Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami

A. F. Ferdians
Chapter #27

Awal Keretakan

Penghujung tahun 1999. Hujan turun sejak siang dan belum juga reda ketika Raka duduk di balik meja kerjanya yang berlapis kaca. Map-map permohonan izin menumpuk di atas meja, seolah tak pernah ada habisnya. Di luar ruangan, gemuruh petir sesekali menyela suara mesin ketik dan percakapan kecil para pegawai.

Raka menyandarkan tubuh, memijit pelipisnya perlahan. Usianya kini empat puluh satu tahun, tapi gurat lelah di wajahnya tak sepenuhnya datang dari pekerjaan. Seragam dinasnya masih rapi, celana disetrika licin, dan sepasang sepatu mengilap.

Lalu pintu ruangannya diketuk pelan. “Pak Raka, ini berkas dari Kecamatan Sawangan.” Suara itu terdengar lembut.

Tanpa melihat, Raka sudah tahu siapa pemilik suara itu. “Asih, taruh aja di meja sini,” ucapnya singkat.

Asih melangkah masuk, rambutnya masih sedikit basah karena tergesa-gesa kembali dari lapangan. Ia mengenakan seragam ASN muda, kemeja putih dan rok hitam dengan tanda pengenal tergantung di dada. Wajahnya bersih, muda, dan polos. Usianya dua puluh tiga tahun, baru dua bulan bekerja di Pemkot.

“Maaf tadi agak lama, Pak. Staf di kecamatan sempat minta salinan tambahan,” ucap Asih sambil meletakkan map di atas meja.

Raka mengangguk pelan, matanya mengikuti gerakan tangan Asih. “Kamu sendiri yang turun ke sana?”

“Iya, Pak. Soalnya tadi Bu Nurti masih sibuk rekap bulanan.”

Sejenak hening. Hanya suara hujan di luar yang terdengar mengisi ruang.

“Asih,” kata Raka kemudian, nadanya sedikit lebih rendah. “Kamu betah kerja di sini?”

Asih tersenyum kecil, ada canggung yang terselip di raut wajahnya. “Betah, Pak. Tapi memang masih banyak yang harus saya pelajari.”

“Kalau ada yang kamu nggak ngerti, tanya saya aja langsung. Nggak usah sungkan.”

Asih mengangguk. “Baik, Pak.”

Sejenak suasana hening. Raka mengambil pulpen, mencoret beberapa catatan di map, tapi pikirannya melayang. Sejak dua bulan lalu, sejak Asih masuk ke kantor ini, ada sesuatu yang perlahan bergeser dalam rutinitas harinya. Perempuan itu selalu datang paling pagi, selalu menawarkan bantuan meski bukan bagiannya, dan selalu mengucapkan terima kasih bahkan untuk hal-hal sepele.

Hujan baru saja reda saat Raka mengarahkan mobilnya ke gerbang keluar kantor. Jalanan masih basah, sisa genangan di bahu jalan memantulkan cahaya lampu mobil yang baru saja dinyalakan. Langit mulai gelap, jam setengah enam sore, dan udara terasa lebih dingin dari biasanya.

Di seberang halte kecil dekat warung rokok, berdiri sosok berjaket krem sambil memeluk map plastik. Raka langsung mengenali postur itu: rambut dikuncir rendah, sepatu hitam yang agak basah, dan wajah yang tampak menahan gigil. Asih.

Raka menurunkan kaca jendela mobil. “Asih?” panggilnya pelan.

Perempuan itu menoleh, agak terkejut melihat mobil berhenti di depannya.

Raka tersenyum, memberi isyarat dengan tangannya. “Kamu mau pulang?”

Asih mengangguk pelan, ragu. “Iya, Pak.”

“Bareng aja. Saya juga lewat arah sana.”

Asih menoleh sebentar ke arah jalan, matanya menyapu kanan dan kiri, seperti memastikan tak ada rekan kantor yang melihat.

“Nggak usah sungkan,” ujar Raka, nadanya lembut namun tegas. “Hujan baru reda. Cuacanya juga lagi dingin. Nanti kamu malah sakit.”

Akhirnya Asih melangkah pelan ke pintu mobil, membuka dan duduk di kursi penumpang. Tangan kirinya masih memegang map, sementara tangan kanan sibuk menyelipkan ujung rok agar tidak terlalu kusut. “Terima kasih ya, Pak. Maaf merepotkan.” ucapnya.

“Nggak merepotkan, kok. Santai aja,” jawab Raka, lalu melajukan mobil.

Sejak hari itu, entah bagaimana, semuanya berubah menjadi kebiasaan. Kadang Asih menunggu di ujung tangga belakang gedung, kadang Raka yang lebih dulu mencari dengan dalih kebetulan lewat. Mereka tak pernah janjian, tapi selalu ada alasan untuk bertemu di penghujung jam kerja.

Sudah hampir tiga bulan sejak Asih pertama kali masuk ke dalam mobil Raka. Di dalam kantor sendiri interaksi mereka semakin sering dan semakin dekat. Sebagai Kepala Seksi, Raka memang memiliki alasan profesional untuk berhubungan dengan staf administrasi seperti Asih. Tapi tak bisa dipungkiri, frekuensi pertemuan mereka jauh melampaui batas formalitas biasa.

Setiap kali ada surat izin yang perlu diketik ulang, Raka menyebut nama Asih. Setiap kali ada dokumen yang harus dikirim ke ruangan lain, lagi-lagi Asih yang dipanggil. Alasan-alasan Raka selalu terdengar masuk akal, bahkan nyaris tak terbantahkan. Namun, orang-orang mulai memperhatikan. Bukan dengan suara keras, melainkan lewat lirikan mata, bisik-bisik pelan, dan gumaman tak bernama di balik punggung mereka.

Raka tahu itu. Tapi ia tidak peduli.

Hari itu mereka pulang sedikit lebih sore dari biasanya. Jalanan macet, langit menggantung mendung, dan radio mobil sedang memutar lagu-lagu nostalgia era 70-an.

“Pak Raka,” ucap Asih tiba-tiba. Suaranya lembut, tapi cukup jelas terdengar. “Saya mau bilang terima kasih.”

Raka melirik sekilas, lalu tersenyum kecil. “Terima kasih untuk apa?”

“Karena udah beberapa bulan ini saya sering dianterin pulang terus,” ujar Asih, tersenyummalu. “Lumayan. Jadi irit ongkos.”

Raka tertawa pelan. “Ah, itu mah bukan apa-apa. Lagian perempuan secantik kamu masa iya nggak ada yang anter-jemput?”

Asih tertawa kecil, pipinya mulai memerah.

Raka melanjutkan, nadanya sedikit lebih ringan, nyaris seperti menggoda. “Eh, tapi kalau kita lagi di luar kantor gini, terus lagi berdua aja. Boleh dong manggilnya Mas Raka aja? Biar nggak terlalu formal.”

Asih menoleh cepat, tampak ragu. “Mas Raka?”

Raka tertawa lagi. “Iya. Biar suasananya beda aja. Jadi nggak terlalu kaku.”

Asih tersenyum tipis, tampak sedikit canggung. “Iya deh, Mas Raka.”

Kata itu meluncur pelan dari bibir Asih, dan Raka meresapinya dalam-dalam. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya, sebuah kepuasan kecil yang sulit dijelaskan. Tapi sebelum ia sempat menikmati momen itu terlalu lama, dia ingin memastikan satu hal yang penting. “Omong-omong, Asih udah punya pacar, ya?” tanyanya sambil berpura-pura santai.

Lihat selengkapnya