Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami

A. F. Ferdians
Chapter #22

Keputusan

Siang itu ruang tamu di rumah Lastri tampak rapi dan tenang seperti biasa. Tiga hari telah berlalu sejak acara pertunangan Rina, tapi suasana di ruang tamu justru terasa tegang. Bukan karena ada tamu tak terduga yang datang, melainkan oleh keputusan penting yang sudah Lastri putuskan, dan sebentar lagi akan ia sampaikan.

Di sana, mereka duduk bertiga. Lastri dengan wajah tenang tapi tatapannya tajam. Rina duduk tegak di sebelahnya, sorot matanya menyiratkan ketegangan yang sulit disembunyikan. Sementara Jovan, tampak kikuk di antara keduanya, sesekali menatap Lastri, lalu beralih ke Rina.

Tanpa banyak basa-basi, Lastri langsung menyampaikan keputusannya. “Rin, sebelumnya aku mau minta maaf. Aku udah mikirin ini baik-baik, dan aku tetap pada keputusan awal. Bapak nggak bisa jadi wali nikah kamu.”

Rina tersentak pelan. Napasnya tertahan sejenak, seperti hendak menyela.

Namun Lastri segera menyergah, memberi isyarat agar ia bicara lebih dulu. “Kita semua tahu apa yang udah terjadi. Dan aku nggak mau pernikahan kamu jadi panggung pembenaran untuk seseorang yang udah ninggalin kita bertahun-tahun.”

Rina menggigit bibirnya pelan, menunduk tanpa berkata apa-apa. Di sampingnya, Jovan hanya menggenggam tangan tunangannya dengan lembut.

Lastri menoleh ke arah mereka, lalu kembali bersuara. “Itu artinya, wali nikah kalian tetep Galang.”

Wajah Rina memerah karena emosi yang mulai mendesak dari dalam. Matanya menatap lantai, rahangnya mengeras. Ia menggenggam tangan Jovan lebih erat, lalu tanpa sepatah kata pun, Rina menarik tunangannya itu untuk segera berdiri.

Jovan sempat menoleh ke Lastri, ingin bicara, tapi Rina sudah lebih dulu melangkah menuju pintu. Langkahnya cepat, nyaris terburu-buru.

Lastri yang semula masih duduk, sontak berdiri begitu menyadari adiknya hendak pergi begitu saja. Ia segera menyusul ke depan, menghampiri Rina yang sudah membuka pintu rumah. “Rina?” panggilnya, sambil menahan lengan sang adik. “Rina! Kamu mau ke mana? Nggak ada yang mau kamu omongin dulu?”

Rina tetap diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dengan satu gerakan cepat, ia melepaskan diri dari genggaman Lastri, lalu melangkah cepat menuruni teras menuju halaman depan.

Lastri berdiri terpaku di ambang pintu. Jovan lalu muncul dari belakang. “Van, sebentar,” sergahnya cepat. “Rina sebenernya kenapa?”

Jovan berhenti sejenak. Ia menatap Lastri dengan ekspresi sungkan, lalu menggeleng pelan. “Aku permisi dulu ya, Mbak,” ucapnya singkat.

Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut, Jovan berjalan menuju mobil. Rina sudah lebih dulu duduk di dalam, menatap lurus ke depan tanpa membuka jendela. Lalu, suara mesin terdengar menyala, dan mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah.

***

Satu hari sebelumnya. Setelah makan siang, Rina dan Jovan mengunjungi salah satu gedung pernikahan yang sedang mereka pertimbangkan untuk disewa. Gedung itu cukup luas, dengan langit-langit tinggi dan jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya matahari masuk dengan sempurna. Di tengah ruang utama, Rina bisa membayangkan bagaimana tempat itu akan terlihat saat acara pernikahan dimulai.

Mereka berjalan pelan menyusuri sisi gedung. Membayangkan letak pelaminan, tempat duduk tamu, dan meja katering. Rina tampak antusias sambil sesekali memeluk lengan Jovan.

‎Di tengah langkah mereka, Jovan membuka suara. “Sayang, gimana kalau nanti Mbak Lastri tetep nggak ngizinin Bapak kamu jadi wali nikah?”

Rina berhenti melangkah. Ia berdiri di tengah aula yang lengang, menatap lurus ke depan. “Aku bakal tetep nunjuk Bapak aku buat jadi wali,” ucapnya penuh ketegasan.

Jovan menoleh, menatap wajah tunangannya dengan ragu. “Tapi kalau Kakak kamu tetep nggak setuju?”

Rina langsung menoleh cepat, tatapannya kini jauh lebih menekan. “Aku bakal tetep nunjuk Bapak aku jadi wali,” ulangnya, kali ini dengan nada lebih tinggi. “Kamu denger nggak, sih?”

Lihat selengkapnya