Kini kondisi di dalam kontrakan sudah lebih tertata. Kardus-kardus bekas pindahan diletakkan di sudut ruangan, sebagian sudah dibongkar dan barang-barang tersusun rapi di rak seadanya. Lalu aroma tumisan bawang merah dan cabai tercium dari dapur kecil. Bapak berdiri di depan kompor, mengaduk wajan sambil sesekali mengecilkan api.
Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam. Kontrakan itu tenang, hanya suara kipas angin yang berputar pelan menemani aroma masakan yang semakin pekat.
Rina sedang duduk di kursi ruang depan, menatap layar ponselnya yang berkedip. Puluhan notifikasi dari kakaknya memenuhi layar: pesan-pesan panjang, panggilan tak terjawab, dan voice note yang belum dibuka. Sudah satu hari penuh ia belum juga memberi balasan.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan dari Kak Lastri, melainkan Jovan. Rina sempat ingin mengabaikannya juga, tapi akhirnya dia menerima panggilan itu.
“Sayang, kamu masih di kontrakan?” Suara Jovan terdengar pelan.
“Iya, masih,” jawab Rina pendek. “Ada apa?”
Jovan berdeham. “Itu… Mbak Lastri nanyain kamu terus. Dia minta tolong banget supaya kamu angkat teleponnya, atau chatnya dibales. Katanya kalau sampe besok kamu masih nggak bales juga, dia mau ke kosan kamu.”
Rina menjawab cepat. “Biarin aja. Lagian aku juga udah pindah dari kosan.”
Jovan sempat terdiam sebelum akhirnya kembali bersuara. “Kamu nggak bisa terus ngehindar dari kakak kamu, Sayang. Lagian juga kosan sama kontrakan kamu yang sekarang jaraknya deket. Paling cuma seratus meter.”
Rina terdiam. Suara kipas angin di ruangan itu mendadak terasa lebih keras dari biasanya. Lalu ia kembali membuka suara. “Ya udah, biarin aja kalau emang dia mau nemuin aku. Pokoknya kamu jangan bilang kalau aku ajak Bapak tinggal bareng.”
Jovan hanya mengiyakan. Setelah itu panggilan berakhir.
Rina menatap layar ponselnya beberapa saat setelah panggilan dengan Jovan berakhir. Ia membuka daftar kontak, menggulir sebentar, lalu menekan nama adiknya: Galang. Panggilan hanya berdering dua kali sebelum tersambung.
“Halo, Kak?” suara Galang terdengar pelan, seperti sedang menahan sesuatu.
Rina langsung menangkap nada itu. “Kamu kenapa, Lang?”
“Nggak apa-apa,” jawab Galang cepat, terlalu cepat.
Rina mengernyit, tapi memilih tidak mendesak. “Gimana kabar kehilangan barang kamu yang di pantai itu?”
“Barangnya kan udah ketemu,” jawab Galang singkat. “Aku juga udah kasih tahu ke
kamu.”
Rina terkekeh pelan. “Oh iya, aku lupa. Terus malingnya gimana? Udah dibawa ke kantor polisi?”
Galang menghela napas sebelum menjawab. “Nggak, Kak. Aku lepasin aja, deh. Ribet kalau harus bikin laporan bolak-balik. Belum lagi kalau nanti masuk persidangan. Apalagi tempatnya jauh.”
“Oh gitu… ya udah, terserah kamu aja. Yang penting barang-barang kamu udah balik lagi.” Rina menggumam, lalu menambahkan dengan nada lebih serius. “Oh ya, Lang. Aku mau cerita. Jadi sekarang… aku udah jemput Bapak dari dinas sosial. Sekarang dia tinggal bareng sama aku.”
Galang terperanjat. “Serius, Kak? Kok bisa?”
“Ya bisa, lah,” jawab Rina singkat. “Dia kan Bapak kita.”