Mereka Bilang Dia Tetap Ayah Kami

A. F. Ferdians
Chapter #33

Penantian Panjang

“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Jovan Mahesa bin Hardiman, dengan saudari saya, Rina Raka binti Raka, dengan mas kawin berupa emas lima gram dan seperangkat alat salat, dibayar tunai.” Suara Galang terdengar lantang dan jelas, meskipun ada sedikit getar di ujung kalimatnya.

Tanpa jeda panjang, Jovan membalas dengan tegas. “Saya terima nikahnya Rina Raka binti Raka dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Akhirnya sah sudah hubungan pernikahan antara Rina dan Jovan.

Pagi itu, Galang tampil gagah. Ia mengenakan jas hitam dengan dalaman batik bernuansa gelap, dipadukan celana kain hitam. Rambutnya tersisir rapi, peci hitam melekat di kepalanya. Ia duduk di meja utama akad, berhadapan dengan Jovan yang mengenakan beskap putih gading. Sementara di samping Jovan, Rina tampak anggun dalam gaun dengan warna serupa. Di meja yang sama, hadir pula penghulu, para saksi, dan petugas KUA yang akan memimpin jalannya prosesi.

Acara akad nikah dilangsungkan di dalam sebuah gedung sewa yang disulap menjadi ruang yang anggun dan menawan. Kursi-kursi putih berbalut kain satin berjejer rapi, dihiasi pita emas di sandarannya. Karpet cokelat tua membentang menuju pelaminan yang masih kosong, menanti pengantin yang akan duduk setelah sah.

Di meja utama, bunga segar dalam vas bening menghiasi bagian tengah, dikelilingi air mineral dalam botol, kotak tisu, dan map berisi dokumen pernikahan. Lampu gantung kristal di atas mereka memantulkan cahaya hangat, membuat tempat itu terasa lebih intim meskipun cukup ramai.

Sebelumnya, butuh waktu hampir tiga bulan untuk menyelesaikan proses hukum dan administrasi agar Galang bisa menjadi wali nikah menggantikan bapaknya. Prosesnya tidak mudah, melibatkan surat keterangan dari dinas sosial, pemeriksaan latar belakang, dan permohonan khusus ke KUA setempat. Semua dilalui dengan sabar dan penuh kehati-hatian.

Sampai akhirnya tepat seminggu sebelum hari pernikahan, keputusan pun keluar. Galang secara sah ditetapkan sebagai wali nikah untuk kakaknya. Keputusan yang membawa lega, sekaligus menandai lembaran baru bagi keluarga mereka.

Di dalam gedung itu pula hadir Lastri yang duduk di deretan depan bersama suaminya, Mas Damar, serta ibu mertuanya yang tampak anggun dalam balutan kebaya biru tua. Mereka duduk berdampingan, menyaksikan prosesi akad dengan khidmat.

Di sisi lain, tampak sejumlah teman Rina dari kantor yang turut hadir. Mereka tersenyum hangat, sesekali berbisik pelan satu sama lain sambil memotret suasana.

Beberapa kursi di barisan tengah diisi oleh teman-teman Galang. Salah satunya Sagara yang duduk santai, mengenakan batik lengan panjang dan celana kain abu. Ia sesekali mengangguk kecil saat Galang menatap ke arahnya dari kejauhan.

Tak ketinggalan, para tamu dari pihak keluarga Jovan juga hadir. Mereka datang dengan pakaian seragam batik cokelat keemasan, tampak tertib dan menghormati jalannya acara. Suasana gedung dipenuhi kehangatan dan keramahan dari dua keluarga yang kini telah dipersatukan.

Layaknya pernikahan pada umumnya, suasana di dalam gedung terasa hangat, sakral, dan bahagia. Meski di balik peristiwa ini tersimpan sejarah panjang yang rumit, hari itu semua seolah larut dalam doa-doa baik dan senyum tulus dari para tamu.

Lihat selengkapnya