Sore itu Rina sedang berjalan di antara deretan gaun pengantin yang berkilauan di etalase butik. Jemarinya sesekali menyentuh kain renda putih, sementara Jovan berdiri di sampingnya, sesekali ikut memberi komentar. Suasana hangat, namun tetap terasa serius mengingat hari besar mereka kian dekat.
Saat Rina tengah menatap sebuah gaun, Jovan melirik ke arahnya. Suaranya pelan, tapi terdengar penuh rasa ingin tahu. “Terus gimana? Kamu udah mutusin nanti mau pakai wali dari mana?”
Rina terdiam. Pandangannya tetap pada gaun di hadapannya, seolah butuh waktu untuk menyusun kata-kata. Setelah menarik napas pelan, ia menoleh ke Jovan. “Kalau buat sekarang, ya… adik aku, Galang.”
Jovan menatap Rina serius, alisnya sedikit berkerut. “Tapi kamu kan masih punya bapak. Dia yang seharusnya paling berhak jadi wali.”
Rina menghela napas pelan. Jemarinya meremas ujung kain gaun yang sedang ia pegang. “Aku sih sebenernya nggak masalah. Aku masih bisa aja nerima Bapak buat sekedar jadi wali. Tapi yang bakal keberatan itu Kak Lastri. Dia nggak mau banget kalau aku sampe ketemu sama Bapak.”
Jovan menghela napas, wajahnya terlihat bingung. “Kenapa emangnya?”
“Aku juga nggak tahu,” jawab Rina sambil menggeleng pelan. “Bahkan Kak Lastri pernah bilang kalau Bapak sampe jadi wali, dia nggak bakal dateng ke pernikahan aku.”
Jovan terdiam, mencoba mencerna ucapan itu.