih yang mulai pudar di beberapa sudut. Kipas angin di pojok ruangan berayun pelan, mengusir gerah yang menggantung sejak siang. Rumah itu tidak mewah, namun cukup nyaman bagi tiga orang anak dan sepasang orangtua yang hidup dari gaji pegawai negeri dan seorang guru sekolah.
Di ruang tamu, Lastri, gadis tujuh belas tahun dengan rambut hitam dikuncir setengah sedang duduk bersisian dengan ibunya yang bernama Marlina. Ia baru pulang dari sekolah, seragam putih abu-abunya sedikit kusut, dasi tergantung longgar di leher. Di pangkuannya duduk Rina, adiknya yang berusia tujuh tahun, berambut sebahu dengan pipi tembam yang menyandar manja ke dada sang kakak.
Ibu saat ini sedang mengenakan daster bermotif bunga kecil, rambutnya dicepol seadanya. Wajahnya tampak lelah, tetapi tetap hangat. Sementara Galang, si anak bungsu yang baru berusia satu tahun sedang tidur siang di kamar sebelah.
Bapaknya Lastri, Raka, yang saat itu berusia empat puluh tiga tahun duduk berhadapan langsung dengan Ibu. Wajahnya serius, tubuhnya tegak namun tampak gugup. Kemeja putih yang dikenakannya tampak sedikit kusut.
Di sampingnya duduk perempuan muda, sekitar awal dua puluhan, mengenakan blus polos dan rok panjang warna cokelat susu. Perempuan yang memiliki rambut hitam terurai panjang itu terus menunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Namanya Asih.
Lastri memandang ke arah Bapak dengan bingung, sementara Rina masih bersandar di pangkuannya, belum sepenuhnya mengerti permasalahan yang sebentar lagi akan terjadi.
Ibu yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. “Jadi maksud kamu… kamu mau nikah lagi, Mas?”
Bapak menatap lurus ke Ibu. Pandangannya sempat bergeser ke arah anak-anaknya, lalu kembali lagi. “Iya, Dek. Tapi Mas janji, Mas akan tetap tanggung jawab ke kamu, ke anak-anak juga.”
Tak seorang pun menjawab. Yang terdengar hanya deru kipas yang terus berputar dan detak jam dinding yang tiba-tiba terasa lebih nyaring.
Ibu membetulkan posisi duduknya, lalu menatap tajam ke arah Asih yang berada di seberang. “Asih,” panggilnya pelan. “Kamu tahu kan, umur suami saya sudah kepala empat, sementara kamu mungkin baru dua puluhan. Kamu masih sangat muda. Harusnya kamu bisa cari pasangan yang seumuran sama kamu.”
Asih masih menunduk. Jemarinya kini menggenggam ujung blusnya sendiri, tampak gugup dan gelisah.
“Umur kamu itu mungkin tidak jauh dari anak pertama saya,” lanjut Ibu, suaranya semakin menekan. “Kamu itu cantik. Kenapa kamu mau sama pria yang sudah berkeluarga?”
Asih mengangkat wajahnya pelan, matanya berkaca-kaca. “I… iya, Bu Marlina. Tapi saya memang… saya memang cinta sama Mas Raka.”
Ibu masih menatap Asih. Suaranya kali ini lebih tajam, nyaris bergetar. “Kamu bilang cinta?” tanyanya rendah, penuh tekanan. “Raka itu suami saya. Kami nikah sudah lebih dari dua puluh tahun. Kami sudah punya tiga anak,” Ibu menahan napas, matanya mulai berkaca. “Bahkan yang paling kecil umurnya baru satu tahun, masih suka bangun tengah malam cari bapaknya. Apa kamu tega?”
Asih pun terdiam.
Sementara Lastri hanya terus menunduk, memeluk Rina yang kini menatap ke arah Ibu dengan kebingungan. Di sudut sana, Bapak tampak resah, mengusap tengkuknya sendiri tanpa berani membuka suara.
Ibu masih menatap Asih, matanya nyaris tak berkedip. “Apa kamu bisa hidup tenang setelah datang ke rumah ini dan bilang mau ambil bapak dari anak-anak saya?”
Asih tidak menjawab. Mulutnya sempat sedikit terbuka, tapi tak ada suara keluar. Kedua tangannya kini tergenggam erat di pangkuan, bahunya sedikit berguncang. Ia tidak berani lagi menatap Ibu.
Kini Ibu mengalihkan pandangan ke Bapak. Napasnya naik-turun. Kata-kata berikutnya meluncur cepat dan tajam. “Jangan-jangan ini anak kamu pelet, ya, Mas?” serunya lantang dengan mata melebar penuh kecurigaan.
Bapak menatap Ibu, nadanya mendadak naik. “Apa-apaan sih kamu, Dek? Jangan asal nuduh yang enggak-engak kamu!”
Bentakan itu seketika membelah ruangan. Rina semakin memeluk Lastri lebih erat. Sementara Lastri menegakkan badan, sorot matanya menyiratkan kegelisahan.
Ibu tidak gentar. Ia membalas dengan nada tak kalah tajam. “Enggak usah kenceng ngomongnya. Di sini ada anak-anak.”
Bapak menoleh, tatapannya jatuh ke arah Lastri, lalu bergeser ke Rina. Lastri menatap balik, penuh luka dan tanda tanya. Rina tak berkata apa-apa, hanya menatap dengan wajah bingung dan takut. Bapak pun terdiam.
Beberapa saat kemudian Bapak kembali bersuara. “Aku enggak akan ninggalin kamu, Dek,” katanya sambil menatap Ibu. “Kamu tetap istri sahku. Aku bakal terus nafkahin kamu sama anak-anak. Aku enggak akan lepas tanggung jawab. Aku tetep bakal dateng ke rumah ini, nengok anak-anak, bantu apa yang perlu dibantu…” suaranya tiba-tiba terputus saat ia batuk beberapa kali. “Las…,” panggilnya lirih. “Ambilin Bapak minum.”
Lastri yang duduk di samping Ibu langsung menoleh. Ia tidak menjawab, hanya menatap Ibu, seolah bertanya lewat tatapan. Sementara Ibu membalas tatapan itu dengan anggukan kecil, wajahnya tetap dingin. Dengan gerakan pelan, Lastri berdiri dari duduknya.
Baru saja melangkah dua langkah, Bapak kembali bersuara. “Buatin teh panas aja. Dua gelas, ya. Satu lagi buat Asih.” Permintaan itu meluncur ringan dari mulutnya.
Lastri pun mengangguk kecil, sebelum bergegas ke dapur.
Kondisi dapur terasa lebih remang dibanding ruang tamu. Lampu kuning tua menggantung rendah di langit-langit, membuat bayangan di dinding tampak lebih panjang dari biasanya. Lastri berdiri di dekat kompor, menyalakan api kecil, lalu meletakkan ketel di atasnya. Dari ruang tamu, samar-samar masih terdengar suara kedua orangtuanya.