Galang baru saja turun keluar dari Bandara Radin Inten II, dengan tas hitam di punggung dan tripod terlipat di tangan kiri. Topi hitamnya ditarik sedikit ke bawah untuk menghindari silau, sementara matanya sibuk memperhatikan pesan dari pengemudi rental yang akan menjemputnya.
Perjalanan ke Teluk Kiluan yang berada di Kabupaten Tanggamus, Lampung, dimulai beberapa menit kemudian begitu mobil hitam berplat lokal menjemputnya di depan terminal kedatangan. Di sepanjang perjalanan, Galang sesekali merekam footage dari balik kaca jendela. Di sana terlihat jalan berliku dengan tebing curam, hutan yang masih rimbun, dan beberapa spot bukit yang memperlihatkan hamparan laut biru dari kejauhan.
Di sana juga terlihat kehidupan sederhana di desa-desa kecil yang dilewati. Rumah-rumah kayu dengan atap seng, anak-anak berlarian tanpa alas kaki, warung-warung kecil dengan spanduk pudar menggantung seadanya. Semua itu Galang rekam diam-diam, tanpa suara, untuk nanti disusun jadi narasi visual yang puitis di videonya.
Beberapa jam berselang mobil sewaan itu akhirnya berhenti di dekat pantai yang sunyi. Belum banyak wisatawan terlihat, hanya suara debur ombak dan semilir angin laut yang menampar lembut wajahnya saat pintu mobil dibuka. Galang pun turun, menarik napas panjang.
Di kejauhan, lautan membentang luas, berkilau memantulkan cahaya matahari pagi yang hangat. Galang terdiam sejenak, membiarkan kesunyian alam menyapu pikirannya yang penuh sesak. Ia segera mencari kontak lokal yang sudah ia hubungi sehari sebelumnya.
Tidak lama muncul seorang nelayan paruh baya bernama Pak Darto. Kulitnya legam, senyumnya ramah, dan tubuh kurusnya tampak kuat. Perahunya sederhana, bercat biru pudar, dengan tulisan Mawar Laut tertera di sisi kanan lambung.
“Sendiri aja, Mas?” tanya Pak Darto sambil membantu Galang naik ke perahu.
“Iya, Pak,” jawab Galang sambil memeriksa baterai kameranya. “Kita langsung aja ya, Pak. Saya mau dapetin footage lumba-lumba.”
Pak Darto mengangguk cepat. “Siap, Mas.”
Tak lama, perahu kecil itu pun melaju, memecah permukaan laut, menuju titik yang sudah dikenal para nelayan sebagai jalur munculnya lumba-lumba. Angin laut menerpa wajah Galang, menyibakkan rambutnya di balik topi. Ia berdiri setengah jongkok, menjaga keseimbangan sambil sesekali menekan tombol rekam, mengambil footage dari berbagai sudut.
Langit hari itu cerah, nyaris tanpa awan. Lautan biru kehijauan terhampar luas sejauh mata memandang. Dan saat perahu mencapai titik yang dituju, Pak Darto berseru kecil. “Itu lumba-lumbanya!”
Dari kejauhan gerombolan lumba-lumba mulai muncul. Meloncat ke permukaan satu demi satu, membentuk lengkungan anggun di atas air.
Galang sigap mengarahkan kamera. Matanya berbinar, jemarinya lincah menekan tombol rekam tanpa jeda. Gelak tawa kecil keluar dari mulutnya. “Keren banget, Pak!”
Pak Darto hanya tersenyum. Pandangannya tertuju pada kawanan lumba-lumba yang menari di atas laut. Sementara Galang terus berkutat dengan kameranya, memastikan tak satu pun momen terlewat. Hari itu alam seolah sedang bersahabat penuh dengannya.
Beberapa waktu berselang, saat Galang berhenti sejenak dari aktivitas merekam, dan menyimpan kameranya ke dalam ransel kecil di punggung. Ponselnya terasa bergetar pelan. Saat dilihat, layar ponsel itu menampilkan nama Sagara.
