Panggil aku Ishmael.
Begitu yang aku dengar pertama kali dari bibir perempuan itu, ibu yang melahirkanku.
Selain berasal dari nama seorang nabi dengan makna 'Yang didengar oleh Tuhan,' namaku tampaknya terinspirasi dari nama seorang pelaut di kisah Moby Dick si ikan paus.
Jika diterawang soal ibuku yang selalu merasa ia dan pengalamannya selama menunggui hamil itu sebagai 'Perempuan tua dan laut', maka dengan mudah dapat kuterka ibuku pastilah gemar sekali lagu 'Nenek moyangku seorang pelaut'!
Waktu aku lahir, ibuku nyaris pingsan. Menurutnya dia tidak mendengar aku menangis begitu keluar dari rongga tubuhnya.
Aku berusaha mengingat-ingat waktu aku sekecil itu. Aku cuma merasa sedang bermain seperti biasa, di dalam tempat yang baru kutahu namanya rahim, tiba-tiba jendela terbuka dan aku berada di udara!
Dingin pula!
Tentu aku diam saja. Terheran-heran. Kupikir itu kan reaksi yang normal.
Barulah begitu seseorang menepuk-nepuk pipiku (dengan telapak tangan sebesar tameng perang), aku tersadar. Ini waktunya pertunjukan! Waktuku meraung-raung seperti mengumumkan kedatanganku ke alam ini.
Barangkali ada yang bertanya-tanya, "Darimana orok baru lahir kok bisa berkisah sok tahu begini?" Jadi, bolehlah kusisihkan sedikit waktuku yang sibuk sebagai bayi (sungguh lelah untuk telentang dari pagi hingga malam, sampai pagi lagi kan?) untuk memulai penjelasan terlebih dahulu. Kalau ada yang belum tahu, tiap bayi lahir didampingi sebentuk... Err, apa namanya? Aku sebut saja dia, Sang pendamping.
Sang pendamping ini, pendeknya, selain bertugas menjawab semua keingintahuanku soal dunia, kurasa-rasa sejauh ini dia juga hobi sekali mengomentari apapun yang kulakukan. Begini salahsatu contohnya.
Waktu usiaku empat hari, aku merasa sangat, coba kuulangi, SANGAT kehausan!
Lalu aku ambil aba-aba, mengembangkan paru-paruku, dan berteriak sekencang-kencangnya.
Pendampingku bilang apa?
Dia bilang, "Nak, tolonglah, kenapa kau menjerit-jerit begitu?"
"Aku haus! Juga lapar! Amat laparrr," jeritku kesal.