Mereka Sebut Aku Orang Pintar

IyoniAe
Chapter #3

Bab 3. Upgrade Skill Dukun

Desa tempatku tinggal ini termasuk desa yang masih terpencil, tetapi nggak terpencil banget. Setidaknya Kang Paket bisa datang ke sini tanpa kesulitan. Jalan utamanya beraspal, walau rusak. Jalan itu diperbaiki waktu pemilu saja. Maklum, calon pemimpin kan harus sok peduli sebelum dipilih. Setelah terpilih ... siapa itu rakyat? Nggak kenal! Fyi, nggak semua pemimpin, sih, tapi kebanyakan begitu.

Desa ini dikelilingi sawah, kebun, dan hutan kecil di beberapa sisi. Sinyal internet ada, meski kadang-kadang ngambek, terutama kalau hujan deras atau mendung tebal. Kebanyakan warganya berprofesi sebagai petani, peternak, dan penjahit. Anak muda ada yang memilih merantau ke kota, tetapi ada juga yang memilih membantu keluarga mengurus sawah. Nggak ada kafe. Warung kopi Mbok Darmi yang terletak di dekat balai desa jadi tempat nongkrong favorit, bukan cuma buat bapak-bapak yang ngeluh harga pupuk naik, tapi juga anak-anak muda yang saling bertukar informasi tentang kembang desa.

Di sini, kalau ada tamu asing—apalagi yang pakai mobil bagus—pasti jadi materi presentasi ibu-ibu waktu rapat.

"Anaknya siapa, tuh?"

"Jadi TKW Dubai pasti, nih!"

"Jangan-jangan konglomerat nyasar."

Selalu ada spekulasi.

Pasar desa cuma buka seminggu sekali pada hari pasaran. Nggak ada Indoapril, apalagi Alfaoktober. Adapun minimarket letaknya di pusat kabupaten, butuh waktu setengah jam perjalanan, kalau ngebut gila-gilaan. Namun, karena aspal pada jalan desa lebih mirip kulit Klenting Kuning setelah diracun saudaranya, ngebut sama artinya dengan bunuh diri.

Malam di desa ini lumayan sepi. Penerangan jalan terbatas. Ada beberapa tiang lampu, tapi kebanyakan lampunya genit, suka kedip-kedip. Selain itu jarak antara tiang lampu satu dengan yang lain agak jauh, kayak hubungan kalian sama mantan.

Suasana mistis masih kental. Oleh sebab itulah, banyak calon dukun yang datang ke desaku untuk berburu ilmu. Ibarat universitas, desaku ini setara dengan UI. Dan tentu saja, bapakku salah satu dosennya.

Hari sudah berganti. Pagi-pagi sekali Ibu membangunkanku. Kemarin Ibu menunggui Bapak seharian. Dia bahkan menginap di rumah sakit. Jadi, kesempatan kedua untuk berbicara serius dengannya belum ada. Aku bisa saja menyampaikan keinginanku lewat pesan WA, tetapi setelah kupikir-pikir itu bukanlah langkah yang tepat. Ada hal-hal yang terlalu penting untuk diserahkan pada gelembung chat. Salah satu huruf saja artinya bisa belok ke mana-mana. Aku nggak mau mengambil risiko itu.

Ibu lantas menyuruhku bersiap-siap ke balai desa. Aku belum tahu alasan Pak Kades memintanya membawaku ke sana. Pikiran burukku bilang bahwa aku akan ditumbalkan untuk pesugihan Pak Kades. Namun, pikiran baikku yakin kalau aku bakal disuruh menikahi anak gadis Pak Kades yang aduhai. Aku berharap pikiran baikku yang benar.

Menggunakan motor butut milik Bapak, aku membonceng ibuku ke balai desa. Salah satu staf Pak Kades menemui kami begitu sampai.

"Gimana? Sudah disiapkan ubo rampenya?" tanya ibuku.

Sang staf yang merupakan seorang pemuda berbadan kekar dengan tato macan di lengan, rambut pelontos, mata yang selalu memelotot, mengangguk. "Siap," jawabnya.

"Ayam ingkungnya?" tanya ibuku lagi, seolah-olah nggak yakin dengan jawaban lawan bicaranya.

Staf bernama Sular, yang dulunya preman berjuluk Bang Sul itu mengacungkan jempol. "Dipanggang setengah matang, sesuai permintaan."

"Bagus." Ibu lantas menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar aku mengikuti.

Balai desa itu luas. Kantornya sendiri membentuk huruf n dengan pendopo di tengahnya. Pendopo tersebut sering digunakan untuk rapat para perangkat desa, penyuluhan program posyandu, upacara penerimaan siswa KKN, dan konser tunggal Pak Kades. Iya, serius! Kalau lagi nyantai, Pak Kades sering karaokean di sana. Aku sering memergokinya ketika lewat sehabis nongkrong di warung kopinya Mbok Darmi.

Lihat selengkapnya