Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami

A. F. Ferdians
Chapter #11

Suami Tersayang

Sekitar jam setengah tujuh malam, Lastri baru saja mematikan kompor setelah selesai masak untuk suaminya yang sebentar lagi pulang kerja. Aroma tumisan bawang putih dan sambal tercium harum memenuhi dapur.

Lastri sedang duduk di meja makan, tangan kanan menggenggam gelas berisi teh hangat yang masih mengepulkan uap tipis. Pandangannya kosong, sesekali tertuju pada jam dinding yang berdetak pelan. Dari luar jendela terdengar suara hujan deras menimpa genteng dan aspal jalan.

Lastri menatap kosong ke permukaan teh hangat di tangannya, kepulan uapnya berputar pelan seperti pikirannya yang kusut. Sejak tadi pagi hatinya terasa berat. Saat ia berpapasan dengan beberapa tetangga di gang, bisik-bisik terdengar jelas, nada suaranya menusuk telinga. Belum lagi bibi iparnya yang sempat mampir, dengan nada basa-basi yang sama menusuknya—terus mengulang topik kenapa sampai sekarang Lastri belum juga punya anak.

Tidak lama berselang suara klakson mobil terdengar dari depan rumah. Lastri segera bangkit, menaruh gelas tehnya di meja, lalu bergegas mengambil payung. Ia membuka pintu, melangkah ke teras, dan menyongsong suaminya. Dengan cekatan ia membuka pagar, membiarkan mobil hitam milik Mas Damar masuk ke dalam garasi.

Begitu Mas Damar turun, wajahnya tampak lelah tapi tersenyum begitu melihat istrinya. Mereka saling bertukar sapa singkat, Lastri menanyakan bagaimana pekerjaan hari ini, mengingatkan apakah sudah sempat salat maghrib atau belum.

Setelah masuk, Mas Damar menaruh tas kerjanya di dalam kamar. Ia kemudian mandi, melaksanakan salat, dan setelah selesai, ia duduk di kursi meja makan, bergegas menyantap hidangan hangat yang sudah Lastri siapkan.

Saat sendok pertama baru saja sampai ke mulutnya, Mas Damar menoleh ke arah Lastri yang hanya duduk sambil memandanginya. “Kamu nggak makan, Dek?” tanyanya lembut.

Lihat selengkapnya