Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami

A. F. Ferdians
Chapter #18

Pertemuan

Hari Sabtu di dinas sosial. Lastri duduk di salah satu kursi panjang di ruang tamu yang cukup luas. Kursi panjang itu menghadap ke pintu, dengan dua kursi satuan di sisi kiri dan kanan. Di sebelahnya, Mas Damar tampak tenang sambil menggenggam tangan istrinya, sementara di ujung kanan, Galang duduk sedikit menyamping, wajahnya terus menunduk, jarinya sibuk menyapu layar ponsel.

Sejak mereka tiba, Galang tak banyak bicara. Fokusnya tertuju pada beranda media sosial, memberi like pada deretan foto pria dengan pose-pose seksi. Sesekali alisnya naik turun—sebagian ia berdalih sedang menilai pencahayaan atau angle terbaik untuk inspirasi konten berikutnya, sebagian lain karena ia memang menyukainya.

Tidak lama Ayu muncul dari ruangan lain, sosok perempuan yang pertama kali memviralkan Bapak ke media sosial. Perawakannya tetap seperti di video: percaya diri, tegap, dengan tatapan yang langsung mengarah ke Lastri, seolah ingin mengukur kekuatan lawan bicaranya. Perempuan itu tidak datang sendirian. Di belakangnya, lima orang turut masuk ke ruangan, dua pria dan tiga perempuan dengan usia beragam.

Beberapa saat kemudian Bapak muncul didampingi seorang pria paruh baya yang tampak sebagai pengurus dinas sosial. Pria itu membawa map cokelat, ia mengenakan rompi bertuliskan DINSOS. Mereka duduk saling berhadapan.

Pandangan Bapak berpindah antara Lastri dan Galang tapi tidak berani berlama-lama di keduanya. Lastri sendiri masih enggan menatap bapaknya terlalu lama, bayangan masa lalu masih membuatnya diliputi rasa kebencian, sementara Galang hanya tampak datar.

Bapak melangkah pelan, lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan, tepat berhadapan dengan Lastri, Mas Damar, dan Galang. Matanya langsung tertuju ke anak-anaknya, terutama ke Galang yang sudah lama tidak ia lihat. Sorot matanya tampak gembira, namun juga takut, seperti orang yang tahu dirinya salah, tapi tetap berharap bisa dimaafkan.

Ayu lalu membuka percakapan dengan suara canggung. “Saya ucapkan terima kasih kepada Bu Lastri, dan juga Galang, yang sudah mau datang hari ini.” Ia diam sesaat, memandangi wajah di dalam ruangan itu. “Mudah-mudahan saja pertemuan hari ini bisa menemukan solusi yang terbaik buat kita semua.”

“Solusi yang terbaik buat kita semua?” timpal Lastri tidak senang. “Maksudnya gimana? Saya tidak paham.”

Ayu menghela napas berat. “Bu Lastri, ini kan Pak Raka bagaimana juga masih orangtuanya dari Bu Lastri. Apa Ibu tidak merasa kasihan? Saya di sini hadir hanya sebagai penengah. Saya hanya kasihan lihat Pak Raka terus tinggal di dinas sosial.”

Lastri menegakkan tubuhnya, menatap Ayu lebih tajam. “Kalau memang Mbak Ayu kasihan, ya bawa saja dia ke rumah Mbak Ayu. Beres, kan? Jadi tidak perlu melibatkan saya dan adik-adik saya.” Ia diam sesaat, mengatur napasnya yang mulai terengah-engah. “Mbak Ayu tahu, tidak? Karena video yang Mbak Ayu sebarkan ke sosial media, kami jadi dihujat netizen. Adik saya yang satu sampai dipecat dari kantornya, yang satunya lagi sampai berurusan sama polisi.”

Ayu pun terdiam, wajahnya tampak karut. Ruangan itu langsung hening. Hanya terdengar suara kipas angin dan langkah kaki sesekali di luar lorong.

Lastri menatap Ayu lama, matanya tak bergeming sedikit pun. “Dengar ini baik-baik. Saya sudah tidak punya bapak lagi sejak usia saya tujuh belas tahun. Dan adik saya yang ini…,” tangannya terulur ke bahu Galang, yang masih menatap layar ponselnya tanpa ekspresi. “sudah ditinggal sejak umurnya baru satu tahun demi perempuan lain.”

Ayu menelan ludah pelan. Sejumlah orang yang datang bersamanya tampak mulai gelisah di kursi masing-masing. Sementara Bapak masih tertunduk, tubuhnya seperti makin mengecil dalam diam. Sementara pria dari dinas sosial hanya melirik sekilas, dengan raut yang jelas memilih untuk tidak menyela lebih dulu.

“Jadi, sebelum Mbak Ayu bilang tega ke saya atau ke adik-adik saya. Saya minta dipikir lagi,” lanjut Lastri. “Siapa yang pertama kali tega di keluarga kami?”

Akhirnya petugas dari dinas sosial yang duduk di samping Bapak membuka suara. “Tapi, Bu Lastri… itu kan, masa lalu. Bagaimanapun juga Pak Raka tetap bapak kandung dari Ibu dan adik-adiknya Bu Lastri.”

Lastri langsung menoleh, sorot matanya tajam membuat pria itu sedikit gugup. “Bapak bisa ngomong gitu karena mungkin Bapak hidup di dalam keluarga yang harmonis,” ucapnya dengan tegas. “Sementara kami yang tumbuh di dalam keluarga yang berantakan, bukan perkara mudah buat nerima lagi orang yang pernah menyakiti kami.”

Lihat selengkapnya