Setelah mengakhiri panggilan dengan Kak Rina, Galang melempar ponselnya ke kasur, wajahnya masih tegang. Tapi rasa penasaran mendorongnya untuk kembali meraih ponsel itu dan membuka kembali deretan chat yang belum sempat ia baca.
Galang menggulir layar cepat, sampai akhirnya berhenti pada satu chat dari akun buzzer yang sebelumnya ia hubungi, yang mengaku bisa menggiring opini publik. Namun begitu membuka isi pesannya, Galang terperanjat.
“Untuk kasus kakak, karena udah viral, kami perlu tim yang lebih besar. Nilainya dua ratus juta. Itu udah termasuk paket bersih-bersih, dan juga serang balik ke akun Bernard.”
Galang mengumpat sendiri. “Dua ratus juta? Gila!” Tangannya gemetar saat ia buru-buru mengetik, mencoba menawar setengahnya.
Tapi balasan dari buzzer datang dengan singkat dan dingin, tentu saja penolakan.
Galang mendesis, menatap layar dengan marah bercampur muak. Ia tak membalas lagi. Ponselnya diletakkan kembali di atas kasur. Pandangannya kosong, pikirannya kacau.
Tak lama berselang ponsel Galang kembali bergetar. Kali ini nama yang muncul di layar membuatnya terdiam sejenak: Kak Lastri. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengangkat panggilan itu. “Iya, Kak.”
Suara Kak Lastri terdengar tegas, tapi tetap hangat seperti biasanya. “Lang, gimana perkembangan soal maling yang di pantai itu? Udah kamu laporin?”
Galang mengusap wajahnya sambil duduk di tepi kasur. “Nggak, Kak. Aku mutusin buat lepasin aja.”
“Loh, kenapa?”
“Soalnya bakal ribet. Nanti kalau sampe sidang aku mesti hadir bolak-balik. Repot banget, Kak.”