Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami

A. F. Ferdians
Chapter #7

Konten Kreator

Beberapa hari setelah klarifikasi oleh kakaknya yang masih ramai diperbincangkan, kehidupan Galang perlahan kembali ke ritme semula.

Di pojok kamar kosnya, ia duduk bersandar di depan laptop. Meja kecil di depannya penuh sesak oleh kabel, charger, dan sisa bungkus makanan instan yang belum sempat dibuang. Tangan kirinya menggulir trackpad, sementara tangan kanannya sibuk mengetik caption untuk video perjalanannya ke Bandung bulan lalu—konten yang akan ia jadwalkan tayang malam ini.

Sinar matahari sore masuk dari celah jendela, mengenai sisi wajahnya yang tampak lelah namun tetap fokus. Di balik earphone yang menempel di telinganya, musik instrumental mengalun pelan, menyatu dengan suara gemericik air dari video yang sedang ia sunting.

Ponselnya beberapa kali bergetar, notifikasi dari akun media sosial berdatangan tanpa henti. Sejak video klarifikasi Kak Lastri viral, jumlah pengikut Galang di media sosial melonjak. Ada yang sekadar penasaran, ada yang tiba-tiba menaruh simpati. Tapi tak sedikit pula yang tetap menghujat.

Galang memilih tak membuka komentar satu per satu. Karena ia tahu, linimasa bisa lebih jahat daripada kenyataan.

Ia tinggal di sebuah kosan yang terletak di kota yang sama dengan kedua kakaknya, hanya berbeda kecamatan. Letaknya berada di lingkungan yang cukup tenang. Galang menempati kamar paling pojok di lantai dua, dengan jendela yang menghadap ke pohon-pohon tinggi di halaman belakang.

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama Sagara muncul di layar. Nama yang sudah lebih dari lima tahun selalu jadi tempatnya berbagi kabar. Bukan sekadar sahabat, Sagara juga koneksi kerja yang penting. Ia memang bukan konten kreator, tapi pekerjaannya sebagai [1]spesialis KOL membuatnya sering jadi orang pertama yang tahu ketika ada brand yang ingin masuk ataupun sebaliknya.

Lihat selengkapnya