Galang sedang berada di kosan Sagara, yang letaknya di kecamatan berbeda, sekitar sepuluh kilometer dari kosannya sendiri. Mereka sudah berteman sejak lima tahun lalu, ketika pertama kali membuat konten bersama. Hingga dua tahun terakhir, Sagara memutuskan fokus menjadi spesialis KOL, sementara Galang menjadi salah satu konten kreator yang ia tangani.
Sagara punya kepribadian yang cukup mirip dengan Galang. Rambutnya agak gondrong tapi tetap tertata, berwajah putih bersih, dengan tubuh sedikit gempal.
Galang sedang duduk di kursi, kedua tangannya bersandar ke meja kecil di samping kasur. Sementara Sagara rebahan santai di atas kasur, satu tangan menopang kepala, tangan satunya sibuk menggulir layar ponsel. Keduanya larut dalam layar masing-masing, hanya diiringi suara pendingin ruangan dan notifikasi acak yang sesekali berbunyi.
Di tengah keheningan itu, Galang kemudian bersuara. “Eh, lo tahu nggak, Beb. Kemarin gue mimpiin Mas Jawa itu lagi tahu.”
Sagara menoleh, satu alisnya terangkat. “Buset, Wak. Lo kayaknya udah sering banget ya, mimpiin dia. Tapi tetep aja, di mimpi itu lo nggak pernah bisa ngeliat mukanya?”
Galang mengangguk pelan, matanya masih terpaku ke layar ponsel. “Kayaknya emang karena gue udah lupa bentuk wajahnya kayak gimana.”
Sagara mendengus tipis, lalu bertanya lagi. “Lo apa nggak pernah kepikiran buat nyari tahu?”
Galang mendesah kecil, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Gue aja bingung harus mulai dari mana. Dia itu soalnya dulu cuma pendatang, tinggal di deket rumah gue cuma beberapa bulan aja. Gue bahkan enggak tahu nama aslinya.”
“Yah, kalau gitu mah susah.”
Galang terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata pelan. “Tapi nggak tahu kenapa gue masih penasaran banget sampe sekarang. Padahal udah lima belas tahun berlalu, loh. Gue sendiri heran kenapa masih kepikiran.”
“Terus kalau ketemu, emangnya lo mau ngapain? Minta dipeluk lagi?” goda Sagara dengan nada setengah bercanda.
Galang mendengus, sempat terkekeh kecil. “Ya nggak lah… atau… nggak tahu juga, deh. Mungkin gue cuma mau bilang ke dia, ‘Woy, gue tuh sekarang jadi begini gara-gara lo, Mas Jawa’.”
Sagara cepat menyahut, nada suaranya santai tapi menusuk. “Lah? Bukannya gara-gara Bokap lo yang ninggalin lo waktu kecil?”
Galang mengangguk kecil, senyum miris tersungging. “Iya juga, sih.”
Percakapan mereka terputus saat ponsel Sagara bergetar. Ia melihat layar sekilas, lalu mengangkat cepat. “Halo… iya. Oh, udah di bawah, ya? Oke, sebentar, Mas,” ucapnya cepat, lalu berjalan ke pintu.
Beberapa menit kemudian mereka sudah duduk berhadapan di meja makan kecil di dalam kosan. Ruangan itu tidak terlalu luas, tapi cukup nyaman untuk berdua. Meja kayu mungil dengan dua kursi lipat berdiri di dekat jendela. Lampu gantung bulat menyinari makanan yang baru saja diletakkan Sagara di atas meja.
“Nih, Wak,” Sagara menyerahkan satu boks makanan ke Galang. “Gue pesen nasi kulit sambal matah sama ayam crispy keju. Lagi viral banget, katanya sambelnya meledak di mulut.”
“Thanks, Beb.” Galang menerima boks itu, membuka pelan. Aroma pedas gurih langsung menyeruak. Tanpa banyak komentar, ia mulai makan.
Sagara memperhatikan, keningnya berkerut. “Tumben lo, nggak divideoin dulu?”
Galang mengunyah sebentar lalu menjawab datar. “Buat apaan?”
“Biasanya kan lo bikin buat story.” Sagara mencondongkan tubuh, masih heran.
Galang mendengus, menaruh sendoknya sejenak. “Lo lupa gue masih di-bully?”
Sagara mendengus kecil. “Oh, iya. Lupa gue.” Ia lalu membuka boks makanannya sendiri dan mulai menyantap perlahan.