Jam hampir menunjukkan pukul sembilan malam ketika motor yang dikendarai Mas Damar melaju sedang di jalan menuju kontrakan Rina yang tadi disebut Galang.
Lastri duduk di belakang, hanya mengenakan pakaian rumah tipis yang dibalut jaket seadanya. Angin malam menerpa wajahnya, tapi dinginnya tak cukup untuk meredam amarah yang sejak tadi mendidih di kepalanya. Sejak di atas motor, pikirannya terus memutar ulang potongan kata-kata Galang—tentang Rina yang sudah bertemu Bapak, bahkan kini tinggal bersama tanpa sepengetahuannya.
Darahnya mendidih. Matanya panas. Bukan hanya karena merasa dilangkahi sebagai kakak, tapi juga karena luka lama yang selama ini ia pertahankan dalam diam kini seperti diacak-acak kembali.
Begitu motor berhenti di depan kontrakan dengan pagar besi sederhana dan kios galon air di seberangnya, Lastri langsung turun tanpa banyak bicara.
Suaminya sempat memanggilnya dengan nada khawatir. “Dek?”
Tapi Lastri hanya menjawab singkat tanpa menoleh. “Buka helmnya dulu, Mas. Aku mau masuk.”
Begitu tiba di depan pagar kecil kontrakan, Lastri mendapati pintu rumah dalam kondisi terbuka. Lampu ruang depan menyala, dan di sana—tepat di ambang pintu—Galang duduk dengan kepala tertunduk, tubuhnya kaku seakan sedang dimarahi. Di hadapannya terlihat Rina sedang duduk di kursi, satu tangannya bertolak pinggang, jelas tengah melontarkan kalimat-kalimat penuh tekanan.
Rina menoleh ketika menyadari kedatangan Lastri. “Kak Lastri?” ujarnya terkejut. “Kebetulan banget kamu ke sini. Ini Galang…”
Namun sebelum Rina sempat menyelesaikan kalimatnya, pandangan Lastri sudah terarah ke dalam kontrakan, saat itu juga sorot matanya langsung membeku. Bapaknya sedang duduk tidak jauh dari posisi Rina.
Tanpa ragu, Lastri melangkah masuk, lalu menarik lengan adik perempuannya itu. “Sekarang kamu tinggal di rumah aku dulu. Jangan di sini.” Suaranya tegas tak terbantahkan.
Rina terperanjat. “Tapi, Kak—”
“Barang-barang kamu nanti biar diurus sama Mas Damar,” potong Lastri tanpa memberi ruang penolakan.
Seketika, suasana di ruangan kecil itu menjadi beku. Galang terdiam, Rina tercekat, dan Bapak hanya menunduk. Sementara dari sekitar teras, Mas Damar hanya bisa menatap dengan raut prihatin, tak ingin ikut campur.
Rina menahan langkahnya di depan pintu, berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Lastri. “Kak? Kamu kenapa, sih? Lepasin aku!”
Lastri melotot, nadanya meninggi. “Kamu yang kenapa?! Aku kan udah bilang, jangan pernah ketemu sama Bapak lagi. Terus sekarang kamu malah ajak dia tinggal bareng.”
Rina mengelak, matanya tak gentar menatap balik. “Ya emangnya kenapa? Dia kan Bapak aku. Dan dia yang bakal jadi wali nikah aku nanti.”
“Galang yang bakal jadi wali nikah kamu,” balas Lastri cepat, suaranya keras tak mau kalah.