Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami

A. F. Ferdians
Chapter #15

Trauma Masa Lalu

Sesampainya di rumah, jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Suasana rumah sunyi, hanya terdengar suara detik jam dan desiran kipas angin di plafon.

Lastri berjalan pelan menuju kamar, tubuhnya terasa berat karena kelelahan. Tapi sebelum berbaring, ia memutuskan untuk mandi sebentar. Air hangat yang menyentuh kulitnya membuat pikirannya sedikit lebih jernih. Uap air dan aroma sabun menenangkan pikirannya.

Sementara itu, Mas Damar hanya mencuci muka dan kaki di kamar mandi luar, lalu langsung naik ke kasur. Ia sudah lebih dulu terbaring.

Lastri keluar dari kamar mandi dengan rambut basah terikat handuk. Ia mengenakan kaus longgar dan celana tidur, lalu duduk sejenak di tepi kasur. Perasaannya terasa jauh lebih tenang setelah mandi, walau sisa-sisa emosi masih mengendap di dadanya.

Di atas kasur, Mas Damar belum tidur. Ia masih menatap layar ponselnya, jari-jarinya sibuk mengetik sesuatu. Cahaya dari layar memantul samar di wajahnya yang mulai lelah.

Lastri menoleh pelan. “Kamu lagi apa, Mas?” tanyanya sambil merangkak naik ke tempat tidur, lalu merebahkan diri di samping suaminya.

Mas Damar menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. “Lagi bales chat kerjaan, Dek. Anak-anak baru pada kirim laporan sekarang.” Tak lama kemudian ia mematikan ponsel, meletakkannya di meja samping tempat tidur, lalu menatap wajah Lastri dalam temaram lampu kamar. Dengan lembut ia merengkuh istrinya dari samping. “Gimana kondisi kamu?” bisiknya dengan lembut.

Lastri menarik napas panjang sebelum akhirnya bersuara. “Capek banget rasanya. Bapak yang tiba-tiba viral, aku sama adik-adik di-bully netizen, Galang yang tiba-tiba aja berurusan sama polisi. Belum lagi punya tetangga yang suka banget ngurusin urusan orang lain.”

Pelukan Mas Damar makin erat, tubuh Lastri terasa hangat dalam dekapannya. Dengan perlahan Damar mencium kening istrinya dengan lembut, lalu berbisik. “Kamu yang sabar aja, ya.”

Mereka terdiam sejenak dalam hening.

Lalu Lastri menoleh pelan ke arah suaminya. “Tadi pas di kantor polisi, yang sebelum kita pulang itu, Rina bilang apa ke kamu?”

Lihat selengkapnya