Seorang kepala HRD baru saja menjabat tangan Rina. Sambil tersenyum ramah, perempuan itu berkata. “Nanti jika memang diterima, akan kami kabari lagi ya, Mbak Rina.”
Rina membalas senyuman itu dengan sopan, meski di dalam hati masih terasa berdebar. “Baik, Bu. Terima kasih banyak atas kesempatannya.”
Setelah keluar dari ruangan, Rina menuruni anak tangga kecil menuju area depan kantor yang sederhana. Bangunan tiga lantai itu berdiri di antara deretan ruko lain, dengan logo klinik kecantikan yang cukup mencolok di bagian kanopi.
Setibanya di pinggir jalan, pandangannya langsung menangkap sosok familiar yang sedang berdiri sambil memainkan ponsel. Seorang teman lama yang membawanya ke tempat ini, sekaligus membuka jalan hingga Rina bisa mendapat kesempatan wawancara kerja. Tanpa ragu, Rina segera menghampirinya.
Temannya itu bernama Anita, seusia Rina, menyambutnya dengan senyum hangat. “Gimana, Rin? Lancar?”
Rina mengangguk kecil, mencoba tetap tenang. “Lancar aja. Mudah-mudahan gue diterima, ya.”
Anita menepuk pelan lengan Rina. “Gue yakin lo bakal diterima. Di luar masalah pribadi lo itu, gue udah bilang ke Kepala HRD kalau lo karyawan yang bagus. Nyatanya, lo kan yang dulu laporin orang yang udah ngerugiin di kantor sebelumnya.”
Rina tersenyum sambil mengangguk, matanya sedikit melembut. “Ya… mudah-mudahan aja deh.”
Saat mereka masih mengobrol di pinggir jalan, suara musik cempreng tiba-tiba terdengar. Seorang pengamen perlahan mendekat—berpakaian badut dengan topeng plastik murahan, membawa speaker kecil yang menggantung di leher, serta kaleng berisi uang recehan.
Dari posturnya terlihat orang itu merupakan laki-laki, mungkin masih muda. Bahunya tegap, geraknya tidak sepenuhnya lesu seperti pengamen jalanan kebanyakan. Namun wajahnya sulit ditebak, tertutup topeng penuh warna yang sudah kusam.
Rina dan Anita tidak terlalu memperhatikan, masih larut dalam percakapan ringan. Saat si badut sampai di hadapan mereka dan mengulurkan kaleng, Rina spontan merogoh tas dan mengeluarkan selembar uang dua ribu. Ia menjatuhkannya ke dalam kaleng tanpa banyak bicara.
Tapi sebelum pergi, si badut tetap berdiri di sana, seolah menatap Rina lebih lama dari seharusnya.
Rina merasa aneh. Keningnya berkerut, lalu berkata pelan. “Maaf, Mas. Saya cuma ada segitu.”
Badut itu seketika seperti salah tingkah. Ia segera membungkuk beberapa kali, memberi gestur maaf dan terima kasih secara bersamaan. Gerakannya terburu-buru, seperti ingin cepat pergi tapi juga canggung meninggalkan tempat itu.
Rina sempat tersenyum kecil karena refleks, tapi matanya masih mengikuti gerak si badut. Ada sesuatu yang aneh. Beberapa langkah setelah menjauh, badut itu sempat menoleh, atau lebih tepatnya memutar tubuhnya sedikit, dan kembali mengarahkan pandangan ke arah Rina walau hanya sekejap.
Rina memperhatikan dari sudut mata. Kebingungan samar mulai muncul di wajahnya. “Tuh orang masih ngeliatin gue, ya?” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Anita hanya menggeleng. “Udah nggak.”
Sementara itu si badut terus melangkah menjauh, menyusuri trotoar dengan speaker kecil di lehernya.
Tiga hari berselang, Rina resmi bekerja di kantor baru. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang klinik kecantikan. Kantornya memang tidak besar, tapi suasananya terasa tetap rapi dan profesional. Posisinya pun tidak jauh berbeda, ia kembali mengurusi urusan administrasi dan personalia para karyawan.
