Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami

A. F. Ferdians
Chapter #23

Serangan Balik

Galang baru saja pulang dari Teluk Kiluan. Begitu membuka pintu kosannya, ia langsung melempar tas berisi laptop, kamera, dan perlengkapan lainnya ke kursi di dekat kasur. Tubuhnya terasa remuk setelah perjalanan panjang dan drama pencurian yang sempat ia alami.

‎Tanpa melepas jaket, Galang masuk ke kamar mandi di pojok ruangan. Ia membasuh wajahnya berulang kali di bawah air keran, mencoba menyegarkan kepalanya yang terasa penat. Matanya sembap karena kurang tidur, pikirannya masih dipenuhi jadwal konten yang belum selesai tersusun.

Lalu ponselnya yang tergeletak di atas kasur berdering. Galang menghentikan gerakannya. Ia mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil, lalu buru-buru kembali ke kamar. Tangannya meraih ponsel dan melirik layar: Sagara calling.

Galang mengangkat telepon dengan suara lelah. “Iya, Gar…”

“Lang! Lo lagi diserang netizen!” Suara Sagara terdengar meledak.

“Hah? Gue diserang?” Galang mengernyit, lalu duduk di tepi kasur. “Bukannya isu soal bokap gue udah tenggelam, ya?”

“Kali ini bukan soal bokap lo!” timpal Sagara dari seberang telepon, suaranya tetap cepat dan napasnya memburu.

Galang terdiam, menunggu penjelasan.

“Ini lebih parah,” lanjut Sagara. “Gue nggak tahu dari mana mulainya, tapi akun lo lagi kena expose. Banyak yang nyorotin lo follow sama like-like akun cowok-cowok seksi yang profilnya, tuh… ya… lo tau sendiri, ada pelangi-pelangi gitu.”

Galang seketika membeku.

“Lo sekarang lagi dihujat karena lo diduga menyimpang, Lang,” lanjut Sagara. “Rame banget di mana-mana.”

“Anjing!” gumam Galang, pelan tapi tajam. Ia bangkit dari duduknya dengan gerakan kasar. “Siapa yang nyebarin, Gar?”

Di seberang telepon, suara Sagara terdengar berat dan tergesa. “Gue juga belum tahu. Tapi netizen udah mulai nyerang brand-brand endorse-an lo.”

Galang terdiam. Napasnya tertahan. Kepalanya terasa seperti dipukul dari belakang. Ucapan itu menusuk, menyalakan bara amarah sekaligus rasa malu yang sulit ia kendalikan.

Sagara kembali bersuara. “Udah, jangan ngapa-ngapain dulu. Nanti sore gue ke kosan lo. Kita bahas lagi.”

Tanpa ada kata tambahan, sambungan telepon berakhir.

Lihat selengkapnya