Galang segera menjawab sambil menyalakan pengeras suara. “Iya, Beb…” sapanya riang, suaranya bersaing dengan semilir angin laut yang berembus di sekelilingnya.
“Wak, dana endorse lo yang dari Barakah Grill udah masuk, ya. Barusan mereka kabarin lewat gue,” ucap Sagara dari seberang.
Galang langsung tersenyum lebar. “Seriusan? Gokil… thanks ya, udah bantu ngurusin. Gue belum cek, sih. Sinyal di sini kadang ngadat.”
“Ya udah, yang penting udah masuk tuh duit,” sahut Sagara.
Galang tersenyum lebar. “Mantap! Makasih, Beb.”
Sagara lalu bertanya. “Ini lo lagi di mana, sih? Kedengeran ada suara ombak, tuh.”
“Gue lagi di Teluk Kiluan,” jawab Galang sambil berdiri, berusaha menyeimbangkan tubuh di atas perahu yang bergoyang. “Lagi di Lampung nih gue. Wisata laut bareng lumba-lumba.”
“Buset… ngonten terus hidup lo, ya,” sahut Sagara cepat.
Galang terkekeh, matanya masih menatap hamparan laut. “Namanya juga cari makan. Skincare sama sunscreen yang gue pake kan, nggak gratis.”
Sagara tertawa kecil di seberang. “Kok lo tumben sekarang mainnya sampai ke Lampung?”
Galang nyengir, lalu menjawab santai. “Ya… sekali-kali, lah. Lagian belum pernah juga ke sini. Siapa tahu, kan, bisa ketemu sama Mas Jawa.”
“Aneh lo, mana ada dia di sana. Kalau mau cari Mas Jawa, ya di Jawa lah, masa di Lampung,” respons Sagara, sedikit tertawa kecil.
Galang refleks membalas cepat. “Lo yang aneh. Orang Jawa di Lampung banyak juga kali.”
Sagara tertawa renyah, lalu menimpali. “Emangnya lo masih mimpiin tuh orang?”
Galang terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Nggak juga, sih. Terakhir yang kemarin itu. Tapi kadang masih suka ngebayangin, kalau gue lagi bengong.”
Sagara langsung menanggapi. “Kalo gitu jangan lo pikirin. Itu justru masalahnya, karena sering lo pikirin jadi kebawa mimpi.”
Galang hanya tersenyum tipis, menatap kembali ke arah laut yang masih berkilau. Tak ada lagi percakapan setelah itu. Hanya suara angin, ombak, dan bunyi mesin perahu yang kembali mendominasi suasana. Setelah itu panggilan pun berakhir.
Menjelang siang, langit yang tadinya cerah perlahan berubah kelabu. Awan-awan menggumpal dari arah barat, menutupi pancaran matahari yang sejak pagi menyinari laut dengan hangat. Angin mulai bertiup lebih kencang, membawa hawa lembap khas hujan yang akan turun.
Galang menoleh ke langit, lalu memeriksa layar kameranya, stok video sudah banyak, foto pun melimpah. Ia pun merasa puas. Semua sudah aman tersimpan. Lelaki itu memberi isyarat kepada Pak Darto untuk menepi. Tak lama, perahu kecil itu merapat ke pantai.
Galang turun sambil membawa ransel serta perlengkapannya yang lain. Kakinya menyentuh pasir yang masih hangat, meski kini mulai digigit angin mendung yang bertiup pelan.
Di tepi pantai, sejumlah gazebo beratap rumbia berdiri tak jauh dari deretan pohon kelapa. Salah satu gazebo itu pun Galang sewa, tempat beristirahat sekaligus spot makan siang dengan pemandangan laut terbuka di depan mata.
Saat sudah berada di dalam gazebo, Galang meletakkan barang-barangnya dengan hati-hati. Ia mengeluarkan laptop, kemudian mulai memindahkan file-file dari kamera ke penyimpanan eksternal. Gazebo tempatnya berteduh merupakan bagian dari sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari sana, hanya dipisahkan oleh jalur setapak kecil yang berpasir.
Tak lama kemudian, seorang pelayan lelaki berseragam restoran datang menghampiri sambil membawa nampan berisi pesanan Galang: nasi goreng laut, sambal mangga, dan es kelapa muda.
