Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami

A. F. Ferdians
Chapter #9

Boti

Galang sedang makan siang di sebuah kedai tak jauh dari kosannya. Tempatnya sederhana, tapi dikenal anak muda sekitar karena menunya yang kekinian. Ia duduk sendirian di meja pojok, di depannya sudah tersaji semangkuk rice bowl berisi ayam sambal matah dengan telur setengah matang, ditemani segelas es kopi susu gula aren yang masih mengeluarkan butiran embun di dinding gelas plastik bening.

Sambil makan potongan ayam pertama, Galang mengatur tripod kecilnya, lalu menyalakan live. Senyumnya langsung mengembang, dan suara khasnya yang selalu percaya diri muncul begitu kamera menyala. “Hai, Bestieee! Aku lagi cobain menu yang katanya unggulan di sini. Rice bowl sambal matah sama es kopi susu gula aren. Nih, look at this… ayamnya juicy banget, sambalnya tuh wangi sereh. Ini tuh murah, tapi enak banget, loh.”

Galang menyorot isi mangkuknya, lalu kembali ke wajahnya sambil menyuapkan potongan pertama, ekspresinya dibuat dramatis khas konten kreator makanan. Sepanjang live, ia berusaha tetap tersenyum, memainkan gaya khasnya yang santai. Namun matanya tidak bisa lepas dari kolom komentar yang terus bergerak cepat.

Awalnya kolom komentar masih bercampur, ada yang penasaran soal rasa sambal matah, ada juga yang memuji cara Galang ngomong yang katanya lucu. Tapi pelan-pelan, tulisan-tulisan bernada miring mulai mendominasi. Hingga akhirnya, satu komentar mencuat lebih keras dari yang lain: “Boti durhaka.”

Komentar itu segera disambut oleh haters lain. Dalam hitungan detik, kolom live dibanjiri spam dengan tulisan yang sama. Alirannya deras, menenggelamkan komentar positif yang tadinya masih berusaha memberi dukungan.

Galang terdiam sejenak, senyumnya perlahan memudar. Matanya berkilat menahan kesal, bibirnya terkatup rapat. Ia mencoba mengalihkan fokus ke makanannya, tapi komentar-komentar itu seakan menempel di layar. Setelah menghela napas panjang, ia menutup mangkuk di depannya dan berkata singkat dengan nada getir. “Udah dulu ya, Bestie. See you…”

Dengan satu sentuhan, live pun berakhir. Galang menyandarkan punggung ke kursi, wajahnya tegang, menatap kosong ke arah luar kedai sambil menahan amarah yang bercampur perasaan tidak berdaya.

Tidak lama berselang, dari arah meja lain suara tawa kecil terdengar samar, diselingi bisikan yang terdengar seperti suara ejekan. Kata yang mereka ucapkan terdengar sama di telinga Galang: “Boti.”

Galang menoleh pelan. Tatapannya langsung menangkap tiga perempuan muda berkerudung yang duduk berdekatan sambil memainkan ponsel masing-masing. Perawakan mereka tampak seumuran, mungkin delapan belas atau sembilan belas tahun dengan gaya khas anak kuliah yang hobi kumpul bareng. Tawa kecil mereka makin terdengar, seolah sengaja diarahkan ke Galang.

Suara bisik-bisik dari meja mereka makin jelas, sesekali diselingi cekikikan, lalu pecah jadi tawa lebar yang tak lagi disembunyikan. Kata-kata yang terlontar tetap sama, menyengat telinga Galang.

Galang meletakkan sendoknya dengan kasar ke meja. Ia lalu berdiri, langkahnya tegas menuju meja mereka. “Lo semua lagi ngomongin gue, ya?” suaranya lantang, membuat beberapa orang di dalam kedai menoleh.

Salah satu dari tiga perempuan yang duduk di pinggir buru-buru menggeleng, ekspresinya setengah panik. “Enggak kok, kita lagi nggak ngomongin lo.”

Tapi Galang tidak berhenti. Ia mencondongkan tubuh, suaranya menekan, tatapannya tajam. “Gue denger, kok. Dari tadi lo bertiga pada bisik-bisik ‘Boti-boti’ gitu kan, sambil liat ke arah gue. Jangan pura-pura bego, deh.”

Ketiga perempuan itu saling pandang. Tawa mereka hilang, berganti wajah canggung yang makin terpojok di bawah tatapan Galang.

Sampai akhirnya perempuan yang duduk di tengah membuka mulut dengan suara menantang. “Ya emang lu boti, kan? Kenapa harus marah?” ucapnya, disambut lirikan samar dari dua temannya.

Lihat selengkapnya