Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami

A. F. Ferdians
Chapter #12

Kantor Polisi

Galang kembali melihat sosok itu. Bayangan samar seorang pria berkulit sawo matang, berusia awal tiga puluhan. Mereka berdiri di tengah kebun terbuka, rerumputan bergoyang pelan ditiup angin. Udara terasa aneh, tak sepenuhnya nyata—seperti mimpi yang belum selesai ditafsirkan.

Di sisi kebun, menjulang dinding batu tua, permukaannya dilapisi lumut kehijauan. Dari celah-celah batu, air memancar turun membentuk semacam air mancur alami. Suaranya lirih, gemercik, tapi entah kenapa terasa menenangkan, seperti bisikan dari tempat yang jauh.

Pria itu menatap Galang. Wajahnya samar, kabur seperti tertutup kabut tipis. Ia berdiri tanpa mengenakan atasan, hanya celana lusuh yang menggantung di pinggangnya. Perlahan, ia mengulurkan tangan ke arah Galang. Tak ada kata, tak ada pula suara. Tapi gerakannya cukup jelas seperti mengajak Galang ke suatu tempat.

Perasaan was-was menyelimuti Galang. Detak jantungnya menghentak tak beraturan, sementara langkah kakinya tertahan, bimbang antara maju atau mundur. Jarak di antara mereka kian menyempit, dan tepat saat ia nyaris menjangkau sosok itu, terdengar suara lain.

Duk! Duk! Duk!

Suara ketukan pintu mendadak menggema, keras dan nyata. Galang terlompat dari tidurnya. Napasnya memburu, dadanya naik turun tak terkendali. Keringat dingin mengalir pelan di pelipisnya, membasahi sisa mimpi yang belum sempat selesai.

Jarum jam sudah menunjuk angka sepuluh pagi ketika Galang akhirnya terbangun dari tidurnya yang gelisah. Kepalanya masih terasa berat, seperti belum sepenuhnya lepas dari mimpi yang membekas. Tapi kantuk itu sontak menguap begitu ia menangkap sesuatu yang ganjil.

Dari balik celah pintu dan jendela kos yang tertutup rapat, tampak bayangan-bayangan orang melintas, bergerak tak berhenti. Suara-suara lirih menembus dinding kamar, semakin lama semakin jelas.

Lihat selengkapnya