Tepat saat makanan dan minuman itu tiba, hujan turun dengan cukup deras. Air mengguyur atap rumbia gazebo dengan suara yang menggema, mengubah suasana dalam sekejap—dari hangat menjadi teduh dan syahdu oleh suara hujan.
Galang segera menutup sebagian laptopnya dengan jaket, lalu memindahkannya ke sisi yang lebih aman dari cipratan air. Setelah itu ia mulai menikmati makanannya sambil memandangi laut yang perlahan memudar di balik tirai hujan.
Di tengah santap makannya, pandangan Galang terpaku pada satu sosok di kejauhan. Seorang pria, mungkin berusia sekitar tiga puluh lima tahun, sedang berteduh di bawah sebuah bale kecil yang sudah miring dengan atap seng seadanya yang tampak nyaris roboh. Pria itu berdiri memeluk kedua lengannya, rambutnya basah, dan tubuhnya hanya mengenakan celana pendek.
Galang mengernyit, memperhatikan lebih saksama dari balik tirai hujan yang mulai menipis. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Lelaki itu, bentuk tubuhnya, tinggi badannya, potongan rambut pendeknya, bahkan warna kulitnya yang kecokelatan—semuanya terasa cukup familiar.
Hingga tiba-tiba, Galang terperanjat. Satu nama langsung melintas di kepalanya: Mas Jawa?
Galang menelan ludah perlahan. Wajah lelaki itu tak sepenuhnya terlihat jelas dari jarak belasan meter, terlebih dengan rambut basah dan kepala yang sedikit tertunduk. Tapi entah kenapa, detak jantung Galang mulai berdetak lebih cepat. Wajah Mas Jawa mungkin sudah samar dalam ingatannya, tapi sosok di depannya benar-benar menyerupai bayangan yang selama ini muncul dalam mimpinya.
Galang meyakini dirinya sendiri bahwa lelaki itu bukan Mas Jawa yang ia maksud. Sosok yang dikenal dalam ingatan masa kecilnya pasti sudah jauh lebih tua sekarang. Sementara lelaki yang sedang berteduh itu terlihat terlalu muda untuk seumuran Mas Jawa yang sebenarnya.
Namun tetap saja, ada sesuatu yang membuatnya sulit melepaskan pandangan. Galang tak sadar ia sudah terlalu lama menatap, hingga akhirnya lelaki itu menoleh balik, dan mata mereka pun saling bertemu. Seketika Galang tersentak dan buru-buru membuang pandangan ke arah laut.
Galang meneguk es kelapa cepat-cepat. Pura-pura fokus ke makanan, tapi matanya mencuri-curi pandang lagi ke arah lelaki di bawah bale itu. Hujan masih mengguyur deras, dan pria itu tetap berdiri di sana dengan kondisi basah kuyup, memeluk tubuhnya sendiri untuk tetap hangat.
Beberapa saat berlalu, dan lagi-lagi pandangan mereka bertemu. Kali ini lelaki itu tersenyum meski tubuhnya masih menggigil kedinginan.
Rasa kasihan menghangat di dada Galang. Tanpa pikir panjang, ia mengangkat tangan dan menggerakkan jari ke arah gazebo, memberi isyarat agar lelaki itu datang dan berteduh bersamanya. Lelaki itu sempat menunjuk dirinya sendiri, seolah ingin memastikan, dan Galang mengangguk singkat. Dan saat pria itu mulai melangkah mendekat, perasaan Galang terasa sedikit gugup.
Lelaki itu mendekat dengan berlari kecil, berhati-hati agar tidak terpeleset di jalanan pasir yang licin. Satu tangannya menutup kepala, mencoba menghindari derasnya hujan meski hal itu terasa percuma. Sesampainya di gazebo, ia berhenti sejenak di ambang, lalu tersenyum lebar, napasnya sedikit terengah.
“Duh… cuacanya, ya. Padahal tadi cerah banget,” keluhnya sambil tertawa kecil, menengadah sejenak ke langit yang masih menumpahkan hujan tanpa henti.