Di ruang penyidik, suasana tegang terasa menekan dari setiap sudut. Lastri duduk di sisi kanan, mendampingi Galang yang wajahnya pucat dengan mata sembab setelah seharian digempur interogasi. Di sebelahnya, Rina menunduk, sesekali melirik adiknya dengan tatapan cemas yang tak mampu ia sembunyikan.
Di belakang mereka, Mas Damar berdiri tegak di samping kursi, mencoba menjaga ketenangan meski raut wajahnya jelas khawatir. Tak jauh darinya, Jovan ikut berdiri, matanya terus mengikuti jalannya pertemuan dengan sorot serius.
Di hadapan mereka sudah ada si korban, seorang perempuan berkerudung dengan wajah masih memerah yang duduk diapit kedua orangtuanya. Tatapannya sarat amarah, nyaris tak berkedip. Di belakangnya, tiga kakak laki-laki berdiri dengan dada membusung, sorot mata tajam menusuk ke arah Galang dan kedua saudarinya. Ekspresi mereka sinis, seolah hanya menanti celah untuk melepaskan kemarahan.
Beberapa polisi turut berada di dalam ruangan itu, menjaga suasana tetap terkendali. Salah satunya duduk di kursi tengah, posisinya tepat di antara kedua belah pihak. Dengan wajah tenang, ia membuka percakapan. “Baik, saya akan mulai mediasi ini,” ucapnya dengan suara tenang. “Saya ingatkan lagi kepada semua pihak agar bisa tenang dan saling menghormati. Tujuan kita di sini adalah untuk mencari jalan damai terkait laporan yang sudah masuk. Jadi tolong, jangan ada yang saling memotong atau meninggikan suara.”
Semua mata kini tertuju pada polisi yang memfasilitasi pertemuan itu.
Rina angkat bicara lebih dulu, suaranya bergetar menahan campuran emosi dan heran. “Kenapa kamu bisa sampe ngelempar sambel ke muka cewek itu, Lang?”
Galang mengangkat kepalanya perlahan, wajahnya tegang. “Karena dia sama dua temennya hina-hina aku.”
Rina menatap adiknya tajam. “Hina kamu gimana?”
Galang mengepalkan tangan di pangkuannya. “Aku dikata-katain boti durhaka sama mereka.”
Dahi Rina berkerut. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke arah Galang. “Emang kenapa mereka bisa hina kamu kayak gitu?”
“Nggak tahu, Kak…,” kata Galang menggeleng pelan, bahunya merosot lemas. “Aku lagi makan sendiri. Tiba-tiba mereka bisik-bisik, ketawa, terus ngomongin aku, hina-hina aku kayak gitu.”
Rina sontak menoleh tajam ke arah korban, sorot matanya menusuk. “Kenapa kamu hina-hina adik saya kayak gitu? Emang salah apa dia sama kamu?”
Si perempuan terdiam, wajahnya mulai pucat. Tangannya meremas ujung kerudung, tubuhnya sedikit gemetar menghadapi konfrontasi Rina.
Namun sebelum ia sempat menjawab, ayahnya yang duduk di sampingnya langsung menyergah dengan nada keras. “Ngapain kamu neken-neken anak saya kayak gitu? Dia tuh korban, bukan pelaku.”
Rina mengangkat dagunya. “Saya tidak menekan dia ya, Pak. Saya hanya bertanya. Kenapa anak Bapak hina-hina adik saya.”
“Nggak penting lah hal itu dibahas sekarang!” bentak pria itu tiba-tiba.
Rina menoleh tajam, nadanya semakin tinggi. “Loh? Justru itu penting. Kalau tidak ada hinaan itu, adik saya tidak akan nyiram sambel ke muka anak Bapak.”
Salah satu kakak korban tiba-tiba menyela dengan nada ketus, tatapannya penuh amarah. “Halah, banyak bacot! Udah, nggak usah damai-damai. Langsung jeblosin aja adeknya ke penjara!”
Rina spontan menegang, bibirnya nyaris melontarkan balasan. Namun polisi yang duduk di kursi tengah cepat-cepat mengangkat tangan. “Sudah, sudah. Semua pihak tenang. Kan tadi saya sudah bilang. Jangan saling memancing emosi di sini.”
Lastri menggenggam tangan Rina pelan sambil berbisik lirih. “Sabar dulu, Rin… sabar.”
Ruangan sempat hening selama beberapa saat.
Si korban akhirnya membuka suara, terdengar lirih bergetar. “Saya mau minta maaf ke Mas Galang… karena udah ngomong yang enggak-enggak. Kedepannya saya janji mulut saya nggak bakal usil lagi.”
Galang menatapnya sejenak, lalu menghela napas panjang sebelum mengangguk. “Saya juga minta maaf karena udah nyiram kamu pake sambel. Saya kebawa emosi, harusnya saya bisa lebih tahan diri.”
Ucapan saling memaafkan itu membuat suasana di ruangan sedikit mencair. Polisi yang memfasilitasi mediasi mengangguk, dan prosesnya pun selesai lebih cepat dari yang diperkirakan.