Rina berusaha beradaptasi secepat mungkin. Ia bersikap ramah, sigap, dan tetap menjaga jarak yang sehat dengan rekan-rekannya. Meski dari luar ia terlihat tenang, di dalam dirinya masih tersisa kecemasan yang belum benar-benar hilang. Rina hanya berharap di tempat itu tidak ada lagi sosok seperti Satria.
Siang itu, Rina baru selesai makan siang bersama Anita dan dua teman kantor barunya. Mereka berjalan santai di sepanjang trotoar, sambil sesekali bercanda ringan. Udara terasa hangat, langit mendung tipis menaungi bangunan-bangunan kota yang padat.
Saat sudah hampir sampai di kantor, pandangan Rina tak sengaja tertuju ke sudut samping sebuah bangunan kosong, bekas restoran yang sepertinya sudah lama tutup. Di sana, duduk seorang lelaki berpakaian badut, lengkap dengan topeng yang diletakkan di sebelahnya dan speaker kecil yang sudah mati. Lelaki itu tampak sedang menghitung uang recehan dari kaleng berkarat di pangkuannya.
Langkah Rina melambat. Matanya menyipit, mencoba memastikan apa yang dilihatnya tidak salah. Rambut cepak yang mulai memanjang, postur tubuh, serta cara duduknya yang terlalu familiar untuk diabaikan. Rina terkejut saat akhirnya ia mengenali wajah pria itu—Satria.
Orang itulah yang dulu Rina laporkan karena mencuri laptop. Sekaligus orang yang menyebarkan video ke media sosial dengan narasi bahwa Rina berbohong soal pemecatan, hingga membuatnya dihujat netizen, bahkan kehilangan pekerjaannya.
Langkah Rina terhenti, kedua kakinya seperti tertancap di atas trotoar. Napasnya memburu, dan tanpa pikir panjang, ia berbelok arah. Anita sempat memanggil pelan dari belakang, tapi Rina tak menjawab. Kakinya melangkah cepat menuju sudut bangunan kosong, tempat lelaki berpakaian badut itu duduk.
Satria sedang menunduk, menghitung recehan dengan serius. Ia baru sadar ketika bayangan tubuh Rina menutupi cahayanya.
“Heh!” suara Rina tajam.
Satria mendongak, matanya melebar begitu mengenali wajah yang berdiri di depannya.
“Lo Satria, kan?” Rina melabrak tanpa basa-basi.
Satria terpaku, tak sempat menyiapkan reaksi.
“Gara-gara lo gue kehilangan pekerjaan. Gue dihujat satu negara. Nama baik gue hancur. Puas lo sekarang?!” Suara Rina menggema di antara bangunan kosong, membuat beberapa orang di trotoar menoleh penasaran.
Dari kejauhan, Anita dan teman-temannya tampak bingung, tapi tak ada yang mendekat.
Satria tidak berkata apa pun. Ia hanya menatap Rina sejenak, wajahnya mulai tegang. Sampai tiba-tiba ia berdiri dan berlari. Tanpa memberi waktu untuk bereaksi, Satria melesat melewati Rina, dan menghilang di jalan trotoar.
Rina sempat mencoba mengejar, tapi langkahnya terhenti. Napasnya masih berat, dadanya berdegup kencang karena emosi yang belum sempat ia luapkan sepenuhnya.
Seorang bapak-bapak penjual kopi keliling lewat dengan sepeda starling-nya. Ia mendekat, menatap Rina dengan wajah khawatir. “Mbaknya dicopet?”
Rina cepat-cepat menggeleng, masih berusaha menenangkan diri. “Nggak, Pak.”
Beberapa saat kemudian Anita dan teman-temannya tiba, napas mereka sedikit terengah. Anita langsung bertanya dengan wajah bingung. “Lo kenapa, Rin?”