Lastri mendengus pelan. Tatapannya menusuk ke arah Rina. “Kamu lihat sendiri kan, Rin?” ucapnya lirih. “Bapak udah lupa gimana caranya sayang sama kita. Dia bahkan nggak kepikiran kalau yang Mas Sugeng maksud waktu itu, ya kita. Kita bertiga. Anak-anaknya sendiri.”
Rina menunduk dalam diam. Galang hanya mampu menarik napas panjang, tidak mengatakan apa pun. Sementara Bapak masih terduduk di kursi. Bahunya terlihat merosot, tubuhnya tertunduk dalam.
Sampai akhirnya Galang angkat suara, pandangannya menatap lurus ke Bapak. “Mas Sugeng sekarang tinggal di mana?”
Bapak terdiam sejenak. Kepalanya tertunduk, seperti mencari kekuatan dari lantai ruang tamu yang dingin. “Dia nikah sama Asih,” ucapnya akhirnya, suara serak nyaris tak terdengar. “Anak Bapak. Dua. Ikut mereka. Mereka pindah ke kampung halamannya Sugeng. Di Semarang.”
Tak ada yang merespons. Hening kembali menelan ruangan, hanya detik jam dinding yang berdetak pelan di latar.
“Itu kejadian empat atau lima tahun yang lalu,” lanjut Bapak. “Beberapa tahun setelah Bapak pensiun. Penghasilan Bapak jauh berkurang. Sementara Asih…,” Ia berhenti sejenak, sorot matanya kosong. “Orangnya boros. Minta macam-macam. Banyak yang nggak bisa Bapak penuhi. Uang pesangon juga mulai habis.”
Lastri tertawa hambar. “Gimana, Pak? Enak?” katanya, suaranya tajam, nyaris mengejek. “Akhirnya dapet karma setelah Bapak rela ninggalin keluarga sendiri demi perempuan lain yang ternyata malah bikin Bapak susah kayak sekarang.” Tatapannya lurus menusuk ke arah Bapak yang masih tertunduk.
Sementara Bapak hanya terdiam.
Lastri menoleh ke arah Rina yang sejak tadi seperti membeku. “Masih mau kamu nerima Bapak?” tanyanya tajam. “Dia emang orangtua kita, tapi dia udah ninggalin kamu. Dia udah ninggalin aku, ninggalin Galang, ninggalin Ibu.”
Rina mengangkat wajahnya perlahan. “Kalau ini emang balasan dari kesalahan Bapak di masa lalu…,” katanya, menatap Lastri dengan sorot mata lembut tapi tak goyah. “Menurut aku kita harus belajar buat lapang dada buat maafin Bapak. Karena gimana juga dia tetap orangtua kita. Mau seburuk apa pun masa lalunya, dia tetap bapak kita, Kak.”
Wajah Lastri menegang. Bukan sekadar marah, tapi campuran kecewa, dan luka yang sudah terlalu lama disimpan. “Aku bersumpah ya, Rin,” ucapnya lirih tapi tajam. “Kalau kamu tetep milih Bapak jadi wali nikah kamu, aku nggak bakal mau ketemu kamu lagi. Sampai kapan pun.”
Rina terperanjat. “Kamu kenapa jadi egois gini, sih, Kak?” serunya dengan suara bergetar. “Ini kebahagiaan aku. Ini mimpi aku sama Jovan.” Suaranya pecah. Ia mencoba menahan tangis, tapi gagal. “Kamu kakak aku. Seharusnya kamu dukung aku, bukan ninggalin aku cuma karena pilihan yang aku buat!”
Lastri mengembuskan napas kasar. Sorot matanya tajam. “Cukup, Rin,” Ia berbalik, lalu berkata tegas. “Sekarang kamu ikut aku.”
Rina masih berdiri kaku.
Tanpa menunggu jawaban, Lastri meraih pergelangan tangan adiknya, menariknya tegas menuju pintu keluar. “Ikut aku!”
Rina tersentak. Tubuhnya limbung, tapi ia berusaha melawan. “Kak? Apaan, sih?! Lepasin. Aku nggak mau!” serunya, suaranya mulai parau oleh tangis.
“Ikut aku!” bentak Lastri. “Kamu nggak boleh tinggal bareng sama Bapak!” Genggamannya makin erat.
Sesampainya di ambang pintu, Rina menghentakkan lengannya sekuat tenaga sampai akhirnya terlepas. Ia berbalik, wajahnya perlahan basah oleh air mata. “Aku bilang, aku nggak mau!” teriaknya. Suaranya pecah, menggema memenuhi ruangan.
Lastri membeku. Matanya menatap tajam ke arah adiknya, tapi bibirnya kelu. Tak ada sepatah kata pun keluar.
Rina masih berdiri di tempatnya. “Aku kasihan ya, sama kamu, Kak,” ucapnya pelan namun tajam. “Ngeliat kamu masih dipenuhi kebencian kayak gini, yang justru cuma nyakitin diri kamu sendiri,” Tatapannya semakin tajam ke arah kakaknya. “Cuma karena kamu belum bisa berdamai sama masa lalu, bukan berarti kamu bisa jadi penghalang buat kebahagiaan aku. Kamu pikir, kamu lagi nyelametin aku? Padahal yang kamu lakuin ini cuma nyeret aku ke dalam luka kamu sendiri yang belum juga selesai sampe sekarang.”
Lastri masih memperhatikan dengan tatapan tegang.
Kali ini Rina menegakkan tubuhnya. Matanya sudah basah, tapi suaranya tetap tegas. “Aku udah besar, Kak. Bukan anak kecil lagi. Aku berhak nentuin jalan hidup aku sendiri. Jarak umur kita emang jauh, tapi itu bukan alasan buat kamu ngatur hidup aku seolah-olah kamu orangtua aku.”
Melihat perdebatan kedua kakaknya membuat Galang hanya bisa terdiam. Begitu pula dengan Bapak yang masih diam membisu, punggungnya semakin turun, seolah menanggung beban dari setiap kata yang meluncur di antara kedua anak perempuannya itu.
Lastri akhirnya bicara. “Aku ini emang kakak kamu, Rin,” ucapnya tegas. “Tapi sejak Ibu meninggal… sejak hari itu, aku juga jadi orangtua kamu. Padahal waktu itu aku baru lulus kuliah.” Ia mendekat satu langkah ke arah Rina. “Sekolah kamu, kuliah kamu, semua aku yang tanggung. Aku kerja dari pagi, siang, sampe malam. Tahan capek, tahan omongan orang yang nyinyir, nanya kenapa umur segini belum nikah. Semua itu aku lakuin demi kamu. Demi adik kamu.”