Bagi kalian yang membaca kisah ini, aku ingin berpesan. Seandainya halaman selanjutnya kosong, kalian tahu kan apa yang terjadi padaku? Sebenarnya aku ingin sedikit menulis hal-hal yang puitis untuk perpisahan, tetapi aku nggak sanggup. Setiap hendak menulis kata-kata indah rasanya aku mau muntah. Bukan, bukan karena mencium bau kentut lagi, melainkan karena otakku nggak di-setting dengan diksi-diksi dramatis, romantis, dan meningitis.
Seperti contohnya dulu, ketika adik kelasku menyatakan perasaannya padaku. Waktu itu, dia menarikku ke belakang kelas. Suasana di sana sepi, mendukung sekali untuk mengungkapkan perasaan. Adik kelasku yang manis itu merona saat berkata, "Em ... anu, sebenarnya ... aku ...."
Kurasa dia malu-malu kucing. "Kamu apa?" desakku, karena dia tiba-tiba nggak melanjutkan perkataannya.
"Em ... sebenarnya, aku ...." Dia memelintir ujung rambutnya yang dikucir kuda, badannya goyang-goyang. Dia juga menunduk, membuatku sulit memahaminya.
Seperti yang telah kuutarakan sebelumnya bahwa otakku nggak instal program romantis. Jadi, saat itu aku berpikir dia ingin mengakui dosanya padaku. "Bilang aja terus terang. Sebenarnya kamu pernah ambil bakso lima tapi cuma bayar satu, kan? Nggak apa-apa, kok. Aku juga begitu."
Dia menatapku dengan aneh. "Bukan itu!"
"Lha trus, apa?"
"Sebenarnya ... em .... Sebenarnya aku ... satu kata berjuta makna sama Mas," ujarnya penuh teka-teki.
"Maksudnya?"
"Huruf belakangnya a, Mas. Satu kata penuh makna. Coba Mas tebak."
“Buset! Malah main TTS.” Aku berpikir serius. “Lima huruf?”
Dia mengangguk penuh semangat.
“Ada huruf n di tengahnya?”
Matanya berbinar-binar.
"Oh, aku tahu," ujarku senang. “Pasti tinja, kan?”
Dia malah cemberut. "Kok tinja, sih?" Sepertinya dia kecewa terhadap jawabanku.
"Iya, dong! Itu kan satu kata penuh makna. Misal nih, ada orang hutang sama kita, trus nggak mau bayar dan malah marah-marah ketika ditagih, apa namanya kalau bukan tinja? Koruptor yang udah divonis dan harusnya dipenjara tapi malah enak-enak liburan ke luar negeri, apa sebutannya kalau bukan tin—aduh!"
Dia menendang tungkaiku, lalu pergi. "Ih, ternyata Mas Wiro beneran sableng! Sebel, deh!" serunya.
Aku bingung setengah mampus. Setelah kuceritakan hal itu pada Sugeng, teman baikku, dia malah menertawaiku. Katanya jawabannya adalah ce-i-en-te-a. Tinta.
Tuh, kan, nulis kata itu aja aku nggak becus. Tapi sebagai informasi aja, aku bisa menulis kata sempak, bra, bikini, lingeri, dan sebagainya dengan lancar. Bukan berarti otakku mesum, ya! Oke, dikit.