Ayu kembali mengunjungi dinas sosial, tempat Pak Raka tinggal. Kali ini ia datang sendiri, membawa rasa penasaran yang belum tuntas.
Seorang petugas menyambutnya dengan ramah, lalu mengenali wajah Ayu dari peristiwa sebelumnya. Saat Ayu bertanya tentang Pak Raka, petugas itu hanya mengangguk kecil.
“Benar, Pak Raka masih di sini, Mbak. Beberapa hari lalu memang sempat dijemput.
Katanya salah satu anaknya yang ambil. Tapi cuma sehari.”
Ayu mengerutkan dahi. “Cuma sehari?”
Petugas itu mengangguk lagi. “Iya. Habis itu Pak Raka dibawa balik ke sini lagi. Katanya nggak sanggup ngerawat.”
Ayu turut prihatin mendengar kabar itu. Setelah mengucapkan terima kasih kepada petugas tadi, ia melangkah pelan menuju bangku panjang di sudut ruangan, tempat Pak Raka duduk sendirian menatap halaman kecil di luar jendela. Tubuh pria tua itu tampak lebih ringkih dari terakhir kali Ayu melihatnya.
“Pak Raka,” sapa Ayu pelan saat sudah cukup dekat.
Pak Raka menoleh pelan. Sekilas ia tampak bingung, lalu matanya sedikit menyipit, mencoba mengenali sosok di depannya.
“Saya Ayu, Pak. Masih ingat?”
Butuh beberapa detik sebelum Pak Raka mengangguk kecil. “Eh, Mbak Ayu, ya? Iya… iya, saya ingat.”
Ayu tersenyum tipis. “Boleh saya duduk?”
Pak Raka mengangguk lagi.
Ayu pun duduk di sampingnya, menjaga jarak sopan sebelum membuka percakapan dengan suara pelan. “Bapak gimana kabarnya sekarang?”