Mereka Sebut Aku Orang Pintar

IyoniAe
Chapter #2

Bab 2. Tamu Tak Diundang

Masuk ke hutan ternyata lebih mudah ketimbang keluar dari sana. Apalagi ketika kau kebelet ingin menjauh dari genderuwo yang menginginkan Thai Tea Boba. Kanan jadi kiri, kiri jadi kanan, kepala jadi kaki, kaki jadi banyak. Segalanya tampak ruwet dan membingungkan. Pohon-pohon seakan tumpang tindih. Menelusuri jalan setapak seolah tengah mengikuti tantangan Ninja Warrior. Penuh rintangan.

Cahaya yang minim, plus perasaan takut kalau tiba-tiba ada pocong ngajak suit, membuatku tersandung batu, terpeleset lumpur, dan adu cepat dengan babi hutan. Pokoknya saking takutnya, aku berlari gila-gilaan sampai nggak peduli ada kuyang yang nanya jalan ke Kalimantan.

Begitu melihat Ibu yang menungguku di jalan masuk hutan, aku mendesah lega. Aku ingin mengadu kalau genderuwo itu menyeramkan, sok gaul, dan memiliki lidah eksklusif, nggak cocok jadi dosen ilmu kebalku. Namun, mulutku begitu kering. Peluh membanjiri tubuhku. Napasku ngos-ngosan, dan kakiku rasanya mau patah. Aku lelah sekali.

Dengan pengertian, Ibu memberiku air kemasan. Kutenggak nikmat-nikmat, merasakan sensasi plong pada tenggorokanku yang perih. Ini bukan iklan, asal kalian tahu.

"Gimana? Sukses, nggak?" tanya ibuku. Sepertinya dia nggak sabar menahan rasa ingin tahunya.

Aku masih belum puas minum. Jadi aku menjawabnya dengan geraman.

"Bagus!" seru ibuku dengan raut gembira. "Ibu yakin, kamu bakal melampaui prestasi bapakmu. Namamu pasti terkenal di dunia nyata maupun dunia gaib. Ibu bangga banget sama kamu." Dia menepuk punggungku. Matanya berbinar-binar ketika berkata. Senyum terbentuk pada wajahnya yang keriput oleh usia. Aku jadi nggak tega untuk jujur padanya kalau geramanku tadi berarti gagal, alih-alih sukses seperti yang disangkanya.

Sebenarnya aku nggak mau menjadi dukun. Aku ingin kuliah. Aku menyukai mesin dan berniat mengambil jurusan Design Mesin untuk mata kuliahku. Aku ingin mendesign pompa air supaya lebih flksibel, seperti penari balet. Atau membuat traktor seramping bodinya Lisa Blackpink.

Aku belum berani berbicara kepada ibuku tentang keinginanku. Aku takut.

Ibu orang yang tegas. Dia juga keras kepala. Boleh dibilang, dia adalah penguasa dalam keluargaku. Bapak saja takut padanya. Apalagi kalau sudah memiliki kehendak, Ibu nggak bisa dibantah. Untuk melunakkan kekeras-kepalaannya itu aku menuruti segala keinginannya. Dia sedang terobsesi menjadikanku penerus Bapak, jadi aku berpura-pura menyanggupinya. Aku berharap jika bisa membuatnya bangga, dia mau membiayai kuliahku. Pasalnya, Ibu juga menjabat sebagai menteri keuangan keluarga. Jadi, saat dia bertanya apa aku berhasil mendapatkan ilmu kebal, aku menjawab,

"Iya, dong, Bu. Siapa dulu? Wiro gitu, lho!"

Omong-omong, aku belum sempat memperkenalkan diri. Namaku Wiro, tanpa Sableng di belakangnya. Dan aku nggak sableng. Oke, kadang-kadang.

Parasku jelas tampan, walau aku belum memeriksanya di cermin lagi. Terakhir kali aku bercermin, cerminku muntah. Iya, muntah! Memuntahkan kata tampan, tampan, tampan. Dan yang pasti, aku nggak pernah berbohong. Oke, kadang-kadang.

Kulitku lebih cerah untuk ukuran cowok dari Suku Jawa, tetapi lebih mendung untuk ukuran Suku Tionghoa. Badanku nggak tinggi-tinggi amat, tapi juga nggak pendek banget. Bagian yang paling kusuka dari tubuhku adalah mata. Jika diperhatikan dengan sungguh-sungguh kesannya seperti wiski, memabukkan. Namun, saat kutanya pendapat teman-teman cewekku, kata mereka mataku mirip mata tukang gendam di jalan-jalan, mencurigakan.

Aku baru saja lulus SMK. Ibarat hewan, aku adalah anak burung yang habis ditendang ke jurang. Aku mesti belajar terbang agar tetap hidup. Namun, merentangkan sayap rupanya nggak semudah merentangkan tangan saat musik SKJ disetel.

Setelah pulang, Ibu menyiapkan air panas untukku mandi. Satu hal yang belum pernah dia lakukan untukku sebelumnya. Namun anehnya, bukannya senang, justru rasa bersalah yang kurasakan. Meski begitu, aku mengabaikannya. Ini kuanggap bayaranku setelah bertarung sengit (baca: lari terbirit-birit) menghindari Mr. Genderuwo.

Begitu menyentuh kasur, aku langsung terlelap. Sialnya, aku bermimpi genderuwo yang kutemui tadi me-review isi sesajenku. Katanya kantilnya layu, dupanya nggak wangi, dan kuning telur kampungnya kurang creamy. Dia memberi sesajenku nilai 1/5 dan nggak merekomendasikannya pada hantu lain. Aku menjerit saat terbangun. Percayalah, mimpi dicium Shifa Hadju lebih indah ketimbang mimpi dikomentari Chef Genderuwo.

"Gimana, Mas, kencan pertamamu sama penghuni hutan? Asik, to?" bisik Anin begitu aku keluar kamar untuk sarapan. Dia terkekeh, mengejekku.

"Asik, gundulmu," jawabku merengut. Aku duduk di meja makan dan seperti sulap, tiba-tiba saja nasi beserta lauk kesukaanku tersaji di depanku.

"Nih, buat anak Ibu yang paling gacor," ujar jin—maksudku ibuku, sembari tersenyum.

"Buatku mana?" tanya Anin penuh harap. Dia duduk di sampingku.

Lihat selengkapnya