Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami

A. F. Ferdians
Chapter #29

Transformasi

Kereta berhenti perlahan di Stasiun Tawang. Suara roda besi yang beradu dengan rel akhirnya menghilang, berganti dengan hiruk pikuk penumpang yang turun satu per satu. Galang melangkah keluar gerbong, menenteng ransel hitam kecil di punggungnya. Angin sore menyapa pelan, membawa aroma khas kota yang asing namun terasa akrab di dadanya—Semarang.

Jam di ponselnya menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit. Langit belum benar-benar gelap, tapi matahari sudah condong dan mulai meredup. Tanpa membuang waktu, Galang memesan ojek online dari area pintu keluar. Tangannya sedikit gemetar saat mengetik alamat yang tertulis di catatan kertasnya dengan tujuan ke rumah Sugeng.

Alamat itu sudah dikantonginya sejak kemarin, hasil informasi yang diberikan oleh bapaknya. Galang tahu keputusannya ini mungkin tidak sepenuhnya disetujui kedua kakaknya, tapi ia merasa harus melihatnya sendiri.

Tak butuh waktu lama, ojek datang dan Galang segera naik. Perjalanan yang seharusnya tidak jauh terasa lambat di kepalanya. Sepanjang jalan, pikirannya melayang, mencoba membayangkan seperti apa wajah pria itu, apa yang akan ia lihat, apa yang akan ia rasakan. Jalanan kota, suara klakson, dan wajah-wajah yang lalu-lalang, semua lewat tanpa benar-benar terekam di pandangannya.

Lokasi tujuannya berada di sebuah komplek perumahan biasa. Tak besar, tak kecil. Terlihat tenang, seperti rumah-rumah lain yang tak menyimpan rahasia. Tapi bagi Galang, justru di balik ketenangan itulah pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menggantung, dan mungkin sebentar lagi ia akan menemukan jawabannya.

Galang meminta turun tepat di depan gapura komplek. Sebuah gerbang besi sederhana yang mulai berkarat di beberapa sudut dengan papan nama kecil bertuliskan nama perumahan yang nyaris pudar. Ia mengucap terima kasih singkat ke driver sebelum menapaki jalanan komplek itu seorang diri.

Langit Semarang mulai berubah warna, keabu-abuan dengan semburat jingga yang menggantung di cakrawala. Suasana sekitar tampak tenang, hanya terdengar suara anak-anak kecil bermain sepeda di kejauhan dan sesekali gonggongan anjing dari rumah yang dilewati.

Di tangannya, ponsel menyala menampilkan arah dari aplikasi peta. Jaraknya hanya seratus meter, tapi rasanya seperti seribu. Galang berjalan pelan. Matanya sesekali menengok ke layar ponsel, memastikan tidak salah jalur. Sementara langkahnya tetap fokus pada jalan di depannya.

Langkah Galang terhenti sepersekian detik saat ujung matanya menangkap sosok yang baru saja melintas dari sisi kirinya. Seorang pria, mungkin usianya hampir lima puluh tahun. Rambutnya tipis, sebagian mulai memutih di pelipis.

Pria itu lewat begitu saja di dekat Galang tanpa menoleh. Tapi entah kenapa Galang menjadi gugup. Ia menoleh, lalu mempercepat langkahnya, pura-pura ingin menyalip. Tapi matanya diam-diam mencuri pandang ke arah pria itu dari samping. Galang ingin memastikan, atau mungkin ingin menyangkal.

Sampai kemudian Galang menyingkir sedikit ke tepi saat sebuah motor melintas dari arah berlawanan. Debu tipis terangkat, mengganggu pandangannya sesaat. Lalu saat motor itu menjauh, langkah Galang justru semakin berat. Pria itu masih berjalan tak jauh di depannya, tak menyadari tatapan yang terus menelusuri wajahnya.

Galang akhirnya memberanikan diri, ia menarik napas dalam-dalam. “Maaf, Pak?” panggilnya, suaranya pelan tapi cukup untuk terdengar.

Pria itu berhenti, lalu menoleh. “Iya?” ucapnya singkat.

Langkah Galang terhenti, tubuhnya kaku di tempat. Sorot matanya menatap lekat wajah pria itu yang sekilas asing, tapi di balik kerutan dan usia, menyimpan siluet yang tak bisa disangkal.

Ingatan itu menyeruak tiba-tiba, menyeretnya ke momen yang selama ini terus muncul di dalam ingatannya. Kilasan kamar mandi sempit, aroma sabun yang menyengat, dan tangan yang menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif. Sosok yang dulu dikenal dengan panggilan Mas Jawa. Namun kini tampak lebih tua, wajahnya juga sedikit lebih berisi, tapi tetap saja pria itu adalah orang yang sama.

Suara Galang keluar perlahan, nyaris tercekik. “Bapak ini apa benar, namanya… Pak Sugeng?”

Pria itu tampak heran. Ia mengernyit sedikit, lalu mengangguk pelan. “Iya, benar. Saya Sugeng. Ada apa, ya?”

Perasaan Galang bergemuruh. Marah, takut, penasaran, dan gemetar bercampur menjadi satu dalam dada yang terasa sesak. Lidahnya kelu, tapi mulutnya tetap memaksa untuk berbicara. “Apa Bapak ingat siapa saya?” Suara itu terdengar asing di telinganya sendiri.

Pak Sugeng terdiam sejenak. Wajahnya seperti sedang mencoba menggali ingatan dari masa lalu yang jauh, sampai akhirnya dia menggeleng pelan. “Maaf, saya nggak ingat. Memangnya kamu siapa? Dan ada keperluan apa?”

Galang menahan napas, mencoba menjaga nada suaranya tetap tenang meski dadanya berdegup kencang. “Kalau yang namanya Raka…” lanjutnya, pandangannya tak lepas dari pria di depannya. “Bapak ingat?”

Lihat selengkapnya